Tekan vote sebelum baca!
Tercengang. Tentu saja. Davin cukup tercengang melihat Chris yang duduk di sebelah Ruby, perempuan itu mendatangi Chris ke ruangannya dengan sendirinya. Hal yang membuat Davin tercengang adalah, hubungan mereka terlihat baik-baik saja, dan seperti tidak terjadi apa-apa. Chris mendapatkan maaf dari Ruby dengan mudah, laki-laki itu begitu beruntung. Hidupnya sama sekali tidak di persulit. Padahal semalam Ruby tampak begitu marah. Kemarahan itu merembet kepadanya juga, dan Davin hanya menjadi korban saat itu.
Melihat betapa manisnya senyuman kedua pasangan itu membuat Davin berdecak kagum dalam hati. Tadinya, dia mengira Chris akan frustrasi karena belum dimaafkan oleh Ruby, ternyata berbanding terbalik dengan apa yang dia pikirkan. Entah ini kekuatan cinta, atau memang Ruby sedang di butakan oleh pesona seorang Christoper Abraham.
"Hari ini kau makan siang di mana, Chris?" tanya Davin. Dia harus bertanya terlebih dahulu karena di sini ada Ruby, dan Davin yakin setelah ini akan terjadi sebuah drama singkat.
"Kau mau makan apa, Ruby?" Chris menoleh ke samping, di mana Ruby duduk.
Davin tersenyum, dugaannya tepat seratus persen. Tidak akan sampai di sini saja, akan ada drama lanjutan lagi. Pembicaraan tentang memilih tempat makan tidak akan usai dengan cepat.
"Aku tidak tahu, terserah padamu saja, Chris."
Sekali lagi. Davin benar. Seratus untuk Davin, laki-laki yang paham dengan situasinya. Saat Chris akan membuka mulutnya untuk berbicara lagi dengan Ruby, Davin terlebih dahulu memberikan saran yang cukup bisa memecahkan masalah. "Kau ingin aku memesankan makanan saja?"
Chris tampak berpikir, kemudian mengangguk singkat. Matanya masih terus menatap ke arah Ruby. "Kau ingin memesan makanan apa?"
"Aku tidak tahu, Chris. Terserah padamu saja."
"Bagaimana jika aku memesan makanan di restoran yang biasa kau pesan, Chris?" Davin kembali memberikan saran, dia lelah jika harus mendengar drama episode-episode selanjutnya. Dia hanya ingin semuanya di putuskan dengan cepat, dan dia bisa makan dengan aman di ruangannya sendiri.
"Bagaimana, Ruby?" Lagi, dan lagi Chris melemparkan pertanyaan kepada Ruby.
Ruby mengangkat bahunya. "Terserah, Chris."
Davin menarik napas, kemudian menghembuskannya. "Aku akan memesankan makanan di restoran biasa dengan menu yang biasa," putusnya. Davin tersenyum ketika kedua makhluk yang sedang jatuh cinta itu mengangguk, menyetujui. "Baik, aku akan memesankannya. Kalian bisa menikmati waktu kalian. Saat makanannya datang, OB akan mengantarkannya ke sini."
Davin menatap ke arah Chris. "Jika butuh sesuatu, aku ada di ruanganku, Chris."
Setelahnya, Davin melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Chris. Davin berhenti sejenak di depan ruangan laki-laki itu, mengeluarkan ponselnya untuk mengirimkan pesan singkat kepada Chris. Davin hanya ingin mengingatkan Chris agar tidak melupakan obat yang dia dapatkan dengan susah payah dari dokter, ya, walaupun tidak terlalu susah sebenarnya. Tetap saja Davin harus mengeluarkan isi otak, dan usahanya untuk mendapatkan obat itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Oh, My Boss!! (Sudah Revisi)
Romance(FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA UNTUK MEMBUKA BAB YANG DI PRIVATE ACAK!) Tak kunjung mendapatkan pekerjaan, Ruby menerima tantangan dari kedua sahabatnya untuk mengajak tidur laki-laki acak yang berada di bar di mana mereka sedang minum-minum. Sebagai...