Kita awali dengan kapal ini dulu
*-*
Shani terus memanjat pohon, berusaha untuk kabur dari kejaran.
Ia berhasil sampai di dahan tertinggi dan cukup kokoh untuk dirinya menggapai sisi dinding.
Dirinya menghitung sampai tiga namun saat ia akan melompat, kaki nya tertahan oleh tangan seseorang.
"turun Shani Indira"
"Tidak, lepaskan kaki saya"
"turun!"
"Tidak, kamu tidak berhak melarang ku"
"turun atau aku benar-benar akan menarik mu jatuh"
Shani menghiraukan kalimat Gracia dengan menghentakkan kaki nya, menendang-nendang.
Gracia menguatkan cengkraman nya pada dahan pohon dan kemudian menarik kaki Shani.
Shani kehilangan keseimbangan nya dan gadis itu benar-benar terjatuh.
Namun dibawah sana sudah ada bantalan agar tidak terjadi hal yang serius pada keduanya jika terjatuh.
Shani mengaduh ketika dirinya mendarat.
Begitupun dengan Gracia namun dengan cepat ia bangkit lalu membawa Shani menuju kamar gadis itu.
Gracia kembali mengunci dan pergi meninggalkan Shani.
Namun keesokkan hari nya Shani kembali lolos hingga Gracia benar-benar merasa kesabarannya sudah diambang batas.
"ini, peringatan terakhir dari saya..."
Penekanan yang tertera jelas pada kalimat dan aura yang di keluarkan Gracia tidak membuat Shani merasa gentar.
"jangan harap kamu bisa keluar dari rumah ini, kamu mengerti?!"
"tidak! saya akan terus mencoba lari dari sini!"
"silahkan saja dan terima konsekuensi nya"
Shani melunakkan raut wajah dan nada bicara nya.
"saya harus pulang, saya harus!, adik saya sudah menunggu di rumah..."
"alasan kamu tidak saya terima!"
Gracia yang berbicara dengan amarah nya berjalan keluar lalu menutup pintu dengan kencang.
Membuat Shani yang berada di dalam kamar tersentak terkejut.
Ia kemudian terdiam memandang keluar jendela.
Bulan yang bersinar terang ditemani bintang-bintang.
Gadis itu mengepalkan tangan nya dan mulai kembali berfikir untuk menemukan jalan keluar dari rumah Gracia.
Sedangkan di sisi lain Wanita tadi kembali disibukkan dengan berkas-berkas pekerjaan nya.
Ketukan pintu terdengar dan munculah seorang wanita di sana.
"ada apa?"
"kamu melewati batas tadi"
Gracia menghela nafas.
"ya, saya tahu"
"kamu tidak mau mencoba mengikuti keinginan nya, walau hanya sekali? kamu bisa ikut ke rumah nya untuk mengawasi 'kan?"
"jika aku tidak bisa bagaimana? saya akan langsung kehilangan dia Sisca"
Kini Sisca yang menghela nafas.
"kamu bisa memberinya pengerti-"
"cukup, keluar, sebelum saya benar-benar memecat kamu Sisca" ucap Gracia sembari membaca berkas di tangannya.
