"Kikan, ke sini sebentar." Suara itu terdengar menekan dan memerintah, Kikan yang sedang menempelkan kode batang yang mengarah pada laman peraturan baru sekolah di mading, kemudian berhenti untuk menghampiri sumber suara.
Lelaki yang memanggil Kikan menarik tangannya dengan tergesa lalu pergi ke area belakang lapangan tenis yang jauh dari keramaian. Di sana hanya terdapat pohon mahoni yang berjejer rapi dan desir suara dahan pohon yang bergesekkan karena tiupan angin. Lelaki itu bertubuh tinggi, dadanya bidang, dan memiliki rahang yang tegas. Ia melepaskan lengan Kikan lalu menatapnya tajam sambil membungkuk ke arahnya.
"Kenapa Reza?" tanya Kikan lirih.
"Kamu mau jujur atau aku yang ngomong?"
Kikan menelan ludah mendengar gertakan itu. Ia tak tahu pasti apa yang dimaksud oleh Reza sebab selama satu minggu belakangan, Kikan tidak merasa melakukan kesalahan atau kebohongan yang membuat kekasihnya harus menginterogasi sebelum melakukan sesi latihan tenis.
"Aku beri waktu sampai satu menit." Kikan mendongak untuk melihat lebih jelas posisi Reza dengan peluh yang melembapkan dahi dan bekas luka mengering di bagian bibir.
Apa yang baru saja Kikan lakukan? Ia tidak merasa membuat kesalahan. Ketua OSIS itu meremas roknya gugup. Tiupan angin sore menggerakkan poninya yang menggemaskan, mata sipitnya menyiratkan rasa takut yang tak bisa disembunyikan. Kikan masih belum mengerti harus jujur soal apa. Yang diingat olehnya adalah mengobrol dengan Syifa sehari lalu.
Atau jangan-jangan soal itu?
"Waktu kamu habis."
"Aku ngobrol sama Syifa kemarin soal Bermuda. Udah itu aja, aku enggak ngapa-ngapain lagi, cuman itu." Akhirnya Kikan mengaku walaupun ucapannya terdengar tergesa-gesa.
"Kamu yakin?" Napas Kikan menjadi berat. Mengapa Reza tiba-tiba berubah menjadi interogator dengan pertanyaan yang cenderung menekan itu?
Alih-alih menjawab dengan ucapan, Kikan hanya mampu mengangguk. Jiwa pemimpinnya ciut tiap kali berhadapan dengan Reza. Lelaki itu kembali berdiri sambil mengambil raket tenis yang sedari tadi ditaruh di dalam tas. Raket itu terlihat mengilap di bawah sinar matahari yang hendak mendarat untuk istirahat. Reza menekan-nekan senar raket untuk memastikan tidak ada yang menjarak atau putus sebelum ia mainkan. Bagian besinya pun tak luput dari pemeriksaannya. Itulah Reza, orang yang paling teliti dan tidak bisa menolerir sebuah kecacatan kecil. Jika harus diperbaiki, maka diperbaiki saat itu juga.
Bola matanya kembali menatap Kikan yang masih tertegun karena rasa takut mulai mendera dada hingga kerongkongannya. Reza bukan tipe yang suka bermain fisik, tetapi sorot mata dan kata-katanya sudah cukup tajam untuk menusuk rasa takut lawan bicaranya. Tak heran, tiap kali di lapangan saat bermain tenis, lawan-lawannya dibuat bergidik ngeri sebelum pertandingan dimulai. Ritual Reza sederhana. Ia hanya berdiri, memantul-mantulkan bola jika memang itu gilirannya untuk melakukan servis, kemudian menatap lawannya lekat-lekat tanpa sepatah kata.
Persis yang dilakukannya saat ini di hadapan Kikan. Dengan perlahan, Reza menaruh bagian ujung raketnya untuk menekan leher Kikan hingga perempuan itu perlahan mundur dengan napas yang terputus-putus. Ini pertama kalinya Reza melakukan itu.
"Kikan, kamu yakin cuman ngomong kayak gitu?" Kikan mengangguk ketakutan, Reza menyipitkan matanya curiga. "Bukannya kamu juga ngomong ke Syifa untuk mencari tahu apa yang terjadi antara aku dan Bermuda? Kamu yakin enggak nyuruh dia membahas itu?"
Jantung Kikan seperti berhenti sebentar, matanya terbelalak lebar. Dari mana dia tahu soal itu?
"Jangan tanya aku tahu dari siapa, sekarang jawab, benar atau enggak?" Dari mana juga dia mengetahui isi pikirannya?
KAMU SEDANG MEMBACA
lubang di jalan
Roman pour AdolescentsMengikuti kisah seorang pemuda bernama Bermuda Raffles yang tengah mencari jati diri. Namun, kata KETERIKATAN membuatnya menjadi amat kompleks. Ini bukan sekadar tentang persahabatan dan cinta. Tetapi, bagaimana ikatan membuat hidup menjadi penuh di...
