Berpuluh-puluh tahun hidup dalam kegelapan. Entah kapan ini akan berakhir. Seluruh manusia mempertanyakan kemana cahaya pergi. Ini tentang ketidakpastian. Persetan. Manusia berharap lebih. Tidak ada yang bisa diharapkan. Belum tentu takdir akan diub...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tap! Tap! Tap!
Pukul Sembilan pagi, seorang anggota FiMor sudah beraksi di lapangan kota. Tepatnya di Stadion Endercity. Kedua kaki bergantian menapak tanah, sembari ia atur napasnya. Sudah menjadi aktivitas mingguan gadis berambut panjang itu berolahraga mengelilingi lapangan sebanyak 10 kali. Namun hari ini ia ingin memecahkan rekor berkeliling sebanyak 20 kali. Dua kali lipat dari sebelumnya.
Sambil ia lihat jam di pergelangan tangan, Aileen menyeka keringat yang bercucuran di dahi hingga pipinya. Pagi tadi, pukul enam, dia sudah menyelesaikan latihan tinju di ruang olahraga. Setelah itu ia hajar fisiknya dengan skipping sebanyak 100 lompatan setiap menitnya. Dilanjutkan dengan olahraga kebugaran seperti push up, sit up, pull up dan squat jump.
Spesial untuk melepas rasa lelah dan jengkelnya usai pekerjaan menguras otak. Olahraga yang ia lakukan kali ini dua kali hitungan bila dibandingkan dengan olahraga yang biasa ia lakukan. Ia balas dendam pada dirinya sendiri. Ketidakbecusannya menjadi seorang ketua dalam mengayomi anggotanya. Sampai masalah yang terjadi akhir-akhir ini.
Selain itu, ia hanya ingin mengetes seberapa kuat dirinya dalam olahraga ekstrem ini. Kata Kathrine, Aileen lebih dari tahan banting. Berkali-kali peristiwa besar menghantamnya. Luka berat yang ia alami sepanjang hidup. Latihan keras dari Kapten Angkasa sejak kecil. Serangan dari kekuatan tak terkendali Aiden. Dengan ingatan yang hilang pun dia berjuang sekuat tenaga. Itu semua bisa ia lewati karena punya semangat yang besar.
Dia petarung yang tangguh dengan segala kelemahan yang ia miliki. Kathrine benar. Aileen tidak menyadari kemampuannya sendiri. Sejak dua tahun lalu, Aileen mengira dirinya hanyalah ketua payah dan lemah.
“Argh! Selesai!” Aileen membaringkan badannya di atas tanah. Sesi olahraganya pagi ini selesai. Mandi keringat ia dibuatnya.
Padahal ia sempat demam sehari lalu. Hari ini, dia berhasil menyelesaikan olahraga ekstrem. Aneh sekali. Takut sekali ia tiba-tiba drop akibat kelelahan. Namun seorang Aileen tidak mungkin rapuh secepat itu hanya karena latihan fisik.
“Kenapa lo cepet banget sampai sini?” Dengan napas tersengal-sengal, Aiden sampai di Stadion Endercity. Ia telah melakukan lari pagi mengelilingi pusat kota. Sekarang, dia sampai di sini juga untuk lari.
“Karena lo sempet-sempetnya lihat pemandangan kota. Bukannya cepetan ke sini,” omel Aileen yang menunggunya sedari tadi. Gadis itu tahu bahwa rekannya bangun terlambat, pukul tujuh ia baru bangun dari mimpinya yang panjang.
“Ck. Okelah. Tungguin gue. Nih, air minum. Lo selalu lupa.” Aiden melempar satu botol air mineral untuk Aileen, lantas nyelonong pergi meninggalkan gadis itu.
Telapak tangan Aileen secara cepat menangkap botol itu. Lantas ia buka tutup botolnya. Minum beberapa teguk air setelah olahraga sangat terasa menyegarkan. Sambil melihat-lihat sekitar, sesekali mata Aiden dan Aileen saling bertatap. Lelaki itu selalu saja memandang ketuanya saat bertemu sambil tersenyum. Aiden hanya ingin menjahili Aileen yang ia suruh menunggu di sana tanpa melakukan apa-apa.