Setelah merawat Lucian semalaman, Seraphina merasa lega melihat Lucian mulai pulih meskipun perlahan. Namun, cobaan yang mereka hadapi belum berakhir, dan tantangan baru siap mengguncang hubungan mereka.
Hari-hari berikutnya, kondisi Lucian semakin memburuk. Gejala-gejala yang awalnya ringan seperti sakit kepala dan kelelahan berubah menjadi demam tinggi, mual, dan lemas yang berkepanjangan. Meski sudah mendapatkan perawatan medis, kondisi Lucian tampaknya tidak kunjung membaik.
Ketika musim gugur bergulir ke musim dingin, komunikasi antara Lucian dan Seraphina semakin jarang. Pesan-pesan yang biasanya cepat dibalas oleh Lucian kini sering terabaikan atau hanya dijawab singkat. Seraphina merasa semakin cemas dan kesepian, merasakan jarak yang semakin besar di antara mereka.
Di sisi lain, Lucian merasa terperangkap dalam tubuhnya yang lemah. Setiap kali dia mencoba untuk menjelaskan keadaannya kepada Seraphina, dia merasa terlalu lelah atau sakit untuk merangkai kata-kata. Kesulitannya dalam berkomunikasi membuatnya semakin frustrasi dan merasa bersalah.
Suatu malam, Seraphina mengirim pesan kepada Lucian, berharap mendapatkan balasan yang bisa menenangkan hatinya.
"Lucian, apa kabar? Aku sangat merindukanmu. Tolong beri tahu aku bagaimana keadaanmu."
Pesan itu tetap tidak terbalas hingga pagi tiba, membuat Seraphina merasa semakin khawatir dan sedih. Dia mulai bertanya-tanya apakah Lucian masih peduli padanya atau apakah penyakit itu telah membuatnya lupa akan cinta mereka.
Sementara itu, di Lunaria, Amara semakin dekat dengan Lucian, menawarkan bantuan dan dukungan di saat-saat sulit. Kehadirannya menjadi sinar kecil dalam kehidupan Lucian yang penuh kesakitan, tetapi hal ini tidak luput dari perhatian teman-teman mereka yang mulai berbicara di belakang mereka.
Desas-desus tentang kedekatan Lucian dan Amara akhirnya sampai ke telinga Seraphina melalui media sosial dan pesan dari teman-temannya. Seraphina merasa bingung dan cemburu, tetapi dia tidak tahu bagaimana mengkonfrontasi Lucian tentang hal ini tanpa terdengar menyalahkan.
Suatu hari, Seraphina akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Lunaria tanpa memberitahu Lucian. Dia ingin melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi dan memberikan dukungan langsung kepada Lucian yang sedang sakit.
Saat tiba di Lunaria, Seraphina merasa canggung dan gugup. Dia mencari-cari Lucian di kampus, dan akhirnya menemukannya di taman kampus bersama Amara. Melihat mereka bersama, tawa kecil di antara mereka, membuat hati Seraphina terasa sakit.
"Lucian!" panggil Seraphina dengan suara bergetar.
Lucian dan Amara berbalik, terkejut melihat kehadiran Seraphina. Lucian yang tampak lebih pucat dan lemah dari terakhir kali Seraphina melihatnya, segera berdiri dengan kesulitan.
"Seraphina, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Lucian dengan nada bingung.
Seraphina berjalan mendekat, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di matanya. "Aku datang karena aku khawatir padamu, Lucian. Kamu jarang membalas pesan-pesanku, dan aku mendengar desas-desus tentang kamu dan Amara."
Amara yang merasa bersalah, mundur perlahan. "Aku akan memberi kalian waktu untuk berbicara," katanya sebelum meninggalkan mereka berdua.
Lucian mencoba untuk menjelaskan, tetapi rasa sakit dan kelelahan membuatnya sulit berbicara. "Seraphina, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir atau cemburu. Aku hanya ... terlalu sakit untuk menjelaskan semuanya."
Seraphina menghela napas panjang, berusaha untuk tetap tenang. "Lucian, aku hanya ingin tahu yang sebenarnya. Apakah ada sesuatu antara kamu dan Amara?"
Lucian menggeleng lemah. "Tidak ada yang terjadi, Seraphina. Amara hanya mencoba membantuku saat aku merasa sangat lemah. Aku tahu aku seharusnya lebih sering berkomunikasi denganmu, tapi aku benar-benar merasa tidak mampu."
Seraphina merasa campuran antara lega dan sedih. Dia tahu bahwa Lucian tidak berbohong, tetapi situasi ini membuatnya semakin sadar akan betapa rapuhnya hubungan mereka di tengah ujian ini.
"Lucian, aku mencintaimu dan aku ingin berada di sampingmu, meskipun jarak memisahkan kita. Tapi aku juga butuh kepastian dan kepercayaan," ucap Seraphina dengan suara lembut.
Lucian menggenggam tangan Seraphina dengan lemah. "Aku berjanji akan berusaha lebih baik, Seraphina. Aku tidak ingin kehilanganmu."
Mereka berdua saling berpelukan, merasakan kehangatan dan ketulusan di antara mereka. Namun, mereka tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang dan penuh rintangan. Dengan cinta yang mendalam dan kepercayaan yang semakin kuat, Lucian dan Seraphina bertekad untuk melewati setiap tantangan bersama-sama, meskipun jarak dan penyakit terus mencoba memisahkan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta tak harus memiliki
Novela JuvenilLucian, seorang pemuda introvert dan kalem dari Lunaria, menemukan pelarian dari rutinitasnya yang membosankan di sebuah aplikasi chat. Di sana, ia bertemu dengan Seraphina, seorang gadis populer dari Valoria yang memiliki ego tinggi namun berhati b...
