BAB 15

5.1K 145 0
                                    

Drama makan bersama dengan Chris terlewati dengan baik, Ruby menghabiskan makanannya dengan gerakan cepat, bahkan mulutnya sampai penuh, dan dia masih menyuapkan makanan lagi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Drama makan bersama dengan Chris terlewati dengan baik, Ruby menghabiskan makanannya dengan gerakan cepat, bahkan mulutnya sampai penuh, dan dia masih menyuapkan makanan lagi. Ruby ingin segera pergi dari ruangan Chris kala itu meskipun laki-laki itu menyuruhnya untuk makan perlahan. Ruby tidak terlalu peduli jika cara makannya akan terlihat rakus, seperti orang yang belum makan selama bertahun-tahun.

Berkat kerakusannya itu, dia bisa kembali ke gudang dengan cepat. Berada di gudang juga tidak menyenangkan, tapi setidaknya di sana jauh lebih baik dari pada harus berlama-lama bersama Chris. Ruby harus terbiasa dengan tatapan tidak suka dari Melly, dan dia juga harus membiasakan diri dengan kehadiran Chris yang mendadak menjadi kekasihnya.

Kehidupan Ruby begitu rumit, dia harus di tempatkan pada dua situasi yang begitu sangat tidak dia inginkan. Apa sebaiknya Ruby berhenti bekerja saja? Ruby menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak. Dia sudah merasakan bagaimana rasanya menerima gaji pertamanya, dan Ruby ingin menerima gaji-gaji selanjutnya lagi. Saat rekeningnya terisi dengan saldo membuat Ruby jadi bersemangat bekerja meskipun harus selalu mendapati tatapan sinis dari Melly.

Rasanya, semuanya akan setimbang, tidak terlalu berat, dan Ruby bisa bertahan. Untuk saat ini dia masih bisa menerima semua perlakuan Melly, ya, untuk saat ini. Tidak tahu dengan nantinya, tidak akan ada yang tahu sampai kapan Ruby bisa bersabar.

“Chris tidak pernah membalas pesanku,” keluh Agnes, merebahkan tubuhnya di samping Ruby.

Mereka saat ini sedang menikmati malamnya dengan rebahan di atas kasur, memainkan ponsel masing-masing. Elsa yang fokus saling bertukar pesan dengan kekasihnya, perempuan itu duduk di lantai dengan kepala bersandar ke ranjang. Sementara Ruby, perempuan itu berbaring di kasur dengan posisi tertelungkup.

Ruby sibuk menatap layar ponsel yang dia hidupkan berulang kali, tidak melihat apa-apa, hanya menampilkan wallpaper di ponselnya. Ruby lebih fokus dengan segala pemikiran yang berkecamuk di otaknya.

Sementara Agnes, seperti yang di keluhkan oleh perempuan itu. Agnes sudah mencoba mengirimkan pesan kepada Chris, tapi tidak kunjung menerima balasan. “Apa dia terlalu sibuk?” tanyanya, menoleh ke arah Ruby yang melamun, tangan perempuan itu menekan layar ponsel ketika akan mati, memastikan jika layar ponselnya terus menyala. Agnes berdecak kesal. “Ruby!”

Ruby tersadar dari lamunannya, menatap ke samping di mana Agnes sudah berbaring di sebelahnya dengan posisi telungkup sepertinya. “Sejak kapan kau pindah ke sini?” tanyanya heran. Seingatnya tadi Agnes masih duduk di lantai, di sebelah Elsa.

Agnes berdecak. “Sedari tadi, Ruby!” Agnes menatap Ruby frustrasi, jadi sedari tadi Ruby tidak mendengarkan ucapannya.

Ruby mangut-mangut, kemudian kembali melamun dengan tangannya yang masih sibuk menekan layar ponselnya. Entah apa yang Ruby pikirkan, perempuan itu terlalu larut dalam lamunannya.

Fuck you, Ruby!” umpat Agnes, mulai kesal dengan tanggapan Ruby.

Elsa yang mendengar umpatan Agnes langsung menengadahkan kepalanya menatap perempuan itu. “Kau apakan Ruby-ku, Agnes?!”

Oh, My Boss!! (Sudah Revisi)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang