BAB 7

12.1K 304 7
                                        

“Kau gila!”

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

“Kau gila!”

Ruby tahu jika dia benar-benar gila. Agnes dan Elsa tidak berhenti mengatainya gila saat mendengar ceritanya. Ruby juga merasa malu sekarang karena dia merendahkan dirinya sendiri, tapi siapa yang peduli, toh, dia mengatakannya hanya pada Chris seorang. Tidak mungkin Chris membeberkan semua yang dia ucapkan ke orang lain bukan? Atau, Chris akan mengatakannya kepada Davin?

Ruby mendesah frustrasi, mengacak rambutnya. Dirinya saat ini sedang berada di sofa, merebahkan dirinya di atas sofa, sementara Agnes dan Elsa duduk di lantai akibat Ruby yang menguasai sofa. “Aku tidak bisa memikirkan alasan yang lain. Jika aku masih menghinanya, aku pasti tidak akan bisa kalian lihat sekarang ini.”

Ruby menarik tubuhnya untuk duduk, menatap ke arah kedua temannya. “Kalian tidak tahu betapa mencekamnya tatapan mata laki-laki itu. Di tatap begitu saja sudah membuatku ketakutan setengah mati.”

“Tapi, tidak dengan cara kau mengatakan hal menjijikkan seperti itu,” bantah Elsa. “Jika Agnes yang mengatakannya aku masih terima.”

“Enak saja!” Agnes tidak terima, menatap Elsa kesal. “Aku memang sering berganti pasangan, tapi aku tidak selonggar itu.” Suara Agnes memelan di akhir kalimatnya. Dia yakin dirinya tidak longgar.

Elsa tertawa kecil. “Maksudku, jika Ruby yang mengatakannya sangat mustahil.”

“Dia tidak akan tahu. Lagi pula aku hanya memikirkan keselamatan diriku. Pamanmu juga membiarkan Chris membawaku ke ruangannya.” Ruby masih kesal dengan Pak Burhan yang memberikan izin Chris untuk membawanya.

“Pamanku pasti juga tidak mungkin melarang. Chris atasannya.”

Ruby mengangguk, dia juga mengerti situasinya. Walaupun Pak Burhan mengenalnya sebagai teman Agnes, laki-laki itu akan di pecat jika berani menentang Chris, dia yang memberikan mereka gaji. “Jika aku kehilangan pekerjaan, dan menganggur lagi,” Ruby menatap Agnes dan Elsa secara bergantian. “Apa kalian bersedia menampungku lagi?”

“Tentu saja, Ruby,” jawab Agnes cepat, di balas dengan anggukkan setuju oleh Elsa. “Selama ini apakah pernah kami mengeluh? Kau bebas menikmati masa pengangguranmu.”

Ruby menghela napas lelah. Tetap saja, dia merasa tidak enak jika terus merepotkan kedua temannya itu. Baru saja Ruby berpikiran akan mentraktir Agnes dan Elsa saat dirinya memperoleh gaji pertamanya nanti, tapi karirnya yang baru dimulai harus redup seketika.

“Dia mengatakan akan memecatmu?” tanya Elsa.

Ruby menggeleng. Chris tidak mengatakan apa-apa karena Ruby pergi meninggalkan ruangan Chris begitu saja setelah mengatakan sesuatu yang merendahkan dirinya sendiri. “Aku tidak tahu. Aku pergi dari ruangannya, aku sudah sangat malu.”

“Coba aku tanyakan ke pamanku dulu.” Agnes mengambil ponselnya yang berada di atas meja, mencoba menghubungi Burhan untuk menanyakan perihal Ruby.

Tidak butuh waktu lama, Burhan langsung mengangkat telepon dari Agnes. “Halo, paman,” sapanya saat sambungan telepon terhubung.

Oh, My Boss!! (Sudah Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang