Hari-hari berlalu, dan meskipun Lucian menunjukkan sedikit tanda-tanda pemulihan, keadaannya tetap tidak stabil. Amara terus berada di sisinya, memberikan dukungan dan perhatian tanpa henti. Namun, di dalam hatinya, dia menyimpan sebuah rahasia yang semakin sulit untuk disembunyikan.
Suatu malam, setelah memastikan Lucian sudah nyaman di tempat tidurnya, Amara duduk di sampingnya dengan perasaan campur aduk. Dia tahu bahwa ada sesuatu yang harus dia ungkapkan, sesuatu yang telah dia simpan dalam hatinya selama ini.
"Lucian," kata Amara dengan suara lembut, mencoba menenangkan dirinya. "Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu."
Lucian menatap Amara dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. "Apa itu, Amara?"
Amara menarik napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan keberanian. "Selama ini, aku selalu berada di sisimu, bukan hanya karena aku peduli padamu sebagai teman. Tapi, karena aku mencintaimu, Lucian. Aku telah mencintaimu secara diam-diam, meski tahu kau masih merindukan Seraphina."
Lucian terkejut mendengar pengakuan itu. Dia tidak tahu harus merespons bagaimana. "Amara, aku... Aku tidak tahu harus berkata apa," katanya dengan suara pelan.
Amara tersenyum lemah, matanya berkaca-kaca. "Aku tahu ini mungkin sulit untuk diterima. Aku hanya ingin kamu tahu bagaimana perasaanku. Aku tidak mengharapkan apa-apa darimu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa ada seseorang yang mencintaimu dan selalu ada untukmu."
Lucian merasakan campuran perasaan di dalam hatinya. Di satu sisi, dia merasa bersyukur memiliki seseorang seperti Amara yang begitu peduli padanya. Namun, di sisi lain, dia masih merasa hancur oleh kenangan akan Seraphina dan kenyataan bahwa dia tidak bisa sepenuhnya merespons perasaan Amara.
"Amara, kamu adalah teman yang luar biasa. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa melewati semua ini tanpa kamu. Tapi hatiku masih belum pulih dari luka Seraphina," kata Lucian dengan jujur.
Amara mengangguk pelan, menahan air matanya. "Aku mengerti, Lucian. Aku tidak mengharapkanmu untuk langsung membalas perasaanku. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku akan selalu ada di sini untukmu, apa pun yang terjadi."
Lucian meraih tangan Amara, memegangnya dengan erat. "Terima kasih, Amara. Aku sangat menghargai perasaanmu dan dukunganmu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi aku senang memiliki kamu di sisiku."
Malam itu, Amara merasa lega setelah mengungkapkan perasaannya, meskipun dia tahu perjalanan masih panjang dan penuh dengan tantangan. Lucian masih berjuang dengan kondisinya yang tidak stabil, tetapi kehadiran Amara memberikan sedikit kehangatan dan dukungan yang sangat dia butuhkan.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan penuh ketidakpastian. Lucian terus berjuang dengan kesehatan fisik dan emosionalnya, sementara Amara tetap setia di sisinya, memberikan cinta dan dukungan tanpa syarat. Meski hubungan mereka masih dalam batas pertemanan, pengakuan perasaan Amara membawa dimensi baru dalam dinamika mereka, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik tetap hidup di hati mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta tak harus memiliki
Teen FictionLucian, seorang pemuda introvert dan kalem dari Lunaria, menemukan pelarian dari rutinitasnya yang membosankan di sebuah aplikasi chat. Di sana, ia bertemu dengan Seraphina, seorang gadis populer dari Valoria yang memiliki ego tinggi namun berhati b...
