"Hyung, kau di mana?" tanya Sunoo dari seberang sana.
"Aku sedang menuju rumahmu, sayang. Jalanan cukup macet malam ini."
Area jalanan Seoul malam ini begitu macet, jarak dari rumah Sunghoon dan Sunoo tidaklah jauh, namun macet sering menjadi kendala dan keterlambatan. Mata Sunghoon berpendar ke sepanjang jalan yang begitu terang karena lampu berbagai kendaraan dan jalanan.
"Ohh, begitu. Kami menunggumu, berhati-hatilah, aku tak ingin gagal menikah."
Sunghoon tersenyum di sela ia mendengarkan Sunoo. "Ya, aku akan berhati-hati."
Setelahnya Sunoo mematikan telfon secara sepihak, Sunghoon pun meletakan ponsel miliknya di dashboard. Laki-laki bermarga Park itu kembali fokus pada jalanan.
Sunghoon melaju dengan penuh percaya diri di balik kemudi Nissan GT-R R35. Suara mesin yang menggelegar dan akselerasi yang mulu, lampu-lampu kota yang bersinar menari di permukaan jalan yang basah. Di luar jendela, panorama metropolis yang gemerlap tampak begitu kontras dengan suasana tenang di dalam mobil.
Seiring mobil melaju melewati jalan-jalan yang dipenuhi cahaya neon, Sunghoon merenungkan momen besar yang akan datang. Dia sedang dalam perjalanan ke rumah Sunoo, tempat di mana dia akan bertemu dengan ayah Sunoo untuk membicarakan rencana pernikahan mereka. Hati Sunghoon berdebar kencang, penuh harapan dan sedikit kecemasan. Namun, keyakinan dan tekadnya menguatkan langkahnya.
Dalam perjalanan ini, Sunghoon merasakan betapa pentingnya malam ini. Sesekali, dia melihat ke arah layar navigasi untuk memastikan arah yang tepat, namun mayoritas perhatiannya terfokus pada pikiran tentang apa yang akan dia sampaikan.
Saat mobil mendekati rumah Sunoo, Sunghoon merasakan campuran antara kegembiraan dan kecemasan. Dengan setiap detik yang berlalu, dia semakin yakin bahwa momen ini akan menjadi awal dari babak baru dalam hidupnya. Begitu sampai di depan rumah, dia menyalakan lampu hazard sebagai tanda kehadiran dan mematikan mesin. Mengambil napas dalam-dalam, Sunghoon bersiap untuk melangkah keluar dan menghadapi pertemuan yang penuh makna ini, dengan harapan untuk melangkah lebih jauh dalam hubungan yang sangat berarti baginya.
"Selamat datang, tuan Sunghoon." Seorang pelayan menunduk, mereka sudah biasa dengan kehadiran Sunghoon. "Tuan besar, nyonya besar, dan tuan muda sudah menunggu di meja makan. Mari saya antarkan."
Sunghoon membalas dengan anggukan, ia mengikuti langkah pelayan perempuan tersebut menuju ruang makan yang Sunghoon sendiri sudah sangat hafal tiap sudut rumah mewah ini.
Sunoo tak pernah menceritakan secara pasti siapa ayahnya dengan detail, hanya ibunya yang Sunghoon ketahui sebagai mantan model dan aktor ternama Korea. Sunoo memberikan alasan kenapa ia tak ingin di ekspos ke publik, Sunoo begitu menghargai privasi dan tak begitu suka dengan khalayak ramai.
"Hyung, kapan hyung sampai? Kenapa tidak mengabariku?" tanya Sunoo yang tadinya sedang berbincang langsung sadar ketika Sunghoon mendekat.
Sunoo beranjak dari duduknya, Sunghoon memberikan kecupan singkat di kedua pipi dan dahi Sunoo, hal yang biasa mereka lakukan.
"Pelayan sudah menyambutku di depan."
"Ekhem. Sunoo, ajaklah Sunghoon duduk terlebih dahulu."
Sunghoon membulatkan matanya, ia mengangkat pandangannya dan melihat siapa yang duduk di ujung meja, darahnya seakan membeku. Di sana, dengan tatapan tenang dan senyum kecil yang tersirat, duduk Suho—direktur Kim, sosok yang begitu dihormati Sunghoon di dunia bisnis.
Sunghoon buru-buru membungkukkan tubuhnya memberi hormat. "Selamat malam direktur Kim, lama tak berjumpa dengan anda."
Sunoo tertawa pelan, wajah Sunghoon sungguh lucu. "Ada apa dengan wajah hyung?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Behind Every Scar
RandomDulu, ketika Sunghoon masih bersekolah, ia berpikir mungkin kehidupan sebenarnya tidak terlalu sulit. Namun, pada kenyataannya tidak seperti yang di pikirkan olehnya. Ini hanya sekedar perjalanan klasik dan pelik seseorang yang menghadapi realita k...
