On Melancholy Hill

30 3 50
                                        

Di malam sama sebelum penampilan Bermuda. Safitri, sebagaimana sahabat yang setia dalam menepati janjinya, tengah berdiri di luar gedung seraya bersandar pada tembok sementara orang-orang mulai masuk ke dalam sana. Lelaki itu menyampirkan jas hitamnya di pundak, sementara kemeja putih dengan tali suspender yang lengannya dipilin serta dasi hitam membuatnya terlihat rapi dan bijaksana—berbeda dengan penampilan sporty-nya sehari-hari sebagai atlet tenis.

Sedari tadi ia bercengkrama dengan beberapa rekan tennisnya, ada Lydia, dan Kamala. Ketiganya sedang mengobrol soal pertandingan kualifikasi tenis antar sekolah yang akan berlangsung pada bulan Oktober, tentunya Safitri dijagokan oleh teman-temannya untuk mewakili Una, "Ya, kalau aku menang lawan Reza." Akunya kepada yang lain.

Percakapan mereka mengalir seperti aliran sungai. Awalnya membicarakan prediksi tenis, kini beralih pada gosip yang sedang menerpa Reza dan pasangannya, Kikan. Kabar burung itu dimulai oleh Lydia, perempuan berambut kepang yang memiliki bibir tebal dan mata sipit. Terdengar nada suaranya amat antusias, namun sesekali berbisik menyampaikan beberapa kalimat yang dirasa sensitif—takut orang yang dimaksud tetiba muncul entah dari mana.

Safitri yang awalnya tak peduli berhasil dibuat regu penggosip itu mencondongkan badannya. Lydia mengatakan bahwa ia melihat Reza mengancam Kikan dengan menaruh ujung raket pada leher perempuan itu. Kamala merespons dengan syok, tetapi tidak untuk Safitri.

"Reza punya alasan melakukan itu, kan?"

Tanggapan Safitri membuat kedua rekannya mengernyitkan dahi.

"Sori, sori, maksud kamu, menormalisasi kekerasan even di lingkungan sekolah wajar gitu?"

Safitri buru-buru menggelengkan kepala, meluruskan pemahaman yang keliru dari Kamala.

"Hear me out, ya, La. Setahu aku, Reza memang tegas dan agresif, tapi dia enggak akan begitu kecuali ada yang memancing duluan."

"So, you're telling me, kalau Reza melakukan tindakan kasar begitu sebagai bentuk hukuman atau gertakan buat pasangannya?"

"You betcha!"

Lydia dan Kamala menatap sinis Safitri.

"Apapun bentuknya, perlakuannya, tindakannya. Violence or abusive act in relationship itu enggak wajar, Saf."

"Ya, memang enggak Lydia. I'm not telling that I agree with THAT."

"Terus?"

Safitri memegangi pundak Lydia sembari menatap lekat mata hitamnya, "Tiap tindakan pasti punya alasan."

Lydia menaikkan salah satu alisnya, "Kayaknya kamu lebih ngerti Reza ya, ketimbang Kikan ngertiin dia?"

Bunyi tawa terdengar sebelum Safitri membalas pertanyaan Lydia, "Terkadang yang mengerti kita itu bukan teman atau kerabat, tetapi musuh kita sendiri."

"Karena?" tanya Kamala seraya melipat tangannya di dada.

"Karena saat aku mempelajari kebiasaannya, tanpa aku sadari aku jadi lebih kenal siapa musuh aku. Dan semakin aku mengenal dia, semakin sadar bahwa aku dan Reza memiliki kesamaan."

"And what kind of similarity?"

"Kalau kita sama-sama terobsesi untuk tidak menunjukkan sisi lemah ... apapun yang terjadi."

Kamala dan Lydia dibuat tercengang dengan mulut terbuka. Mereka belum pernah melihat versi Safitri yang ini. Ada penekanan dan hawa dingin yang menjalar hingga membuat tengkuk merinding dari kalimatnya itu. Belum lagi senyum tipis dan penuh misteri ditunjukkan olehnya, seolah Safitri adalah predator yang sedang mengintai mangsanya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 26, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

lubang di jalanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang