49 - Berita Duka

63 4 3
                                        

“Iya, maaf ya, Bu, sementara ini libur dulu.”

Entah sudah keberapa kalinya aku menanggapi panggilan dari para orang tua murid dengan penolakan hari ini. Beberapa orang tua murid menghubungiku untuk menanyakan apakah aku masih membuka bimbel selama liburan sekolah seperti biasanya— karena biasanya bimbelku memang nyaris tidak pernah libur bahkan saat libur sekolah.

“Kenapa nggak buka selama liburan lagi, Bu? Soalnya ini Nana mau masuk lagi mumpung libur biar bisa buat persiapan kenaikan kelas nanti,” tukas bu Roya, ibu Nana yang merupakan salah satu muridku tapi sudah vakum lama karena ia merasa kesulitan mengatur jadwal les Nana sejak anaknya masuk SD sebab jadwal les sebelumnya terlalu mepet dengan jam pulang sekolah.

“Iya, Bu, maaf tapi liburan kali ini saya lagi mau liburan dulu,” dalihku.

Liburan macam apa yang ada di rumah sakit, batinku kecut.

Aku memandang ke sosok yang sedang tertidur lelap di sampingku setelah menutup panggilan dari bu Roya di ponselku. Sosok itu kini kurus kering dan tampak tak berdaya. Benar-benar jauh dari sosoknya dulu yang masih sanggup kemana-mana sendiri— bahkan hingga ke luar kota— dengan motor Mio bututnya. Selang infus menancap di punggung tangan kanannya. Celananya sudah digantikan dengan popok dewasa dibalut kain sarung karena otaknya tak sanggup lagi mengirim sinyal buang air.

Sosok itu adalah sosok bapakku.

Sudah beberapa kali bapak periksa ke dokter karena sering mengeluh kepanasan tapi bapak hanya mendapat obat penurun panas dari dokter langganannya sebab suhu tubuhnya sebenarnya normal saja bahkan cenderung dingin. Aku dan keluargaku juga tidak terlalu menanggapi keluhan bapak karena selama ini bapak memang terlihat masih sehat. Hanya nafsu makannya saja yang sedikit berkurang dan jadi agak pemilih padahal biasanya bapak membabat habis apa saja yang disediakan ibu di meja makan. Kami memang sempat menaruh curiga pada perut bapak yang membesar tapi pihak rumah sakit tidak memberikan diagnosa berarti sehingga kami juga tidak cemas berlebihan. Dokter berkata bahwa perut bapak membesar kemungkinan karena cairan dan ia memberi obat yang bisa membuang cairan tersebut lewat urin. Kamipun kembali tenang terutama setelah beberapa hari kemudian perut bapak memang terlihat mengempis. Aku selalu meyakinkan bapak bahwa apa yang dirasakannya karena beban pikirannya. Oleh sebab itu, aku selalu meminta bapak agar sedikit santai, tidak usah memikirkan hal-hal yang tidak perlu.

Ini adalah kali kedua bapak dirawat inap di rumah sakit dalam kurun waktu dua bulan terakhir. Sialnya, hari di mana bapak masuk rumah sakit selalu bertepatan dengan libur panjang sehingga hasil pemeriksaan tidak pernah memuaskan karena dokter hanya visit di hari terakhir rawat inap— batas maksimal rawat inap untuk pasien BPJS hanya empat hari, omong-omong. Namun, tadi siang bapak sudah menjalani USG untuk mengecek keluhannya. Aku hanya berdoa semoga saja hasilnya baik.

“Mee, hala-hala.”

Mir, jalan-jalan.

Tiba-tiba saja bapak bersuara. Ternyata dia sudah bangun dari tidurnya dan terduduk di ranjang sehingga aku segera menghampirinya.

Sejak sakit beberapa bulan belakangan ini kemampuan bicara bapak memang sudah banyak berkurang, memperparah keadaannya karena kemampuan berjalannya yang sudah berkurang karena pincang gegara kecelakaan belasan tahun silam dilengkapi hilangnya kemampuan pendengarannya yang juga berkurang beberapa tahun lalu.

“Kenapa nggak tidur aja?” tanyaku.

“Ak ia idu.”

Nggak bisa tidur.

Aku menghembuskan napas. Sebenarnya tadi aku sudah berencana tidur siang selagi bapak terlelap tapi rencanaku terpaksa harus ditunda karena aku harus memenuhi permintaan bapak. Bapak orang yang keras kepala. Jika keinginannya tidak dipenuhi dia pasti akan nekat. Sehari sebelumnya dia nekat keluar kamar sendiri ketika aku pergi salat. Tentu saja aku langsung pontang-panting mencarinya sambil mendorong kursi roda. Untunglah bapak belum berjalan terlalu jauh dari kamar rawat inapnya.

The Course Jilid Dua | TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang