Berpuluh-puluh tahun hidup dalam kegelapan. Entah kapan ini akan berakhir. Seluruh manusia mempertanyakan kemana cahaya pergi. Ini tentang ketidakpastian. Persetan. Manusia berharap lebih. Tidak ada yang bisa diharapkan. Belum tentu takdir akan diub...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ruang kerja FiMor terasa menegangkan usai kejadian tadi malam merenggut ketenangan. Kelima anggota berkumpul setelah perkataan Aileen membuktikan segalanya. Sunyi. Menyisakan suara dengusan napas Greya.
Wanita itu berdiri di depan meja kerja Aileen. Memandangi keempat insan di hadapannya. Naluri keibuannya muncul. Rasa khawatirnya melebihi siapapun. Berkali-kali mengusap wajah, memikirkan cara untuk menyelesaikan ini semua.
Tanpa sepengetahuan Kapten Angkasa, Greya mencoba memeriksa keadaan FiMor setelah sekian lama membiarkan hal ini diurus oleh Aileen. Ketua FiMor sebenarnya terlalu banyak melakukan sesuatu, bahkan Kota Endercity ini saja nasib buruk tidaknya ada di tangan Aileen.
Greya tidak akan membiarkan ‘Anak Panglima Rain’ harus bertanggung jawab atas semuanya. Wanita itu akhirnya menemukan titik lemahnya selama dua tahun terakhir. Kekacauan akhir-akhir ini cukup membuat keberadaan MEMOR terancam.
“Maaf aku belum melakukan pekerjaan dengan baik,” celetuk Aileen di tengah kesunyian. Lagi dan lagi ia mengucapkan kata ‘maaf’ usai semua tragedi yang terjadi.
“Tidak. Jangan minta maaf…” Greya membalikkan badan, menatap dalam raut wajah Aileen, “kamu sudah bekerja keras, tapi memang terkadang semua di luar kendali kita.”
Diam lagi. Suara detak jam dinding mengisi suasana. Sudah dapat dipastikan pikiran mereka sedang penuh. Rasanya mau meledak. Mereka berseteru dengan diri mereka sendiri. Bahkan tidak lagi sanggup menampung berbagai macam masalah.
“Kalau begitu hari ini kalian tidak usah bekerja saja. Kalian istirahat. Nanti malam, aku dan Angkasa akan membicarakan ini.” Ucapan itu seakan membuat jantung Aileen berhenti sejenak. Greya menatap Aileen sekilas, lantas pergi.
Aileen hanya mendengus, mengusap wajah dengan kedua tangannya. Dengan gelisah, ia memandang kepergian Greya hingga sosok itu hilang di balik dinding. Jika seperti ini, Kapten Angkasa akan terus menekannya. Ocehan akan melayang merusak jiwa. Berkali-kali menerima kritik yang sama sekali tidak membantu.
Mau tak mau, ia harus berjuang selama dua bulan atau mereka akan dipindahkan dengan paksa. Walaupun kota ini penuh kegelapan, tidak menutup kemungkinan bahwa tanah kelahiran mereka adalah rumah terbaik yang pernah ada.
“Kalian silahkan keluar kalau nggak ada kepentingan,” ucap Aileen sibuk menuliskan sesuatu di komputernya.
Jovan yang sedari tadi menunggu, langsung keluar dari ruangan untuk datang ke kelas kuliahnya. Begitu pula Marry yang memang tidak ada kepentingan lagi di sini. Kedua manusia itu sudah pergi. Menyisakan ketiga senior FiMor.
Kathrine mendekati meja Aileen. Wajahnya lesu. Memberanikan diri untuk berbicara setelah semalaman terdiam melihat kejadian itu. Aileen menatap wajahnya lalu mengangkat salah satu alisnya, bermaksud menanyakan keberadaannya di sisi Aileen.
“Jadi kamu bertukar kamar denganku, karena kau tahu semuanya?” tanya Kathrine lirih. Aileen mengalihkan pandangannya, mengetik sesuatu, cukup lama untuk ia menjawab.