✨HAPPY READING✨
-
-
-
-
Sontak aku berbalik ke belakang karena kaget, kulihat seorang wanita paruh baya yg sepertinya penduduk disana.
"Nyari Mas Archello ya, mbak?
"Umm i-iya bu, tapi kayak nya lagi gaada di dalem ya? Apa mungkin lagi tidur dia nya"
"Bukan mbak, Mas Chello emang udah ninggalin rumah ini dari beberapa hari yg lalu"
"Apa? Yg bener bu?, terus sekarang pindah kemana?"
"Gak tau sih mbak, dia gak ngomong apa² sama saya"
"Tapi dia ada ngasih nomor baru nya gak ke ibu? Soalnya saya telepon gak aktif mulu, takutnya ganti nomor"
"Emm engga ada tuh, mbak"
Mendengar itu aku hanya bisa terdiam mematung dengan fikiran yg campur aduk, mau nyari kemana lagi? Nyari ke apartemen Deket kampus nya? Hei, jarak nya saja sangat jauh dan gimana kalo hasilnya tetep nihil? Bahkan waktu pun saat ini sedang mengejarku.
"Mbak nya gpp?"
"Ah, e-engga gpp kok bu, makasih ya"
Sesampainya di rumah, tanpa basa basi aku langsung berlari memasuki kamar ku, dan menguncinya.
*My boy💐*
13:00
Archello, kamu kemana?🥺 |
Kamu jahat. Kenapa gak kasih aku |
Kesempatan buat nemuin kamu dulu?
bahkan cuma satu menit juga gpp, chell.
23:30
Hai, chello. Malam ini adalah malam terakhir |
Lauren disini, di kota yg tentunya banyak
sekali Kenangan Chello sama Lauren.
di manapun kamu berada, aku harap |
Kamu selalu baik² aja yaa, jangan suka
Ngebut² lagi kalo bawa motor, hehe.
00:00
Satu permintaan terakhir aku buat kamu |
Tolong hadir di mimpi aku malam ini ya, chell,
Cuma malam ini kok.
06:00
Haiii, chell. Sekarang Aku udah di |
Perjalanan, maafin aku yaa aku
gagal nemuin kamu:)
~~~~~~~~~~
*Flashback*
Archello pov.
"Rasanya gak tega banget liat Lauren nangis teriakin gue kayak tadi, tapi kalo gue terus disana yg ada malah makin memperburuk situasi, maaf ren gue gabisa ngasih yg terbaik buat lo, maaf udah hadir dan ganggu hidup lo. Gue yg nunggu lo lulus dan harapan kecil gue bisa sekampus sama org yg gue sayang, ternyata cuma mimpi. Dan sekarang harapan terakhir gue semoga lo selalu baik² aja tanpa gue
Andai waktu itu gue lebih milih mencintai lauren diam² tanpa perlu nyatain perasaan gue ke dia, mungkin sekarang kita gak bakalan kayak gini. Maafin gue, ren. Ini semua salah gue."
Batinku sembari menjalankan motor dengan kecepatan tinggi serta tatapan kosong dan air mata yg sudah tak terbendung. Bumi seolah tau dengan keadaan ku sekarang, kini air hujan mulai turun dari langit membasahi seluruh tubuhku, semakin ku lajukan motorku dengan cepat tanpa ingin berteduh sebentar pun.
Tatapan kosong ku seakan langsung tersadar melihat seseorang sedang melintas di hadapanku yg hanya berjarak beberapa meter saja. Ku banting stang motorku ke samping dan *BRUKK!!* Aku hanya terkapar lemah merasakan cairan hangat berwarna merah keluar disela² luka dari tubuhku. Hingga akhirnya tubuhku mati rasa dan tak sadarkan diri.
*Selang beberapa jam*
Ku buka mata dengan sangat perlahan karena rasa sakit di kepala yg seperti ditusuk sesuatu, badan terasa seperti sudah remuk. Kulihat selang infus yg terhubung dengan tangan ku. Rumah sakit? Tentu. Meski aku kuliah di kedokteran dan sudah beberapa kali praktik di rumah sakit mengobati semua pasien, tapi hanya hari ini kali pertamaku masuk rumah sakit untuk mengobati diriku sendiri.
Kulihat seorang wanita berpakaian serba putih dan mengenakan masker itu menghampiri ku membawa wadah berisi nasi, dan beberapa sayuran.
"Akhirnya mas nya udah sadar"
"Ini dimakan dulu ya mas, sama kalo udah selesai makan, obat nya diminum ya"
"makasih, sus."
"Umm, sus saya boleh minta tolong gak ?"
"Minta tolong apa mas?"
"Ng, bisa tolong ambilin hp saya di saku jaket yang saya pake sebelumnya gak sus?" ucapku merasa tidak enak.
"Oh itu, tapi.. hp mas nya udah gak nyala lagi bahkan udah remuk banget mas"
Mendengar itu aku hanya bisa menghela nafas, aku khawatir dengan Lauren, aku ingin tau kabar nya sekarang, aku ingin menelponnya.
~~~~~~~~~~~
Tidak mau berlama², Hanya satu hari aku terbaring di kasur rumah sakit aku sudah memaksakan diri untuk pulang ke rumahku meski dokter disana menyarankan ku untuk jangan dulu pulang karena perlu penyembuhan yg lebih intens.
Saat ini, aku hanya berbaring di sofa di dalam rumahku mencerna semua kejadian yg terjadi belakangan ini. Aku kembali teringat dengan gadis kesayanganku, rasanya ingin sekali aku menelponnya, apalah daya, Hp ku sudah lenyap waktu itu. dan bukan tentang seberapa mahal harganya tapi kenangan yg ada di dalamnya.
Hari hari telah berlalu tapi tubuh ku rasanya masih belum lekas membaik, fikiran yg terus berbelit, kesepian, hampa, rasanya kehidupan ku sudah hilang saat ini. Aku berniat untuk pulang ke rumah ibu ku yang cukup jauh dari sini dan meninggalkan rumah ini, siapa tau dengan tempat baru aku akan dengan cepat bisa lupakan Lauren, meski sepertinya itu mustahil. Tapi sebelum pergi aku ingin menemui lauren untuk yg terakhir kalinya, Aku mencintainya tapi aku juga sadar diri, dan aku tidak akan menggangu nya lagi setelah ini.
Setelah bersiap dan pergi meninggalkan rumahku, aku langsung menuju rumah Lauren, sesampainya di depan gerbang aku tidak sengaja melihat 2 orang didalam sana, lalu ku tajamkan pendengaran ku dan sedikit mengintipnya dari celah gerbang.
"Udah dong jangan cemberut gitu"
"Tau ah!"
"Mana anak papa yg ceria kayak dulu lagi"
"Gak tau!"
"Kamu mau apa sayang? Nanti papa belikan, apapun itu, asal jangan ngambek² lagi"
"Gak mau!"
"Udh ah jangan kayak gitu mukanya tuh jadi jelek iiii" ledek papa.
"Papa ihhh" rengek Lauren
"Makanya jangan cemberut mulu" papa menggelitik lauren hingga membuat lauren yg tadi nya cemberut jadi tertawa.
Aku hanya memperhatikan mereka dan tersenyum kecil ,tapi munafik jika aku tak merasa sedih.
"Bahagia liat kamu senyum, ren. Semoga kamu terus baik² aja ya" batinku dan mengurungkan niat ku untuk menemuinya karena tidak ingin merusak keadaannya lagi.
"Selamat tinggal ren" aku melajukan motor ku meninggalkan kota itu menuju rumah ibu ku.
KAMU SEDANG MEMBACA
You Or Him
RomanceMengikuti seorang gadis remaja bernama Lauren yang hidup dibawah tekanan seorang ayah yang tegas, bahkan ketika pertama kalinya ia memulai hubungan asmara dengan seseorang bernama Archello, dengan terpaksa harus memutuskan hubungannya demi menjadi s...
