Sepuluh

82 12 2
                                    


Sesudah mengantarkan Rose kembali ke kosannya, suasana di mobil menjadi cukup awkward. Mingyu mengusap belakang lehernya tanpa ada alasan. Sedangkan Jihyo berfokus pada jalanan di sampingnya. Tangannya meremas celana bahan yang dipakainya. Dia gugup. Sungguh. Bahkan suhu dingin dari AC tak membantu sama sekali. Bulir keringat mulai keluar dari dahinya. Spontan, gadis itu membuka resleting jaketnya.

Mingyu menoleh. Terkekeh pelan melihat piyama gadis itu yang bermotif hello kitty, "Lo tadi ke cafe pake gituan, Ji?"

Jihyo menoleh kaget. Beberapa detik kemudian, dia kemudian sadar maksud 'pakai gituan' yang disebutkan Mingyu. Gadis itu hanya mengangguk, tertawa pelan juga.

"Buru-buru tadi. Takut Rose kenapa-kenapa. Dia kalo berantem sama cowoknya suka nggak ngotak."

Mingyu hanya mengangguk paham, "Oh.. pantesan tadi matanya agak sembab gitu ya "

Jihyo jadi teringat obrolan keduanya mengenai hubungan Rose dan June sebelum kejadian.. ehem.. waktu itu. Mingyu bilang, selama keduanya nyaman tidak ada yang tidak mungkin kalau hubungan mereka tetap dipertahankan.

"Kenyataannya tadi mereka putus," Jihyo buka suara. Membuat Mingyu menoleh. Mata mereka bertatapan selama beberapa detik sebelum Mingyu kembali memfokuskan diri pada jalanan di depan, "Waktu itu lo bilang, kalau nyaman bisa aja hubungan mereka tetap awet. Tapi nyatanya enggak. Gue kecewa sama June. Harusnya dia kasih penjelasan sama Rose. Bukannya diiyain aja pas Rose minta putus."

Mendengar nada kesal dari ujaran Jihyo, Mingyu tersenyum samar. Dua hari ini ia sungguh rindu dengan Jihyo yang bawel. Dia suka jika gadis itu menceritakan segalanya kepada dirinya.

"Gini ya, Ji.. mereka putus kan pasti ada alasannya tuh. Lo pernah cerita kalo mereka sering berantem. Mungkin mereka ada di fase capek. Daripada baikan terus ujungnya minta putus, mending putus aja sekalian."

"Ya tapi menurut lo kenapa June bilang kalau dia protektif dan bukan posesif?" Jihyo menyerongkan badannya menjadi menghadap Mingyu. Tertarik dengan jawaban yang disampaikan lelaki itu.

"Maksudnya?"

"Iya, tadi June bilang kalau temen cowoknya Rose itu nggak baik. Padahal katanya Rose-" Ucapan Jihyo terpotong saat mendengar tawa Mingyu sekaligus merasakan usapan pelan di atas kepalanya. Membuat rambut ya berantakan. Eumm.. sekaligus hatinya

"Cowok brengsek juga bisa baik kalau ada maunya, Ji."

"Ya tapi kenapa June nggak ngejelasin ke Rose?"

Jihyo bisa melihat jika mobil Mingyu berbelok ke arah kompleks rumah mereka.

"Kayak nggak tahu aja kalau cewek tuh keras kepala." Mingyu tersenyum ke arah Jihyo. Lelaki itu mendapat tatapan sinis. "Cewek nggak bakal percaya sebelum tau sendiri pake mata kepalanya. Jadi mungkin pacarnya Rose maunya biar Rose tau sendiri. Lagian kayaknya mereka butuh instrospeksi juga."

Jihyo mengangguk. Gadis itu tidak sadar jika mobil yang mereka kendarai sudah berhenti tepat di depan rumah Mingyu. Matanya terfokus memandangi figur sahabatnya itu. Baru Jihyo sadari jika Mingyu memiliki hidung yang sangat mancung. Berbeda dengan hidung mungil miliknya.

Gadis itu berkedip salah tingkah saat Mingyu tiba-tiba menoleh, "Tapi kan June bisa jelasin dulu. Jangan langsung iyain aja. Kasihan Rose. Pasti dia patah hati."

"Udah konsekuensi. Jatuh cinta sama patah hati kan udah satu paket."

Saat melihat ke arah depan, Jihyo baru sadar jika mereka sudah sampai. Gadis itu lantas membuka seatbeltnya, "Gue balik ya. Thanks!"

Gadis itu lantas keluar dari mobil Mingyu. Tak mau berlama-lama lagi. Namun belum sampai ia jalan tiga langkah, suara Mingyu yang memanggilnya membuat ia berjalan ke arah kaca pengemudi.

From Sidekick to Significant OtherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang