Berpuluh-puluh tahun hidup dalam kegelapan. Entah kapan ini akan berakhir. Seluruh manusia mempertanyakan kemana cahaya pergi. Ini tentang ketidakpastian. Persetan. Manusia berharap lebih. Tidak ada yang bisa diharapkan. Belum tentu takdir akan diub...
Tidak disangka dua manusia itu datang ke kantor sepagi ini. Keberadaan Aileen di sini membuat mereka berdua terheran-heran. Jovan dan Aiden beranjak menuju meja kerjanya masing-masing. Ada yang harus mereka kerjakan sekarang, mengenai perancangan memperketat keamanan gedung MEMOR.
Klik!
Tidak lama kemudian, Marry masuk ke dalam ruangan. Benar-benar momen langka dimana hampir semua anggota FiMor hadir pagi-pagi buta. Aileen melirik ke semua anggotanya, lalu beralih pada tugasnya pagi ini.
“Wajah lo lesu. Beneran nggak tidur semalem?” tanya Aiden lagi setelah diabaikan beberapa menit.
“Menurut lo? Gue gini gara-gara lo, Sialan.” Tidak ada ramah-ramahnya. Aileen menjawab ketus. Sesuai suasana hatinya setelah semalaman dihajar oleh realita, gadis itu sama sekali tidak bisa memejamkan matanya lagi.
“Lah? Gue diem!?” seru Aiden tidak terima.
“Ck. Lo harus berhasil kali ini…”
“Konteks?”
“Serap kembali kekuatan cahaya ke induknya.” Aileen sudah muak dengan kata-kata itu. Berkali-kali ia baca bahwa diperlukan kefokusan untuk mengambil kekuatan cahaya masuk ke dalam kristal.
“Ngendaliin kekuatan cahaya nggak semudah itu. Harus banyak latihan dan jangan terpancing sama sesuatu yang sepele,” celetuk Marry fokus mengetik sesuatu di komputernya.
“Dengerin,” ujar Aileen seperti menyindir kejadian akhir-akhir ini.
“Halah. Orang Aiden kesabarannya tipis kalau udah sama musuh.” Jovan menyahut dengan nadanya yang menyebalkan.
“Ngaca, Anjing.”
“Dih.”
“Diem, Bangsat. Ganggu,” ucap Aileen melepas kekesalannya mendengar kedua rekannya saling berdebat kecil.
Pagi yang gelap, suasana pun juga terasa suram. Keributan kecil terjadi di awal hari. Entah apa yang merasuki manusia-manusia itu. Usai melakukan perjalanan panjang, tampaknya mereka butuh hiburan. Wajah mereka tidak secerah hari-hari biasa. Pertarungan kemarin sungguh menguras tenaga.
“Lo nggak mau bilang apa-apa, Marry?” Usai terdiam beberapa saat, tangan Aileen berhenti bergerak. Kepalanya menoleh pada gadis yang duduk beberapa jengkal darinya.
“Kenapa?” jawab Marry tanpa memandang lawan bicaranya sama sekali.
“Atau lo nggak sadar? Atau ada sesuatu?” tanya Aileen lagi, “gue sengaja nggak singgung soal ini setelah kita bertiga kembali ke pos pertama.”