Aku melirik ke arah kaca di luar, titik-titik air mulai berjatuhan kemudian menjadi cepat hingga mulai mucul banyak orang yang berlarian untuk berteduh di luar cafe. Hanya berteduh, tanpa masuk ke dalam.
"Widih, semangat bener nih yang mau nyanyi buat pacar."
Aku menoleh ke arah Bintang yang baru datang dengan gitarnya. "Iri ya lo gak ada yang nyanyiin."
"Buset sombong bener. Biasanya yang sombong gini hubungannya gak ada seminggu sih," katanya mengejekku.
Mataku langsung melotot dan refleks memukulnya. "Mulut lo gue sumpel pake payung ya."
Dia terkekeh pelan. "Cowok lo jadi dateng? Udah lo kirimim alamat cafe-nya kan?"
Aku menggeleng pelan. "Belum, nanti aja. Katanya dia lagi ada acara sama temennya. Takutnya gue terkesan ngeburu-buruin dia."
"Temen apa temen."
Aku meliriknya tajam. "Gak usah bacot lo, Bin."
Aku tidak mungkin menaruh curiga pada Edgar yang baru saja menjadi pacarku dua hari yang lalu. Gila aja kalau dia berani macem-macem dengan 'teman'-nya itu. Akan kulibas dia sampai jadi molen.
"Di luar hujan ya?" Kali ini aku menoleh pada Bagas yang baru selesai mengatur drumnya di atas panggung dari gudang belakang. Karena ini merupakan cafe milik salah satu keluarganya, jadi ia bisa lebih dulu membawa barang-barang miliknya daripada yang lain.
"Hm, waktu-waktu dibutuhkannya selimut hidup," timpalku.
"Sini gue selimutin, Gas." Bintang menyahuti di sampingku sambil merentangkan tangannya ke arah Bagas.
"Najis lo maho, jauh-jauh dari gue."
Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah teman-temanku yang otaknya hilang setengah ini. Kadang aku juga heran, bagaimana bisa aku berteman dengan mantan para penghuni rumah sakit jiwa ini.
Aku menghela nafas kecil, hujan semakin deras di luar, dan perasaanku menjadi sedikit tidak enak. Aku gugup, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa gelisah saat menyayi. Kini, perasaanku semakin tidak enak ketika aku menangkap siluet yang familiar di luar kaca jendela.
Meski tertutup embun air hujan, aku tahu postur tubuh seseorang yang baru saja keluar dari mobil berwarna hitam itu. Semakin jelas, hingga muncul wajah Edgar di sana. Tunggu ... Edgar? Dia datang ke cafe ini lebih cepat? Bukannya aku belum mengirimkan chat apapun kepadanya dari tadi pagi?
"Eh, itu cowok lo gak sih?" Suara Bintang di sampingku membuatku semakin yakin bahwa aku benar-benar tidak salah lihat.
Aku baru saja ingin berdiri, menghampirinya ke luar, sebelum mataku menangkap seseorang yang baru saja dibukakan pintu oleh Edgar. Langkahku terhenti, bibirku terkatup rapat.
Itu Marsha.
Jadi 'teman' yang Edgar maksud itu Marsha?
***
Edgar Rasyad
NaKamu jadi manggung kan?
Dimana? Kok gak ngirim alamatnya?
Nanananannana??
Yuhuuuuuuuu
Bebbb
Ayangggg
Na aku bukan dora yang kalau gak tahu alamat bisa tanya peta
Apa aku harus jadi dora dulu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Stupid In Love
Teen FictionYuana tidak manyangka hari-harinya akan berubah sejak sosok Edgar si cowok absurd itu tiba-tiba menyatakan perasaan padanya. Malah dia nekat menunggu jawaban darinya selama satu bulan. Walau begitu, apakah satu bulan itu benar-benar waktu yang cukup...