Sudah berulang kali gadis itu berkaca di depan cermin. Menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, lantas mengurainya lagi. Ia menata poni depannya di depan kaca, menggelengkan kepalanya pelan, membuat rambut ya ikut bergerak seirama.
Melihat temannya seperti itu, Rose tertawa cekikikan. Gadis itu masih dalam proses mewarnai rambutnya. Rose memang tidak asal bicara tentang mau mengajak Jihyo dan Mina ke salon. Ketiganya memutuskan untuk melakukan perawatan rambut saat hari Sabtu. Mumpung kuliah libur. Selain itu, sehabis pulang dari salon mereka juga bisa jalan-jalan lebih dulu. Lumayan buat refresh pikiran.
"Lo udah kaya gitu sekitar 20 menitan, Ji." Mina berujar dengan nada jengah. Gadis itu menyelipkan rambut panjangnya yang telah dipangkas sedikit untuk menghilangkan ujung rambut yang bercabang. Selain itu, atas saran dari pegawai salon, gadis itu memotong poninya menjadi poni pagar. Membuat wajahnya tampak lebih imut dan ceria.
Sedangkan Rose, tentu saja gadis itu melaksanakan rencana awalnya. Mewarnai rambut menjadi coklat. Jihyo? Masih sibuk dengan model rambut yang tak pernah dicoba sebelumnya.
Gadis itu memotong rambutnya sebahu.
"Bunda, Ayah, sama Bang Sungjin pasti kaget." Pikirnya.
Jihyo tidak pernah memiliki potongan rambut pendek sebelumnya. Paling pendek mungkin 10 cm di bawah bahu. Ia terlalu malas untuk ke salon. Mau mencoba gaya rambut baru pun, takutnya malah tidak cocok. Tapi ini... wahhh... Dirinya bahkan terpana melihat wajahnya yang terlihat baru. Sangat fresh.
Ia akhirnya memutuskan untuk duduk di sebelah Mina. Menunggu Rose menyelesaikan mengecat rambut.
"Lo nggak sekalian cat rambut, Ji?"
"Nggak, ah. Nanti makin kaget keluarga gue ngelihatnya."
Mina mengangguk. Setuju dengan ucapan Jihyo yang menolak ajakan Rose untuk cat rambut.
Gadis itu kemudian memilih untuk berswa foto. Sesekali juga meminta bantuan kepada Mina untuk memotret dirinya. Mina tidak keberatan. Gadis itu hanya menurutinya, bahkan mengarahkan Jihyo untuk berpose agar terlihat makin cantik dan menawan.
Lima belas menit kemudian, Rose selesai. Rambutnya terlihat lebih berkilau dengan warna coklat gelapnya. Gadis itu tampak sangat puas dengan rambut barunya. Ketiganya lantas pergi setelah membayar. Karena lapar, mereka akhirnya memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum keliling mal untuk membeli sesuatu atau sekadar melihat saja.
**
Sesuai dugaan, seluruh keluarga Jihyo kaget dengan perubahan rambutnya. Bundanya sampai bertanya apakah anak gadisnya itu sedang patah hati sampai memutuskan untuk memotong rambut. Jihyo hanya tertawa dan berkata jika semuanya baik-baik saja. Ia hanya ingin model rambut yang baru. Bang Sungjin dan Ayah memberi tanggapan yang positif. Ayah bahkan memotret Jihyo dengan rambut barunya untuk diabadikan. Katanya, sebagai kenangan hari pertama Jihyo potong rambut pas udah gede gini.
Jihyo masih tersenyum karena senang dengan rambut barunya. Dengan tangan yang membawa piring berisi martabak manis, Jihyo melangkah memasuki rumah Mingyu. Netranya mendapati presensi tante Jiwon yang sedang menonton televisi bersama dengan Om Seojoon.
"Loh Jihyo?" Tante Jiwon terlihat kaget melihat Jihyo. "Potong rambut, kamu?"
"Hehehe, iya Tan. Lagi pengen." Gadis itu mendekat, memberikan martabak di piring kepada Jiwon. "Martabak bikinan Bunda. Katanya suruh kasih ke Tante buat temen nonton."
"Ngerepotin kamu aja ini. Makasih loh, Ji. Sering-sering ya." Om Seojoon terkekeh, lantas mencomot martabak yang telah diletakkan di atas meja.
"Mingyu ada di kamarnya, Ji. Kamu naik aja kalau mau ketemu tuh anak. Dari tadi di kamar terus. Ngerjain tugas katanya."

KAMU SEDANG MEMBACA
From Sidekick to Significant Other
Teen FictionSebelumnya, Jihyo tak pernah membayangkan jika Mingyu mampu membuat jantungnya berdebar tak normal. Mereka teman sedari kecil. Bahkan pernah mandi bersama saat berusia lima tahun. Maka untuk meyakinkan perasaannya sendiri, Jihyo mulai melakukan aksi...