Bab 11 || Hilangnya Matahari

0 0 0
                                    

  “Maaf atas kejadian tadi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


  “Maaf atas kejadian tadi. Seharusnya saya tidak gegabah ambil keputusan. Seharusnya saya lebih bijak dalam bertindak. Sekali lagi maaf sudah buat onar. Saya akan terima hukuman untuk tidak bekerja dan ikut campur urusan MEMOR selama satu minggu. Terima kasih.” Kathrine menutup pidato klarifikasinya di depan para pekerja MEMOR.

  “Aku kecewa denganmu, Kathrine. Kau menjelekkan nama MEMOR. Kau juga sudah melanggar banyak aturan di organisasi ini. Baiklah, kau boleh keluar…” Angkasa berusaha menahan amarahnya di hadapan semua orang. Sebenarnya dia sudah tidak tahan dengan FiMor akhir-akhir ini. Keinginannya hanya terus untuk mendorong anak organisasi, malah berakhir kacau.

Kathrine pada akhirnya undur diri dari kantor Kapten Angkasa. Menimbulkan beberapa bisikan tidak enak dari pekerja lain. Padahal mereka sendiri tahu bahwa masalah ini bukan sepenuhnya kesalahan Kathrine. Tapi tetap saja mereka kecewa dengan gadis itu.

  “Lagi-lagi, orang yang tidak salah malah minta maaf…” gumam Jovan di samping Aileen.

  “Sudah seharusnya seperti ini. Lucu sekali organisasi ini,” jawab Aileen sarkas.

Angkasa kembali duduk, memperhatikan sekitarnya sebelum menutup rapat malam ini. Ia membuka beberapa berkas dari Perdana Menteri dan Wali Kota. Sudah pasti tentang pemindahan warga Endercity ke kota lain.

  “Waktu kita kurang dari dua bulan. Bagaimana, Aileen? Kalau kau tidak bisa melaksanakannya, biarkan kita pindah. Tapi lebih baik semuanya berjalan lancar…” Kapten Angkasa kembali angkat bicara. Pandangannya tertuju pada Aileen.

  “Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari kristal dan pistol cahaya itu dalam kurun waktu kurang dari satu bulan…” Aileen menjawab tanpa ragu kali ini.

  “Baiklah. Jangan kecewakan Panglima Rain. Kita tidak boleh kalah sebagai warga Endercity,” sahut Angkasa, “baik, sampai di sini rapat kita. Selamat malam.”

Keluarlah sebagian anggota MEMOR dari ruang kerja, menyisakan anggota FiMor dan Greya yang masih memikirkan kejadian sore tadi. Kathrine terkena hukuman masa percobaan selama beberapa bulan. Karena itulah dia tidak bisa bekerja di sini selama satu minggu. Itu adalah salah satu hukumannya, dan Kathrine harus menerimanya.

  “Jadi apa rencana selanjutnya, Aileen?” tanya Kapten Angkasa menyinggung soal pembicaraan singkat beberapa menit yang lalu.

Seisi ruangan menatap ke arah Aileen, menanti jawaban pastinya. Sebab selama ini mereka berdiam diri menunggu apa rencana keseluruhan ketua FiMor itu. Rencana awal untuk mengintai Adelweys tampaknya kurang efisien. FiMor harus segera bergerak sendiri. Sebelum Adelweys merebut kembali apa yang ingin mereka ambil.

  “Aku akan mengirim FiMor untuk pergi ke Gunung Maraka. Lebih tepatnya, kita akan mengunjungi Lembah Maraka…” Aileen meminjam layar proyektor milik Kapten Angkasa dan dihubungkan dengan ponsel miliknya.

Layar lebar di hadapan menunjukkan sebuah lokasi Gunung Maraka yang terkenal dengan hal-hal berbau mistis. Dari data yang diperoleh, Lembah Maraka yang berada di bagian bawah gunung merupakan tempat asal kristal cahaya. Lalu tempat itu menjadi persinggahan nenek moyang Endercity. Mereka percaya bahwa kristal cahaya sangat berjasa menghidupkan Endercity.

Gerhana dan KristalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang