Ujian Cinta dan Keterpisahan

7 2 4
                                        

Kehidupan Lucian dan Seraphina di Lunaria berjalan lancar setelah mereka berhasil mengatasi rintangan dengan Elias. Namun, takdir membawa ujian baru yang tak terduga bagi hubungan mereka yang rapuh.

Musim gugur telah tiba di Lunaria, ditandai dengan semakin dekatnya perayaan akademik untuk merayakan prestasi para siswa. Namun, kebahagiaan mereka terganggu oleh kedatangan seorang siswi baru bernama Amara. Gadis itu ceria dan cepat menarik perhatian, khususnya dari Lucian.

Kehadiran Amara yang seringkali terlihat bersama Lucian tidak luput dari perhatian Seraphina. Meskipun mereka berada jauh satu sama lain, Seraphina sering melihat foto-foto Lucian dan Amara bersama dalam media sosial atau mendengar percakapan dari teman-teman di Lunaria yang menyebutkan tentang kedekatan mereka.

Suatu malam, setelah melihat foto terbaru Lucian bersama Amara di akun media sosialnya, Seraphina merasa kebingungan dan cemas. Dia tidak bisa menahan perasaan curiga yang tumbuh di dalam dirinya. Apakah Lucian telah mulai memiliki perasaan untuk Amara?

Dengan hati-hati, Seraphina mencoba untuk bertanya pada Lucian melalui panggilan video malam itu. Lucian terlihat sedikit kaget ketika melihat Seraphina yang terlihat gelisah.

"Lucian, apa hubunganmu dengan Amara?" tanya Seraphina dengan suara yang terdengar ragu.

Lucian, yang merasa terjebak dan tidak siap untuk pertanyaan ini, terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan ragu, "Dia ... dia hanya seorang teman, Seraphina. Tidak lebih dari itu."

Seraphina terdiam sejenak, mencoba untuk memahami kata-kata Lucian. Namun, rasa curiga dalam dirinya tidak bisa dengan mudah hilang. "Tapi aku sering melihat kalian bersama, Lucian. Apa yang sebenarnya terjadi di sana?"

Lucian mencoba untuk menjelaskan, tetapi kata-katanya terputus-putus. Dia merasa bersalah karena tidak memberitahu Seraphina sebelumnya tentang Amara, tetapi dia juga tidak ingin menyakiti hati Seraphina.

"Aku... aku minta maaf, Seraphina," ucap Lucian dengan suara yang penuh penyesalan. "Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan apapun dari kamu. Amara hanyalah teman sekelas, tidak ada yang lain di antara kami."

Seraphina, yang merasa campur aduk antara rasa curiga dan kerinduan akan kepercayaan, mengangguk perlahan. "Aku percaya padamu, Lucian. Tapi aku hanya ingin tahu apa yang sedang terjadi di sana."

Perbincangan mereka berlanjut dalam ketegangan yang terasa di udara. Lucian berusaha untuk meyakinkan Seraphina bahwa perasaannya hanya untuk Seraphina, sementara Seraphina mencoba untuk mengatasi rasa curiganya dan memahami situasi dengan jelas.

Sementara itu, Lucian mulai merasakan gejala sakit yang semakin parah. Awalnya itu hanya sakit kepala dan kelelahan, tetapi kemudian menjadi demam tinggi dan mual yang parah. Dia sering absen dari kelas dan tidak dapat menjawab pesan Seraphina dengan cepat seperti biasanya.

Di lain waktu, setelah serangkaian ujian akademik yang melelahkan, Seraphina akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Lunaria dan menemui Lucian secara langsung. Dia tiba di kampus dengan hati yang penuh kekhawatiran, dan ketika dia bertemu dengan Lucian, dia langsung merasakan bahwa sesuatu yang serius sedang terjadi.

Malam itu, mereka duduk bersama di tepi danau kecil di dalam kampus Lunaria. Bulan purnama bersinar terang di langit, menciptakan suasana yang tenang di sekeliling mereka. Seraphina memandang Lucian dengan tatapan yang penuh perhatian.

"Lucian, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Seraphina dengan suara lembut.

Lucian, yang tampak lemah dan pucat, merasa bersyukur karena Seraphina ada di sisinya. "Aku tidak tahu, Seraphina. Aku merasa sangat lemah belakangan ini. Sakit kepala dan demam yang tidak kunjung reda."

Seraphina menggenggam tangan Lucian dengan erat. "Kenapa kamu tidak memberi tahu aku sebelumnya? Kita bisa mencari bantuan dari dosen atau pergi ke rumah sakit."

Lucian menggeleng lemah. "Aku pikir ini hanya akan sembuh sendiri. Tapi ... semakin lama, semakin buruk rasanya."

Dengan hati-hati, Seraphina membimbing Lucian keluar dari tepi danau dan membawanya ke ruang perawatan yang tenang di asrama mereka. Dia memanggil seorang perawat untuk memeriksanya, sementara dia sendiri menggosok tangan Lucian dengan lembut untuk memberinya sedikit kehangatan.

Di malam itu, ketika Lucian tidur dengan damai setelah menerima perawatan yang diperlukan, Seraphina duduk di samping tempat tidurnya dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa bersalah karena tidak menyadari sebelumnya bahwa Lucian sedang mengalami sesuatu yang serius. Namun, dia juga merasa lega bahwa dia ada di sampingnya saat dia membutuhkannya.

Kehadiran Amara yang memicu ketidaknyamanan dan penyakit misterius Lucian telah menjadi ujian yang berat bagi hubungan mereka. Tapi dalam kesulitan ini, Seraphina bersumpah untuk tetap di samping Lucian, untuk merawatnya dengan penuh kasih sayang dan mendukungnya dalam setiap langkahnya menuju kesembuhan.

Cinta tak harus memilikiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang