Bab 13 || Tak Tertahankan

0 0 0
                                    

  “Waktu kita nggak banyak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


  “Waktu kita nggak banyak. Gue perbaiki dulu motornya…” Jovan bangkit dari tempatnya. Meninggalkan Aiden yang sedang mengembalikan seluruh energinya dengan bersandar di reruntuhan pohon.

Beberapa meter dari tempat Aiden berada, Aileen berjalan mondar-mandir sambil mengecek jam tangannya. Sedari tadi dia memikirkan sesuatu. Hal-hal yang terasa mengganjal di hatinya. Ternyata dirinya salah menganggap tempat ini aman.

Memang. Gunung Maraka tetap bisa dilalui semua orang. Tanpa pandang bulu. Hal inilah yang akan memperbesar kebebasan setiap orang untuk masuk. Entah mereka berbahaya atau tidak, takkan ada yang melarang seseorang masuk daerah ini.

  “Sialan, Langit. Dia pasti ingin sesuatu,” gumam Aiden masih merasa geram dengan perkelahian tadi. Badannya lemas tidak karuan sekarang. Ia tak dapat bergerak dengan leluasa, selain menunggu tenaganya pulih.

  “Mereka emang licik. Tapi gue nggak tahu mereka bakal selicik ini menandingi MEMOR,” sahut Jovan membanting stang dengan kasar.

Aileen memandang kedua rekannya sekilas, lantas mendengus kesal. Karena anak-anak Adelweys, ia harus menunda perjalanan selama beberapa jam. Mesin motor sebagian rusak. Sekarang, mereka juga harus bergelut dengan rasa sakit di sekujur tubuh. Bahkan tak mereka sadari salah seorang anggota mereka tidak mengabari sama sekali.

  “Kenapa Marry nggak kasih kita tanda darurat kalau ada Langit dan kawan-kawan? Maksud gue- Dia sama sekali nggak kasih kabar dari tadi…” ujar Jovan mengingatkan keberadaan Marry yang terlupakan.

  “Atau jangan-jangan dia kenapa-napa, Ketua,” ucap Aiden tersentak. Ia baru menyadari kejanggalan yang terjadi. Lelaki itu mendongak, menatap mata Aileen.

Diam sejenak. Aileen mengalihkan pandangan. Tak menjawab sama sekali. Dia bingung harus memberi respon seperti apa. Helaan napas terdengar cukup keras. Jari jemari menyisir anak rambut ke belakang, lantas ia tahan sembari mencengkeram erat beberapa helai rambut. Terasa sangat berat untuk melepas amarahnya sekarang. Ia harus mendinginkan kepala, daripada timbul masalah yang lebih serius.

  “Perlu kita hubungi Marry?” tanya Jovan hendak mengambil ponsel dari dalam sakunya.

  “Nggak perlu. Lupain.” Aileen menyahut ketus.

  “Tapi, kalau ada sesuatu di sana? Lo mau tanggung jawab kalau Marry terluka?” Aiden mengerahkan seluruh tenaganya untuk berdiri. Sedikit memprotes tanggapan Aileen.

  “Kan semuanya emang tanggung jawab gue. Dah, kita lanjutin aja perjalanannya. Motor udah aman, Jovan?” Aileen mengalihkan topik pembicaraan. Menengok pada Jovan yang sedang menyelesaikan pekerjaannya.

  “Udah. Semuanya aman.” Jovan mengangkat ibu jarinya, menandakan motor-motor telah siap dioperasikan.

  “Oke. Semuanya, ayo. Jangan buang-buang waktu…”

Tidak ada yang berani membantah perkataan Aileen. Waktu itu juga mereka bertiga segera menaiki motorbike MEMOR masing-masing. Kali ini mereka lebih berhati-hati. Motor yang mereka tunggangi tidak sekokoh awal tadi.

Gerhana dan KristalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang