Sudah berhari-hari pertanyaan Anggia berputar-putar dibenak Nova. Namun laki-laki itu belum juga menemukan jawaban yang pas.
Atas dasar apa ia meminta Anggia untuk tidur di kamarnya? Berdua dengannya? Padahal sejak sebelum awal menikah, ia sudah mewanti-wanti gadis itu untuk tidur sendiri di kamar atas.
Sementara itu Anggia sendiri berpikir, apakah ia akan berdosa kalau menolak permintaan Nova yang ingin tinggal di kamar yang sama dengannya? Bukankah hal itu sebenarnya wajar-wajar saja mengingat status mereka yang sudah sah?
Dan lagi, hubungannya bersama Nakula selama ini... apa itu juga bisa disebut berselingkuh sama seperti apa yang dilakukan Nova dan Maya selama ini? Walau ia dan Nakula sendiri tidak memiliki status hubungan yang jelas seperti sebelah, tapi tingkah dan sikap Nakula bersamanya bisa disebut lebih dari itu, walau masih dalam batas wajar.
Anggia pening dibuatnya.
Dan dalam beberapa hari ini juga keduanya bertingkah seolah ucapan yang Anggia lontarkan tidak pernah terucap. Padahal dalam hati dan pikiran mereka, keduanya saling memikirkan.
Nova
¬ Nanti pulang kerja aku jemput ya
¬ Minta tolong temenin aku beli sepatuGia hampir lupa kalau hari ini gadis itu tidak membawa motornya sendiri. Dirinya terlalu malas menyetir tadi pagi, jadi ia memutuskan untuk naik taksi online dan menolak Nova yang tidak keberatan untuk mengantarnya. Dengan memberi alasan kalau dirinya takut membuat laki-laki itu nanti telat sampai di kantor, Anggia langsung ngacir keluar rumah lebih dahulu.
Anggia
¬ Emang kamu tau kantor ku dimana?Nova mengernyit. Saat ia mengantar dan menjemput Anggia diwaktu pameran kapan lalu, ia dengan jelas mengetahui dimana gadis itu bekerja. Jadi dengan cepat ia membuka aplikasi map untuk mencarinya.
Namun betapa terkejutnya ia saat mengetahui ternyata perusahaan tempat Anggia bekerja memiliki banyak sekali kantor cabang. Jadi gadis itu ada di cabang yang mana? Nova merutuk diri dalam hati.
Laki-laki itu ingin menjadi orang yang sok tahu dan memutuskan untuk menjemput Anggia di kantor pusat. Tapi untungnya ia masih bisa berpikir dengan benar, bagaimana kalau ternyata Anggia tidak ada di sana? Apa yang dia lakukan akan berakhir sia-sia.
Nova
¬ Maaf ya
¬ Bisa minta tolong kamu shareloc?Akhirnya dengan menahan malu, Nova bertanya pada Anggia. Gadis itu pasti mencebik kesal di ujung sana.
~~ 9 ~~
Mobil Nova sudah terparkir di depan lobby sejak beberapa menit yang lalu, tapi Anggia belum juga menampakkan batang hidungnya, membuat Nova tak sabar dan juga berdebar diwaktu yang bersamaan.
Dan saat pintu mobil di sampingnya terbuka lalu menampilkan sosok Anggia yang masuk ke dalam, tanpa bisa menyembunyikan diri, ia langsung sumringah bukan main.
Ini akan menjadi kencan pertama mereka, karena kata Hasbi yang sebelumnya itu tidak bisa dihitung. Dan walaupun dengan cara berbohong —terpaksa— untuk bisa keluar dengan gadis itu, Nova jelas tidak akan merasa bersalah sama sekali.
"Mau cari dimana?"
Nova tersenyum, kakinya bergerak menginjak pedal gas, membuat mobil yang mereka tumpangi melaju membelah jalanan. Lalu ia menoleh ke Anggia sekilas, "Ke Senayan? Atau Kokas mungkin?"
Anggia langsung menyipitkan mata, "Kamu belum ada planning mau beli dimana?"
Dan tanpa dosa Nova menggeleng dengan cengiran lebar di wajahnya. "Belum. Aku ikut kamu aja."

KAMU SEDANG MEMBACA
OPTION [✔️]
Short StoryBagaimana jadinya kalau ada orang ketiga dalam sebuah hubungan?