"Nah, udah selesai..."
Chika meniup tangan Ara yang terluka sebagai sentuhan terakhir sebelum dia beranjak membawa peralatan obatnya ke dapur.
Ara yang tidak ingin kehilangan bayangan Chika mengekor di belakang. Chika menyadari itu tapi dia sama sekali tidak keberatan dan tetap diam.
Kreekkk...
Suara pintu lemari yang dibuka terdengar, dengan hati-hati Chika memasukan kotak peralatan obatnya ke dalam lemari lalu menutupnya.
Chika balik badan dan menghadap pada Ara yang hanya berjarak tiga langkah darinya.
"Gak pulang?" Tanyanya.
Ara menggaruk alisnya, berusaha mencari alasan agar tetap tinggal disekitar Chika.
"Tanganku sakit..." Katanya kemudian.
Chika mengangguk lalu bersedekap dada.
"Lalu?"
"Kunciku hilang" Bohong Ara dengan wajah lurus.
"Inget-inget lagi kamu nyimpennya dimana"
Ara terdiam, merasa bingung dan tidak tahu harus membalas apa lagi.
"Gistara udah malam, aku mau tidur sekarang"
"Oke...kamu berani tidur sendiri gak?"
"Berani, aku udah tidur sendiri sejak bayi"
Ara kalah.
"Aku pulang dulu, makasih..."
"Iya sama-sama Ara"
"Hemm aku pulang sekarang yah"
"Iya Ara"
"Ini aku mau pulang"
"Tutup pintunya yah" Chika tersenyum tipis, hal itu membuat Ara menghela nafas panjang dan dalam.
Ara melangkah keluar dari area dapur.
"Selamat malam Gistara..."
"Malam juga Chika..."
Langkah Ara berat saat dirinya berjalan melewati ambang pintu apartemen Chika. Chika dibelakangnya mengangkat sudut bibirnya, menahan ketawa.
Chika tahu jika Ara ingin tinggal lebih lama dilihat dari gerak-geriknya, tapi Ara terlalu tsundere dan tidak ingin mengatakan itu.
Pintu apartemen Chika akhirnya tertutup, menyisakan Ara yang berdiri sendirian di lorong sepi.
Ara menatap tangannya yang sudah dibalut perban lalu melihat kembali pada pintu apartemen Chika, rahangnya mengeras karena kesal.
Ara mengoceh jauh di dalam hatinya dan terkadang mencemooh Chika. Dia yakin jika Chika tahu niatnya ingin tinggal lebih lama di dalam tapi Chika sengaja melakukan ini padanya dan membuat dia terlihat bodoh.
Karena Chika tidak akan keluar apalagi memintanya untuk menginap di sana, Ara dengan perasaan gondok berjalan menuju pintu apartemennya sendiri.
Di dalam apartemen Chika...
Chika mendekatkan telinga kanannya ke arah pintu, ingin mendengar apa yang Ara lakukan di luar. Akan tetapi sudah beberapa menit dan masih belum ada suara apapun.
"Serius dia gak mau ngetuk pintu?" Gumam Chika jengkel.
"Katanya mau berusaha biar aku suka, kalau cuma kayak gini mau dikasih waktu setahun juga gak bakal berhasil" Chika merasa dongkol, dia memundurkan wajahnya lalu berjalan ke arah sofa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cooking Love (ChikaxAra)
Teen FictionYessica Motonui harus memutar otak agar restoran keluarganya tidak tutup karena bangkrut yang di sebabkan oleh dendam sakit hati Javin, mantan tunangannya. Di saat restorannya berada di ujung tanduk, tiba-tiba seorang chef muda bernama Gistara Ran...
