Setelah peristiwa anniversary yang terlupakan, meski telah berusaha lebih terbuka satu sama lain, hubungan Lucian dan Seraphina tetap diliputi ketidakpastian. Mereka sering kali tenggelam dalam pikiran masing-masing tentang masa depan yang tampaknya semakin kabur.
Lucian masih berjuang dengan kesehatannya, sering merasa lelah dan cemas. Di satu sisi, ia tahu bahwa kesehatannya adalah prioritas utama, namun di sisi lain, ia merasa bersalah karena tidak bisa memberi perhatian penuh kepada Seraphina. Sementara itu, Seraphina merasa semakin terasing, meskipun ia mencoba memahami situasi Lucian.
Suatu malam, setelah sesi perawatan yang melelahkan, Lucian menghubungi Seraphina. Di layar, terlihat wajah Lucian yang tampak lebih lelah dari biasanya. "Seraphina, aku perlu kita bicara serius malam ini," katanya dengan nada lemah namun penuh ketegasan.
Seraphina mengangguk, mencoba menahan rasa cemasnya. "Apa yang ingin kamu bicarakan, Lucian?"
Lucian menarik napas panjang sebelum mulai berbicara. "Aku merasa semakin sulit untuk menjalani hubungan ini. Jarak dan dunia kita yang berbeda membuat semuanya terasa sangat berat. Aku merasa tidak bisa memberikan perhatian yang cukup padamu karena fokusku sekarang adalah menyembuhkan diri."
Seraphina terdiam, menahan air mata yang mulai menggenang. "Aku mengerti, Lucian. Aku tahu kamu berusaha sebaik mungkin. Tapi, aku juga merasa kesepian dan terabaikan. Rasanya seperti aku kehilangan kamu sedikit demi sedikit."
Lucian merasa hatinya hancur mendengar kata-kata Seraphina. "Aku sangat menyesal, Seraphina. Ini bukan tentang perasaanku padamu, tapi tentang situasi yang kita hadapi. Aku takut kita tidak bisa melalui ini."
Seraphina mencoba mengendalikan emosinya. "Apa yang kamu usulkan, Lucian? Apakah kamu ingin kita berhenti mencoba?"
Lucian menggelengkan kepala. "Bukan begitu. Aku hanya merasa kita perlu waktu untuk merenungkan apa yang benar-benar kita inginkan. Mungkin kita perlu rehat sejenak, memberi ruang bagi diri kita masing-masing untuk memahami apa yang kita butuhkan."
Seraphina menunduk, merasakan beratnya kata-kata Lucian. "Aku tidak ingin kehilanganmu, Lucian. Tapi jika itu yang kamu pikir terbaik, aku akan mencoba mengerti."
Mereka berdua terdiam, membiarkan keheningan menggantung di antara mereka. Dalam keheningan itu, mereka merasakan rasa sakit yang mendalam, namun juga kesadaran bahwa mereka perlu melakukan sesuatu untuk memperbaiki situasi ini.
Lucian akhirnya berbicara lagi. "Mari kita beri diri kita waktu untuk berpikir. Kita tetap bisa berkomunikasi, tapi mungkin kita butuh sedikit jarak untuk melihat dengan lebih jernih."
Seraphina mengangguk pelan. "Baiklah, Lucian. Aku akan mencoba memberikan waktu dan ruang yang kita butuhkan. Aku berharap ini bisa membantu kita menemukan jalan keluar."
Mereka berdua menyudahi panggilan itu dengan hati yang berat. Meskipun keputusan ini sulit, mereka tahu bahwa ini adalah langkah yang perlu diambil untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar yang menghantui hubungan mereka.
Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan refleksi dan pemikiran mendalam. Lucian berfokus pada penyembuhan dirinya, sementara Seraphina mencoba mencari makna dan kepastian dalam hidupnya. Mereka terus saling mendukung dari kejauhan, meskipun jarak dan perbedaan dunia masih menjadi rintangan besar.
Dengan hati yang penuh harapan dan ketakutan, mereka melangkah ke masa depan yang tidak pasti, mencari cara untuk menyatukan cinta mereka di tengah segala tantangan yang ada. Mereka tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, namun mereka bertekad untuk menemukan jalan terbaik bagi mereka berdua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta tak harus memiliki
Novela JuvenilLucian, seorang pemuda introvert dan kalem dari Lunaria, menemukan pelarian dari rutinitasnya yang membosankan di sebuah aplikasi chat. Di sana, ia bertemu dengan Seraphina, seorang gadis populer dari Valoria yang memiliki ego tinggi namun berhati b...
