Baik Syifa, Adrianna dan Apoy atau nama aslinya adalah Anwar Kuswari berdiri di depan kedai yang berjualan bakso serta mi ayam. Ketiganya menimbang-nimbang, padahal menu yang tertulis hanya mi ayam dan bakso saja.
"Oke aku sudah tahu mau pesan apa," kata Adrianna yang mendekati penjual, "Pakde, saya pesan mi ayam bakso sama es teh tawar satu."
"Pakde saya juga mau pesan, es teh tawarnya satu terus mi ayamnya dicampur sama bakso ya," lanjut Syifa.
"Kalau gitu saya pesan satu mi ayam enggak pake sawi, baksonya dipisah sama teh tawarnya pakai es," sambung Apoy.
Pesanan ketiga anak itu hanya membuat penjual melongo, "Bedanya apa, mas? Neng?"
"Ya udah pakde buatin aja, cepet, cepet saya laparrrr ehehe."
Dari ketiganya, Adrianna Tatsuki-lah yang menjadi juru bicara dari Syifa dan Apoy. Kalau menurut Syifa, sahabat keturunan Shizuoka-Cirebon dengan garis keturunan bekas penjajah itu sungguh menjadi penyelamat jika bertanya arah di jalan, protes salah pesanan, apalagi kalau ada yang menyela antrean.
Sementara Syifa dan Apoy? Mereka hanyalah pemuda pemudi pasif yang cinta damai, suka mengalah—bukan, terlalu mengalah malah, dan penuh pertimbangan. Tiga porsi mi ayam terhidang, Syifa menghidu uap air yang menari-nari dan segera perutnya merespons dengan bunyi keroncongan.
"Poy, berisik banget sih, napas tuh pake hidung bukan mulut," ujar Adrianna menyikut lengan Apoy.
"Ya udah, sih, aku juga lagi latihan, heran banget," kilah Apoy, tetapi memang benar, tiap selesai berbicara selalu ada bunyi mendesis pelan dari arah mulutnya.
"Udah Tat, kasihan Apoy kan dia juga berusaha," sahut Syifa yang masih meniup mi ayam panasnya itu.
"Nyenyenyenye."
Adrianna menyeropot mi-nya, kuah yang berbentuk bulir-bulir terhempas. Apoy bergidik geli kemudian memprotes cara makan sahabatnya yang tidak elegan.
"Jijik, jijik, jijik," kata Apoy menyeka lengan dan kacamatanya dengan tisu, Adrianna tak peduli yang penting perutnya terisi dengan mi ayam bakso yang hangat itu.
Syifa tertawa, tetapi tidak terbahak sebab ia bukan tipe seperti itu. Sembari menikmati makan siang mereka, musik yang diputar oleh komunitas radio sekolah berganti menjadi sebuah musik yang penuh kenangan dan membuat Adrianna serta Apoy menertawakan Syifa.
Lagu milik band rock/hardcore—Downstait berjudul Kingdom.
Sungguh, perempuan bermata besar itu hanya bisa menutupi pipi memerahnya dengan menunduk. Kisahnya terjadi tiga bulan lalu ketika trio sahabat ini mendatangi pentas seni Sekolah Una.
Mereka berniat ingin menyaksikan sebuah band beraliran rock/hardcore yang punya fans se-Una, maaf ralat, fans-nya tersebar ke seantero sekolah di Jakarta; namanya The Hex.
Sore itu mendung, angin bertiup kencang menerpa wajah dan jas hujan plastik warna-warni yang bergerak dengan lincah. Syifa gugup berdesakkan di tengah-tengah kerumunan seraya menaruh kedua lengan di dada. Suara bising seperti ribuan lebah sekilas melintas di atas kepala, ia mendongak, sebuah drone tengah mengabadikan momen penonton.
Syifa yakin wajahnya terekam seperti anak ketakutan ketimbang menikmati acara. Tetiba muncul suara keras serempak berasal dari lautan penonton memekakan gendang telinganya, siswi itu segera menutup kedua telinga dengan tangan.
Seharusnya ia ikut Adrianna dan Apoy membeli jasuke (jagung, susu dan keju) saja, bukan malah menyusahkan dirinya di tengah ombak kerumuman penonton yang berbau badan menyengat lalu menggulungnya ke sana kemari.
KAMU SEDANG MEMBACA
lubang di jalan
Teen FictionMengikuti kisah seorang pemuda bernama Bermuda Raffles yang tengah mencari jati diri. Namun, kata KETERIKATAN membuatnya menjadi amat kompleks. Ini bukan sekadar tentang persahabatan dan cinta. Tetapi, bagaimana ikatan membuat hidup menjadi penuh di...
