Bab 1 || Kamu Ketua?

8 4 1
                                    

Badan lunglai itu segera membantingkan diri ke atas ranjang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Badan lunglai itu segera membantingkan diri ke atas ranjang. Lelah. Banyak hal yang ia lewati untuk hari ini. Menatap langit-langit kamar, seakan tak percaya bahwa ia menyelesaikan pekerjaannya dengan tepat waktu. Sesekali ia tersenyum tipis kemudian menggapai ponselnya di atas laci kamar.

Jari jemarinya menggesek-gesek layar benda itu lalu mengetik sesuatu. Pada saat yang sama, kepalanya dipenuhi banyak pikiran. Terhenti, ia menoleh ke samping kanannya dan tak sengaja melihat sebuah benda kecil yang ada pada tas teman sekamarnya.

  “Tanggung jawab lo emang besar, tapi lo nggak pantes jadi ketua. Gerhana ini nggak akan hilang karena lo.”

Lagi-lagi gelisah. Ia meletakkan handphonenya dengan kasar kemudian menutup dirinya dengan selimut tebal. Berusaha menutup kedua matanya, mencoba beralih ke dunia mimpi yang indah. Siapa tahu ia bisa lupa dengan realita hidupnya yang terkadang perlu dipertanyakan.

Dobrak!

Seperti biasa, tidak ada kata istirahat untuknya. Di saat mulai memejamkan mata, teman sekamarnya membuka pintu dengan keras.

  “Kak Aiden berantem lagi sama anak sebelah. Dia hampir nggak bisa ngendaliin dirinya. Sekarang dia ada di klinik,” ucap Marry dingin.

  “Lagi?” sahut Aileen bangun dari baringnya sembari merapikan rambutnya. Marry tak menjawab, hanya berdiri di ambang pintu sembari memperhatikan ketuanya itu bersiap keluar dari ruangan.

Aileen memakai jaket dan sepatunya lalu berjalan menuju pintu. Saat hendak keluar, langkahnya terhenti tepat di ambang pintu. Menatap rekannya sekilas bersamaan kepalanya sedikit menoleh. Melontarkan tatapan yang seakan membalas perkataan gadis itu kemarin malam, kemudian ia melangkah keluar kamar asramanya dengan langkah lebarnya.

  “Sekarang tantangan lo adalah gantiin gue sebagai ketua.”

Perempuan itu segera mempercepat langkahnya menuju luar pintu utama gedung asrama. Menengok pada keramaian di seberang jalan. Tanpa banyak pikir lagi, ia berlari menuju bangunan kecil itu.

Tap! Tap! Tap!

Suara langkah kakinya menggema hingga ke dalam ruang pengobatan. Tiba-tiba saja ia masuk ke ruangan tersebut dan melihat beberapa orang sedang di sana memperhatikan dirinya.

Senyap. Suara keramaian yang ia dengar tiba-tiba hilang begitu saja. Para petugas keamanan di luar yang bertugas membereskan kerusuhan tadi pun ikut masuk ke dalam dengan perasaan bersalah.

  “Maaf, saya tidak tahu jika Aiden ada di luar…” ucapnya sembari membungkukkan badan.

  “Kenapa bisa?” tanya Aileen. Tatapan tajam ia berikan pada orang-orang di ruangan itu.

Gerhana dan KristalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang