Suara alunan musik yang keras membuat tubuh Chika bergoyang, wajahnya panas karena mabuk.
Tubuh Chika meliuk-liuk, membuat beberapa orang yang juga ada di club memperhatikannya dengan tatapan lapar.
Di tengah keseruannya menari tiba-tiba seorang pria mendekat kearah Chika, tubuhnya yang tertutupi jaket kulit menghimpit Chika.
Chika terhuyung kebelakang, dengan setengah sadar dia mendorong pria tersebut kuat.
"Tolong menjauh, kulitku sensitif dengan pria hidung belang" Teriak Chika tepat di telinga pria yang menghimpitnya
Mungkin karena malu pria itu mendengus sebelum pergi mencari wanita lain yang lebih bisa di ajak bersenang-senang.
Chika kembali menari, dia hanya berhenti setelah merasa haus. Langkah kaki Chika tidak stabil saat dia berjalan kearah toilet alih-alih menuju meja memesan minuman.
Suara kran air yang dibuka terdengar, Chika menundukkan wajahnya dan membasuh muka berharap rasa pusing dan kepalanya yang terasa berat hilang.
Setelah selesai Chika kembali keluar tapi kali ini dia hanya duduk di sudut dan menyesap segelas koktail yang pahit.
"Javin sialan..." Racaunya, air mata mengalir deras.
Tidak ingin terlihat lemah tangannya dengan kasar menghapus air matanya.
Chika kembali meneguk minuman di gelasnya dengan sekali tegukan, tenggorokannya terasa panas.
"Boleh gabung?"
Seorang pemuda duduk didekat Chika, penampilannya yang rapi dan terkesan nakal memberi kesan baik pada Chika.
Chika mengangguk, mata cokelatnya lalu beralih ke arah lantai dansa dimana orang-orang menari dengan panas.
"Namaku Joy, kamu?"
Joy, pria muda disamping menyodorkan tangannya tapi Chika menolak dan tersenyum sinis.
"Berhenti menggangguku, urus urusanmu sendiri!"
Chika benar-benar mabuk, tangannya yang menepuk pundak Joy begitu lemah.
"Kamu mabuk..." Ucap Joy.
"Aku tahu, minggir!" Chika bangkit dari duduknya, dengan tubuh sempoyongan dia berjalan keluar club, Joy yang merasa khawatir mengikutinya dari arah belakang.
Chika sama sekali tidak menyadari keberadaan Joy yang mengikuti di belakangnya. Saat berada di parkiran, matanya yang berkunang-kunang melihat sekeliling.
Joy tidak tahan lagi, jadi dia mendekat.
"Aku akan pesankan taxi" Ujarnya.
Mata Chika menyipit, kepalanya menggeleng kuat berusaha tetap terjaga dari mabuknya.
"Aku punya mobil, tidak perlu"
"Tapi kamu mabuk, anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena berbagi meja"
Joy merogoh ponselnya dan memesan taxi. Chika yang semakin mabuk terhuyung dan memeluknya.
Tubuh Joy menegang, dengan ragu-ragu tangannya bergerak menahan bobot tubuh Chika agar mereka berdua tidak jatuh.
15 menit berlalu...
Taxi yang Joy pesan akhirnya tiba.
"Hey, taxi-nya sudah datang..." Joy mengguncang tubuh Chika.
Chika menyipitkan matanya.
"Ohhh, thanks. Aku pulang dulu"
Joy tersenyum simpul, dia membantu Chika untuk masuk ke dalam taxi. Sebelum duduk, Chika menoleh ke arahnya dan tanpa sadar melumat bibirnya.
Pupil mata Joy melebar, tubuhnya diam dan tidak bergerak sama sekali.
Sedangkan taxi yang membawa Chika sudah bergerak menjauh.
•••
Cahaya yang menyilaukan dari sinar mentari membangunkan Chika. Matanya bergerak pelan lalu terbuka perlahan.
"Isshhh..."
Chika meringis sambil memegangi kepalanya yang berdengung seolah akan pecah. Dengan tubuhnya yang lemah dia bangun dan menyibak selimut yang menutupi separuh tubuhnya.
Ceklek!
Pintu kamar Chika terbuka, sosok kakeknya dengan wajah berat masuk.
"Pagi kakek..." Meski kepalanya seakan meledak Chika tetap tersenyum lebar menyapa kakeknya.
"Javin selingkuh?"
"Hah?"
"Beritanya sudah menyebar, kenapa tidak memberitahu kakek dan justru mengacau di restoran semalam?"
Mata cokelat Chika melebar sempurna, dia menggeleng mengelak ucapan kakeknya.
"Kapan? Aku semalam tidur di rumah"
"Kakek yang menggendongmu pulang!"
"Kakek yakin?"
"Maksudnya?"
Chika tersenyum kikuk.
"Aku terlalu banyak minum kek, maaf..."
"Huh, lupakan. Sekarang jelaskan tentang Javin. Apakah benar dia selingkuh? Dan itu dengan Jessi?"
"Kakek tahu darimana?"
"Berapa kali kakek harus bilang kalau semalam kamu mabuk dan memberitahu semua pengunjung di restoran! Sekarang semua media sosial membicarakan ini"
Mulut Chika melongo tidak percaya. Dengan rasa ingin tahu yang besar dia meraih ponselnya yang berada di dalam tas dan membuka media sosialnya.
Chika membekap mulutnya sendiri tidak percaya. Di salah-satu akun sosial medianya tersebar video dirinya yang bercerita panjang lebar tentang sahabat dan tunangannya yang berselingkuh di belakangnya. Banyak orang yang mencekam tindakan Javin dan Jessi, tapi tidak sedikit juga yang membenci aksi Chika.
Itu karena Javin adalah selebritis terkenal dengan banyak penggemar.
Karena videonya beberapa penggemar Javin dengan liar mencari tahu siapa dirinya.
Javin yang tidak ingin di salahkan sendiri beralasan, jika dia dan Jessi bersama karena Chika memberinya ruang.
Chika tidak selalu ada...
Chika posesif dan egois...
Chika menuntut begitu banyak...
Penggemar Javin marah saat membacanya, mereka dengan tegas memboikot restoran milik keluarga Chika dan mengecam siapapun orang-orang yang datang ke restoran Chika untuk makan.
Hanya dalam semalam rating di restoran Motonui menurun, membuat restoran bintang lima tersebut tidak lagi terlihat megah. Beberapa pengunjung yang telah memesan meja khusus untuk acara penting membatalkan secara sepihak.
Chika merasa kepalanya seolah ditusuk paku besar. Dengan pandangan takut dia menatap kakeknya.
"Kakek ingin pensiun, restoran Motonui akan dikelola kamu sekarang"
"Kakek tapi aku---"
"Restoran jangan sampai bangkrut, ini ulahmu"
"Tapi kakek itu sudah bangkrut"
Kakek Chika tidak peduli, setelah memberi ultimatum pada cucunya dia berjalan keluar dengan wajah kecewa.
"Javinnnn" Tangan Chika terkepal erat.
Dia adalah korban tapi kenapa justru dirinya yang paling menderita!?
Chika meraup rambutnya frustasi, rahangnya bergoyang karena marah dan gusar.
Meski enggan, Chika dengan setengah hati menerima perintah kakeknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cooking Love (ChikaxAra)
TienerfictieYessica Motonui harus memutar otak agar restoran keluarganya tidak tutup karena bangkrut yang di sebabkan oleh dendam sakit hati Javin, mantan tunangannya. Di saat restorannya berada di ujung tanduk, tiba-tiba seorang chef muda bernama Gistara Ran...
