Lorong-lorong menuju kelas telah ramai dengan para siswa. Beberapa dari mereka saling mendorong, berhimpitan, buru-buru masuk ke ruang belajar. Sebagian masih berjalan santai menunggu nyawa yang belum seratus persen terkumpul, membuka ponsel untuk mencari informasi kacangan atau meme tidak berfaedah, lalu berjalan lesu dengan wajah masih mengantuk.
Namun semua itu tidak berlaku bagi Tuan Muda. Pagi hari yang cerah, kala mentari berjalan perlahan menuju angkasa, Bermuda sedang bersandar pada sebuah pohon masih mengenakan jaket kulit kesayangannya, berbincang berdua bersama Safitri tetapi mata hitamnya sesekali teralih pada gerbang sekolah.
Menanti yang sudah pasti hadir, bagi hati yang sedang dilanda asmara.
Seekor kucing oranye putih mendekat lalu ndusel manja pada tungkai Bermuda. Lelaki itu berjongkok, tersenyum tanpa berkata apa-apa sambil mengelus lembut bagian kepala serta dagunya. Kucing oranye putih milik anak IPA yang sepakat dinamakan Anjing. Dia lucu dan manja, persis seperti Syifa-nya Bermuda.
"Mud, menurut kamu nih, kalau aku tanding sama anak kelas XII buat nge-push rank biar peringkat naik, worth it, enggak? Ada beberapa daftar pemain yang bisa aku tantang sih, sembari nunggu giliran buat duel lawan Reza lagi," ujar Safitri seraya menunjukkan daftar nama-nama petenis Una yang telah ia rangkum pada aplikasi google sheets, lengkap dengan analisis kemampuan dan kelemahan serta rekor tanding.
Sayangnya, Bermuda tidak fokus pada perbincangan mereka. Ia melamun menatap ke arah gerbang yang terbuka dengan siswa siswi silih berganti masuk dengan raut beragam. Bermuda masih menanti Nona Muda-nya tiba.
"Mud? Anjir, malah bengong!" Safitri menjentikkan jarinya, Bermuda langsung berkedip dengan cepat.
"Sori, gimana? Gimana?"
Safitri memutar bola mata malas, "Bengongin apa, sih?"
Seperti yang kita duga, Bermuda belum menceritakan soal status hubungan barunya dengan Syifa.
"Enggak ada, sih, Saf. Oh iya, tadi nanya saran soal tanding lawan kakak kelas, kan? Coba aja tawarin Mas Rio atau Mas Yudha, mereka kayaknya enggak ambis-ambis banget di mata pelajaran, jadi masih bisa diajak duel di lapangan?"
Untuk sesaat Safitri mengangguk kagum dengan daya tangkap Bermuda. Lelaki itu memang tidak memperhatikan, namun kesadarannya akan lingkungan sekitar dan efektivitas pecah fokusnya, patut diacungi jempol.
"Boleh, nanti aku sampaikan pelatih, thanks!" jawab Safitri singkat.
Akhirnya yang dinanti tiba, Syifa dengan helm Honda hitam sedang dibonceng oleh Adrianna, berkendara melewati gerbang, tetapi jelas terekam bahwa sorot mata Bermuda dengan Syifa saling mengunci satu sama lain, tak luput pula senyum manis terpancar di antara keduanya.
Sama seperti Bermuda, Syifa sepertinya belum menceritakan soal status hubungan baru keduanya kepada Adrianna. Jika sudah, mana mungkin siswi berambut pendek itu tidak heboh dan mengganggu Syifa dengan gurauan menyebalkannya.
Syifa segera menepuk pundak Adrianna saat motornya berada di hadapan Bermuda. Gadis itu kemudian turun, menaruh kedua tangan di depan lalu tersenyum malu kepada Bermuda. Adrianna memanggil-manggil, tetapi Syifa tak acuh.
Bermuda menelan ludah ketika langkah Syifa semakin menipiskan jarak transparan yang awalnya memisahkan. Senyum manis perempuan itu merekah, membuat dada Bermuda menjadi hangat.
"Oh, pagi, Cip. Happy banget kamu kelihatannya?" tanya Safitri ramah.
"Pagi juga, Saf. Kamu juga kelihatan happy," balas Syifa, matanya beralih dari Safitri kemudian Bermuda lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
lubang di jalan
Novela JuvenilMengikuti kisah seorang pemuda bernama Bermuda Raffles yang tengah mencari jati diri. Namun, kata KETERIKATAN membuatnya menjadi amat kompleks. Ini bukan sekadar tentang persahabatan dan cinta. Tetapi, bagaimana ikatan membuat hidup menjadi penuh di...
