Setelah pertemuan emosional di taman kampus, Seraphina memutuskan untuk tinggal di Lunaria selama beberapa hari untuk merawat Lucian dan memahami situasi dengan lebih baik. Namun, kehadiran Seraphina di Lunaria juga memperumit dinamika hubungan mereka.
Di satu sisi, kehadiran Seraphina memberikan dukungan moral yang besar bagi Lucian. Namun di sisi lain, kondisi kesehatannya yang terus memburuk membuat Lucian semakin sulit untuk berkomunikasi dan menjelaskan perasaannya. Sementara itu, Amara, yang merasa bersalah, mencoba untuk menjaga jarak, tetapi tetap tak bisa sepenuhnya menjauh karena situasi akademik yang mengharuskan mereka berinteraksi.
Pada suatu malam, saat Lucian tertidur setelah malam yang panjang dengan rasa sakit, Seraphina duduk di ruang tamu asrama dengan perasaan campur aduk. Amara datang untuk memeriksa keadaan Lucian dan melihat Seraphina yang tampak lelah dan putus asa.
"Seraphina," kata Amara pelan, "bolehkah aku bicara denganmu sebentar?"
Seraphina mengangguk, dan mereka duduk bersama di ruang tamu. Amara memulai percakapan dengan hati-hati. "Aku mengerti bahwa kehadiranku mungkin menimbulkan masalah bagi kalian berdua. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak punya niat untuk merusak hubungan kalian."
Seraphina menatap Amara dengan mata berkaca-kaca. "Aku tahu, Amara. Aku hanya ... aku hanya khawatir tentang Lucian. Aku merasa seperti aku kehilangan dia, dan itu sangat menyakitkan."
Amara tersenyum lemah. "Aku bisa merasakan betapa kamu mencintainya. Dan aku juga melihat betapa Lucian mencintaimu. Dia selalu berbicara tentangmu dengan penuh kasih."
Percakapan mereka memberikan sedikit ketenangan bagi Seraphina, tetapi keraguan dan kecemasan masih menyelimuti hatinya. Lucian yang terus menerus sakit dan kurangnya komunikasi yang baik membuatnya merasa semakin terisolasi.
Beberapa hari kemudian, Seraphina harus kembali ke kotanya untuk menghadiri ujian penting di akademi. Meninggalkan Lucian dalam kondisi yang masih belum membaik adalah keputusan yang berat baginya. Sebelum pergi, dia mengunjungi Lucian di kamarnya.
"Lucian, aku harus kembali ke kota untuk ujian," kata Seraphina dengan suara pelan. "Aku benci meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini, tapi aku harus pergi."
Lucian menggenggam tangan Seraphina dengan lemah. "Aku mengerti, Seraphina. Aku akan berusaha untuk sembuh dan kembali berkomunikasi lebih baik. Aku janji."
Seraphina menunduk dan mencium dahi Lucian dengan penuh kasih. "Jaga dirimu baik-baik, Lucian. Aku akan kembali secepatnya."
Setelah Seraphina kembali ke kotanya, komunikasi antara mereka menjadi semakin sulit. Lucian yang terus merasa lemah hanya mampu mengirim pesan singkat atau kadang-kadang tidak membalas sama sekali. Seraphina merasa semakin frustrasi dan cemas.
Pada saat yang sama, Amara yang masih di Lunaria merasa terbebani dengan situasi ini. Dia ingin membantu Lucian, tetapi kehadirannya malah membuat situasi semakin rumit. Suatu hari, Amara memutuskan untuk mengunjungi Seraphina di kota untuk membicarakan keadaan Lucian.
"Seraphina, aku datang ke sini karena aku benar-benar peduli dengan Lucian dan kamu," kata Amara dengan serius. "Aku ingin kita menemukan cara untuk membantu Lucian bersama-sama."
Seraphina, meskipun awalnya terkejut dengan kedatangan Amara, merasa tersentuh oleh niat baiknya. "Aku menghargai itu, Amara. Aku juga ingin yang terbaik untuk Lucian. Tapi aku merasa begitu tak berdaya."
Amara mengangguk. "Mungkin kita bisa mencari bantuan medis yang lebih spesialis untuk Lucian. Aku juga akan tetap mendukungnya di Lunaria sementara kamu menyelesaikan ujianmu di sini."
Seraphina setuju dengan saran Amara, dan mereka berdua mulai merencanakan langkah-langkah untuk mendapatkan perawatan medis yang lebih baik bagi Lucian. Meskipun situasinya masih rumit, mereka berharap bahwa dengan bekerja sama, mereka bisa membantu Lucian sembuh dan menjaga hubungan mereka tetap kuat.
Namun, di tengah rencana tersebut, desas-desus baru mulai muncul di Lunaria. Beberapa teman-teman Lucian melihat kedekatan Amara dan Lucian sebagai tanda-tanda bahwa hubungan mereka lebih dari sekadar teman. Desas-desus ini semakin menyebar dan mencapai Seraphina, membuat hatinya kembali dipenuhi keraguan.
Sementara itu, kondisi Lucian terus naik-turun. Ada hari-hari di mana dia merasa cukup kuat untuk berkomunikasi dengan Seraphina, tetapi ada juga hari-hari di mana dia terlalu lemah bahkan untuk mengangkat telepon. Hal ini membuat Seraphina merasa semakin tertekan dan kesepian.
Satu malam, ketika Lucian merasa sedikit lebih baik, dia menghubungi Seraphina melalui panggilan video. Wajahnya tampak lebih cerah meskipun masih pucat.
"Seraphina, aku minta maaf atas semua ini. Aku tahu ini sangat sulit bagi kita," kata Lucian dengan suara yang terdengar penuh penyesalan.
Seraphina menatap Lucian dengan air mata mengalir di pipinya. "Aku hanya ingin kamu sembuh, Lucian. Aku tidak peduli tentang desas-desus atau apapun. Aku hanya ingin kita kembali seperti dulu."
Lucian mengangguk. "Aku juga ingin itu, Seraphina. Aku akan berusaha lebih keras untuk sembuh. Tolong, jangan menyerah pada kita."
Dengan perasaan campur aduk, Seraphina berjanji untuk tetap mendukung Lucian meskipun situasinya sangat sulit. Namun, tantangan besar masih ada di depan mereka, dan mereka harus menemukan cara untuk menjaga cinta mereka tetap hidup di tengah cobaan yang terus datang.
•Dalam bab ini, konflik semakin dalam dengan komunikasi yang terputus antara Lucian dan Seraphina karena penyakit Lucian, serta desas-desus yang terus menyebar tentang kedekatan Lucian dan Amara. Cerita ini menunjukkan bagaimana mereka berdua berjuang untuk menjaga hubungan mereka meskipun banyak rintangan yang harus dihadapi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta tak harus memiliki
Novela JuvenilLucian, seorang pemuda introvert dan kalem dari Lunaria, menemukan pelarian dari rutinitasnya yang membosankan di sebuah aplikasi chat. Di sana, ia bertemu dengan Seraphina, seorang gadis populer dari Valoria yang memiliki ego tinggi namun berhati b...
