(FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA UNTUK MEMBUKA BAB YANG DI PRIVATE ACAK!)
Tak kunjung mendapatkan pekerjaan, Ruby menerima tantangan dari kedua sahabatnya untuk mengajak tidur laki-laki acak yang berada di bar di mana mereka sedang minum-minum. Sebagai...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Saat masuk bekerja kembali keesokannya, Ruby terkejut mendengar kabar jika Daffa di pecat secara tidak terhormat dari MFood. Laki-laki itu di pecat dengan tuduhan melakukan tindakan pelecehan terhadap salah satu pegawai MFood. Ruby tidak terlalu tahu siapa korban dari pelecehan yang dilakukan oleh Daffa, tapi saat dia masuk bekerja, Daffa sudah tidak bekerja di gudang lagi, Ruby hanya tinggal berdua bersama Melly mengurus segala dokumen di pergudangan.
Apa ini bentuk pembalasan yang di katakan oleh Chris? Bisa saja bukan laki-laki itu yang melakukannya? Tapi, untuk apa? Chris tidak akan memiliki keuntungan dengan memecat Daffa, justru hal itu akan mempersulit keadaan karena mereka akan kekurangan tenaga kerja di gudang.
Untuk menutupi kekurangan tenaga kerja di gudang, Pak Burhan terpaksa membuka lowongan pekerjaan baru, mencari seseorang yang akan menggantikan Daffa. Untuk sementara waktu, Melly terpaksa harus membagi tugas dengan Ruby yang masih sangat pemula. Ruby sangat tahu jika dirinya membuat repot Melly, perempuan itu menggerutu tidak jelas setiap kali berhadapan dengan Ruby.
Di tambah semenjak Daffa tidak lagi bekerja di gudang, Melly tidak pernah memperlihatkan wajah ramahnya lagi. Perempuan itu selalu memasang wajah tidak suka. Hanya ketika ada Daffa saja Melly akan tersenyum, dengan tidak adanya Daffa, maka senyuman di wajah Melly ikut lenyap.
“Kau enak kemarin bisa libur,” sindir Melly, berbicara tanpa melihat ke arah Ruby yang duduk di sebelahnya. “Aku harus mengurus pekerjaan karena Daffa di pecat. Aku yakin yang melaporkan Daffa pasti iri dengan laki-laki itu.”
“Maafkan aku, Melly. Aku akan mencoba membantu sebisaku.”
“Membantu katamu?!” Melly menatap Ruby kesal. “Kau hanya mengacaukan pekerjaanku, lebih baik kau yang di pecat, bukan Daffa!”
Ingin rasanya Ruby memberitahu Melly jika Daffa berniat jahat kepadanya, tapi perempuan itu pasti tidak akan peduli dengan kondisi Ruby. Melly hanya peduli dengan Daffa, penyemangat hidupnya yang selalu membuat hari Melly tampak cerah. Kali ini, Melly menjalani hari yang suram bersama Ruby.
Ruby memilih merapikan dokumen yang baru saja di cetak, membawanya ke meja sebelah di mana di sana ada alat pemotong kertas. Ruby menyusun dokumen itu dengan rapi di atas alat itu.
“Kau lama sekali!” gerutu Melly, menekan pisau pemotong kertas ke bawah tanpa memberikan Ruby aba-aba. Akibatnya tangan Ruby yang masih berada di bawah alat itu ikut terkena pisau.
Ruby mengaduh, menarik tangan kanannya menjauhi alat pemotong kertas. Ruby menatap jari telunjuknya yang terluka. “Kau bisa memberitahunya padaku. Tanganku masih ada di bawah pisaunya.”
Melly melirik tangan Ruby yang berdarah. “Baru terluka sedikit kau sudah marah.” Melly beralih menatap kertas yang terkena darah Ruby. “Kau lihat ini! Karenamu kertasnya jadi rusak, kau harus mencetaknya ulang!”
Bukankah yang harus di salahkan itu Melly? Kenapa perempuan itu malah memutar balikkan fakta dengan menyalahkannya? Ruby menatap nanar ke arah Melly yang bergerak menjauhinya, perempuan itu menghampiri mobil yang sedang di muat.