"Genji!!" Entah sudah berapa kali Reika meneriaki nama Genji. Tapi pemuda itu sama sekali tidak keluar dari kamar.
Reika meletakan sayur yang baru ia masak di atas meja makan. Lalu berjalan dengan kesal ke kamar.
"Kau mau bangun jam berapa?! Nanti terlambat" Reika membuka pintu dengan kencang. Dan pemuda yang ia teriaki dari tadi baru keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk.
"Kau harus belajar sabar sayang" ujar pemuda itu sambil berjalan dengan santai ke lemari pakaian.
"Setidaknya kalau dipanggil itu jawab, Genji" Reika memutar bola matanya dengan malas. Tinggal serumah ternyata sebuah mimpi yang sedikit buruk? Ya karena Reika tidak bisa bilang ini mimpi buruk, karena tinggal bersama juga hal yang menyenangkan.
"Iya maaf" Reika kembali menutup pintu kamar dengan keras lalu berjalan ke arah lemari.
"Aku sudah bilang untuk memilih baju yang akan kau gunakan di malam sebelumnya"
"Kau benar-benar istri yang cerewet" Genji dengan gemas mengecup pipi Reika.
"Pakai ini" Reika mengeluarkan sebuah baju dan juga celana untuk Genji gunakan hari ini.
"Bukankah ini terlalu kentara?" Genji menerima pakaian yang Reika berikan.
"Kentara apanya?"
"Warna bajunya" saat itulah Reika sadar, kalau warna baju dan celana yang ia berikan pada Genji matching dengan yang ia kenakan.
"Jadi maksudmu kau tidak mau pakai pakaian dengan warna yang sama denganku?"
"Kan kau bilang ingin merahasiakan, kalau begini kan jadi kentara sekali"
"Sudahlah pilih saja sendiri pakaian yang kau mau pakai" Reika lalu keluar dan membanting pintu kamar dengan kuat.
"Oke, salah lagi" Genji memijat pelan pelipisnya. Sepertinya tamu bulanan Reika akan segera datang itu sebabnya ia sensitif sekali.
Dengan cepat Genji bersiap-siap. Tapi saat ia keluar Reika sudah tidak ada. Sepertinya dia merajuk dan berangkat lebih dulu.
•°•°•
"Kau sendiri? Dimana pak suami?" Minori menyenggol pelan lengan Reika yang duduk disampingnya sambil makan sandwich.
"Tidak tau, tidak peduli" jawab Reika dengan ketus.
"Apa lagi yang kalian ributkan kali ini?" Kiyohide menggelengkan kepalanya. Jika sudah seperti ini tandanya Reika dan Genji sedang bertengkar.
"Aku hanya memilih pakaian untuk dia pakai, tapi karena warnanya sama dia jadi tidak mau memakainya" Reika mengomel dengan sandwich yang masih penuh didalam mulutnya.
"Telan dulu kau bisa tersedak" Shinciro menyodorkan botol air mineral yang sudah ia buka.
"Thancu" Reika menerima botol itu dan minum.
"Tapi kan semuanya idemu untuk merahasiakan hubungan kalian. Kalau mendadak muncul dengan baju yang mirip bukannya akan jadi bahan pembicaraan?"
"Untuk apa juga orang curiga, tinggal bilang saja ini kebetulan apa salahnya?" Oke lebih baik tidak perlu menjerumuskan diri ke dalam jurang. Lebih baik diam dan cari aman saja.
"Genji itu memang sangat menyebalkan, aku akan memarahinya kalau ketemu" Minori mengelus rambut Reika pelan.
"Setelah ini kalian masih ada kelas?" Tanya Shinciro.

KAMU SEDANG MEMBACA
MY HUSBAND GENJI
Fanfictionudah baca my boyfriend Genji belum? jadi inilah season 2 untuk cerita sebelumnya. jadi bagaimana kisah rumah tangga pasangan muda Reikà dan juga Genji? apalagi mereka yang dengan sengaja