Bab 5 || Angan yang Retak

2 1 0
                                    

Dag!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dag!

Pukulan melayang menuju meja tak bersalah. Seisi ruangan terkejut, tak berani bicara. Seorang kapten menatap tajam manusia di hadapannya, kedua tangannya terlipat. Sepasang matanya terlihat memerah, penuh amarah, sedih dan kekecewaan.

Setelah makian ia lontarkan, tangannya mengepal kuat. Beberapa kata yang ingin keluarkan berikutnya seolah tertahan. Terlebih ketika ia melihat objek pelampiasannya diam seribu kata sejak beberapa menit yang lalu.

  “Kita hanya punya waktu dua bulan, dan kamu sama sekali belum apa-apa?!” ucap Angkasa dengan suara tingginya.

Aileen berkali-kali menghela napas berat, menahan tangis di depan beberapa orang di sana. Bahkan dirinya tak dapat mengatakan apa-apa. Kepala mencoba mengingat apapun yang terjadi.

Sulit. Katanya, Aileen sudah merencanakan untuk memusnahkan gerhana. Namun, kejadian itu membuat semua musnah begitu saja. Terlebih lagi ingatannya. Rekaman masa lalu bagai terbakar hangus menjadi abu.

  “Kamu tidak becus jaga Aiden? Kunci gerhana itu ada pada dia. Jika kamu tidak segera membimbingnya, kota kita selamanya akan begini. Manusia tidak ada yang mau tinggal di sini.”

Deretan kalimat yang Angkasa ucapkan, mengundang amarah Aileen. Sayangnya, dia masih memilih diam. Hidungnya perih, sesak menahan tangis. Tidak tahu mengapa, ia terlihat lemah untuk membicarakan hal itu.

  “Kamu sendiri kan yang minta untuk jadi ketua? Kenapa kamu jadi tidak becus seperti ini? Mana Aileen yang kukenal?” ujar Angkasa berusaha menahan amarahnya.

  “Aileen yang Kapten kenal ada di sini. Hanya saja angannya retak, angannya untuk memusnahkan gerhana ini rusak. Aku memang ingin menjadi ketua, tapi kalau ingatanku hilang, aku bisa apa?” sahut Aileen dengan mata berkaca-kaca.

  “Maksudmu?”

  “Bukan apa-apa. Aku hanya ingin ingatan yang diambil itu kembali. Aku juga ingin tahu bagaimana cara mendapatkannya, agar aku tidak selalu diremehkan,” lanjutnya. Aileen menatap Angkasa, seakan ia meminta bantuan, bukan makian.

  “Sudahlah. Biarkan Aileen istirahat dulu. Kalian bisa bicarakan ini lagi nanti,” celetuk Greya yang sudah tak tega melihat gadis itu tertekan di sini.

  “Ya. Kamu keluar dulu. Kita akan bicarakan masalah ingatanmu itu.” Angkasa ikut menyahut dan menekan kata ‘ingatan’ yang sebenarnya ia tak tahu tentang itu.

Greya menggandeng tangan Aileen keluar dari ruangan. Tampak sekali wajah khawatir Greya sebagai salah satu pendidiknya dan merupakan orang tua pengganti di gedung penuh rintangan ini.

Gerhana dan KristalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang