Berpuluh-puluh tahun hidup dalam kegelapan. Entah kapan ini akan berakhir. Seluruh manusia mempertanyakan kemana cahaya pergi. Ini tentang ketidakpastian. Persetan. Manusia berharap lebih. Tidak ada yang bisa diharapkan. Belum tentu takdir akan diub...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kedua tangan memegang setir mobil pickup, mesin sudah dinyalakan. Pasukan FiMor, dipimpin oleh Aiden sudah siap untuk berangkat. Misi kali ini seharusnya tidak terlalu sulit. Mereka bisa menyelesaikannya sesegera mungkin. Banyak misi yang harus mereka lakukan ke depannya. Jadi FiMor sebaiknya bergerak cepat.
“Aman,” jawab singkat Jovan mengangkat jempol tangannya.
“Marry, peralatan lainnya udah siap?” tanya Aileen lagi.
“Udah, Kak.”
Tampaknya semua sudah disiapkan dengan baik. Waktunya Aiden menginjak pedal gas, memulai perjalanan pagi ini. Mobil pickup memutar rodanya, meninggalkan garasi gedung MEMOR. Setelah sekian lama mereka tidak menjalankan tugas sebagai anggota MEMOR. Selama ini mereka hanya diam, menunggu arahan yang entah kapan datangnya.
Sambil menikmati perjalanan, Aileen membuka kaca jendela. Merasakan hembusan angin sepoi. Beberapa helai rambut beterbangan, terkibas kemana-mana. Menghirup udara luar terasa sangat menenangkan. Perjalanan ini akan menghabiskan waktu satu jam menuju dasar gunung.
Mereka harus menaiki motor untuk sampai di Lembah Maraka. Jaraknya bisa sampai 6 kilometer. Di sana terdapat hamparan tanah kering dan berdebu. Mereka harus berhati-hati mengendarai kendaraan karena tanahnya licin. Bisa saja mereka tergelincir di sana. Untung motorbike MEMOR didesain lebih bagus untuk beradaptasi di jalanan yang sulit. Jadi bisa meminimalisir kecelakaan.
“Lo dapet sesuatu tentang pistol cahaya?” tanya Aiden mengawali pembicaraan pada suasana yang sunyi.
“Nihil. Gue dapet pusingnya doang,” jawab Aileen malas. Semalaman dia bergelut dengan komputernya. Tidak tidur sampai tengah malam demi menggali banyak informasi.
“Pistol cahaya? Kenapa gue baru denger nama itu?” Jovan menyeletuk. Pembicaraan kedua manusia di depan itu membuatnya bingung.
“Karena gue belum niat kasih tahu semuanya,” sahut Aileen.
“Kalian berdua selalu nyimpen rahasia ya. Kayak gue bukan anggota FiMor aja. Bikin kesel,” omel Jovan tidak terima.
“Sekarang lo udah tahu kan? Yaudah.” Aiden menjawab sedikit ketus. Sengaja supaya Jovan diam dan tidak banyak bicara.
Jovan berdecak sebal. Dia melipat kedua tangannya di depan dada dan memalingkan muka. Sedangkan di sampingnya, Marry hanya diam saja. Gadis itu sibuk membaca sesuatu di ponselnya. Tidak peduli dengan percakapan ketiga rekan kerjanya.
Memasuki wilayah hutan. Di kiri dan kanan puluhan pohon berjajar. Rindang dan sejuk. Walau pemandangannya serba gelap, tapi terasa sangat damai. Keempat anggota FiMor saling diam merasakan angin yang berhembus. Kapan lagi merasakan suasana healing ini di tengah misi MEMOR.