Hari itu adalah hari yang spesial—anniversary keempat Lucian dan Seraphina. Biasanya, mereka merayakan momen ini dengan penuh kasih sayang dan kenangan indah, meskipun jarak memisahkan mereka. Namun, kali ini, suasana terasa berbeda.
Seraphina bangun pagi dengan semangat. Ia telah merencanakan kejutan kecil untuk Lucian, mengingat betapa pentingnya hari ini bagi mereka. Dengan penuh antusiasme, ia mulai menyiapkan hadiah virtual dan menulis pesan panjang yang penuh dengan kenangan indah selama empat tahun bersama. Ia berharap Lucian akan merasakan betapa berartinya hari ini bagi mereka berdua.
Namun, saat hari berlalu, Lucian tidak menghubungi Seraphina seperti biasanya. Seraphina menunggu dengan cemas, memeriksa ponselnya berkali-kali, berharap ada pesan atau panggilan dari Lucian. Ketika sore tiba, masih belum ada kabar dari Lucian. Hati Seraphina mulai merasakan kesedihan.
Akhirnya, ketika malam datang, Lucian baru menghubungi Seraphina. "Seraphina, aku baru saja selesai dengan sesi perawatan. Maafkan aku, aku sangat lelah," katanya dengan nada lembut saat video call.
Seraphina berusaha tersenyum, namun rasa kecewa tidak bisa disembunyikan. "Lucian, hari ini adalah anniversary kita yang keempat. Aku sudah menunggu sepanjang hari dan mempersiapkan kejutan untukmu."
Lucian terkejut mendengar pernyataan Seraphina. "Oh, tidak! Aku benar-benar lupa tentang hari ini. Aku sangat minta maaf, Seraphina. Aku terfokus pada proses penyembuhanku dan keadaan kesehatanku, dan itu membuatku kehilangan jejak waktu."
Seraphina menatap Lucian dengan mata penuh air mata. "Aku mengerti bahwa kesehatanmu adalah prioritas, Lucian. Tapi aku juga merasa terlupakan. Hari ini adalah hari yang penting bagi kita, dan aku merasa sangat sedih karena kamu tidak mengingatnya."
Lucian terlihat sangat menyesal. "Seraphina, aku benar-benar minta maaf. Ini tidak ada hubungannya dengan perasaanku terhadapmu. Aku hanya terlalu terfokus pada kesehatanku dan bagaimana cara agar bisa lebih cepat sembuh. Aku seharusnya lebih ingat hari spesial ini."
Seraphina menghela napas panjang. "Aku tahu kamu berjuang keras untuk sembuh, dan aku sangat menghargai itu. Tapi aku juga merasa bahwa aku perlu diingat dan dihargai di hari-hari penting kita."
Lucian menggenggam tangan Seraphina melalui layar. "Aku benar-benar minta maaf, Seraphina. Aku akan berusaha untuk lebih memperhatikan hal-hal penting seperti ini di masa depan. Kamu sangat berharga bagiku, dan aku tidak ingin membuatmu merasa tidak berarti."
Seraphina mencoba menenangkan diri. "Aku tahu kamu mencintaiku, Lucian. Aku hanya perlu merasakan bahwa kamu juga mengingat momen-momen penting kita."
Lucian memandang Seraphina dengan penuh perhatian. "Aku berjanji akan merayakan anniversary kita dengan cara yang spesial, bahkan jika itu harus dilakukan nanti. Aku akan membuatnya upaya untuk memperbaiki kesalahan ini."
Seraphina tersenyum sedikit, merasa lebih baik dengan janji Lucian. "Terima kasih, Lucian. Aku menghargai itu. Aku juga tahu bahwa ini bukan tentang hadiah atau perayaan besar, tapi tentang perasaan kita satu sama lain."
Dengan rasa campur aduk, Seraphina dan Lucian melanjutkan percakapan mereka. Meskipun hari itu tidak berlangsung seperti yang diharapkan, mereka berdua bertekad untuk melanjutkan perjalanan mereka bersama dengan lebih banyak pengertian dan saling menghargai.
Momen-momen penting mungkin tidak selalu sempurna, tetapi mereka belajar bahwa cinta sejati melibatkan kesabaran, pengertian, dan usaha untuk saling mendukung, terutama dalam menghadapi kesulitan dan tantangan.
*10_02_2024_ happy anniversary ya buat kalian berdua*
#Dari seseorang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta tak harus memiliki
Fiksi RemajaLucian, seorang pemuda introvert dan kalem dari Lunaria, menemukan pelarian dari rutinitasnya yang membosankan di sebuah aplikasi chat. Di sana, ia bertemu dengan Seraphina, seorang gadis populer dari Valoria yang memiliki ego tinggi namun berhati b...
