Mingyu uring-uringan seharian ini. Teman-temannya sudah kena amuk, contohnya Jaehyun. Lelaki itu dimarahi Mingyu habis-habisan hanya karena bercanda saat kelas berlangsung dan berakhir dengan menggerutu kepada Eunwoo. Sementara Jungkook hanya memperhatikan mereka diam-diam.
Ia jelas mengetahui alasan sahabatnya itu menekuk muka. Karena setelah latihan band tadi, ia mendapatkan notifikasi dari instagram yang memberitahukan bahwa Jihyo membuat story baru. Awalnya ia mengira itu Mingyu, tapi setelah melihat batang hidungnya di kelas, ia bertanya-tanya dengan siapa Jihyo membuat story tersebut.
Jungkook mengakui jika ia tertarik dengan gadis berambut pendek itu. Tapi melihat Mingyu yang juga tertarik, ia jelas mundur secara perlahan. Hanya ingin memanas-manasi saja jika Mingyu kurang peka dan tidak gercep. Toh tidak ada ruginya, Jihyo juga asik dijadikan teman kok.
"Anjing! Nih dosen kapan keluarnya sih? Lama banget dah, daritadi jelasin praktikum udah dua kali diulang terus." Jungkook bertukar pandang dengan Jaehyun yang menatapnya seolah mengatakan jika sedari tadi Mingyu memang kurang menyenangkan.
Sementara yang dipandangi hanya mendengarkan penjelasan dosen sambil terus melirik ruang obrolannya dengan Jihyo. Ia mengirimi beberapa pesan kepada gadis itu dan tak kunjung mendapat balasan. Pikirannya sudah membayangkan macam-macam.
Bagaimana jika hubungan keduanya semakin dekat?
Bagaimana jika Dowoon mengambil langkah lebih dulu dari dirinya?
Bagaimana jika Jihyo lebih menyukai Dowoon dibandingkan dirinya?
Aduhh!!
"Baik guys, jadi Bapak harap kalian tidak lupa bawa baju lab dan beli bahan sesuai dengan prosedur yang saya kirim di grup ya. Saya akhiri perkuliahan kali ini. Selamat sore."
Dengan segera, Mingyu membawa tasnya di punggung. Meninggalkan temannya yang hanya memandang dengan tatapan aneh. Lelaki jangkung itu semakin mempercepat langkahnya melihat langit berwarna jingga. Untungnya, hari ini ia membawa motor. Akan sangat merepotkan dan membuang waktu menghadapi kemacetan di sore hari. Itu akan memperlambat waktunya untuk memastikan Jihyonya baik-baik saja. Lebih tepatnya, memastikan perasaan Jihyo yang baik-baik saja tentunya.
Motornya melaju dengan kecepatan tinggi membelah ramainya jalanan yang disesaki oleh kendaraan lain. Dalam perjalanan pulang itu, Mingyu memantapkan hati untuk menegaskan perasaannya kepada Jihyo.
***
Rencana untuk mengakui perasaannya ia urungkan ketika melihat mobil berwarna putih terparkir di depan rumah Jihyo. Ia hafal jika itu adalah mobil milik Mina. Tanpa sadar, ia menghela nafas lega saat sayup-sayup rungunya menangkap suara keramaian dari para gadis.
Mingyu jadi ragu apakah harus menemui Jihyo atau tidak. Tapi karena ia sudah berada di depan pintu utama, maka mau tak mau ia segera masuk ke dalam.
"Loh, Mingyu?" lelaki itu tersenyum canggung melihat kehadiran ayah Jihyo. Ia menghampiri lelaki berusia awal lima puluhan itu, lantas mencium punggung tangannya, "apa kabar, Gyu?"
Mingyu tersenyum dan ikut duduk di sofa ruang tamu, "Saya baik, Om. Om gimana kabarnya? Kayaknya udah lama ga ketemu."
"Iya nih lagi sibuk banget, banyak proyek. Jadi sering pulang malam," Mingyu tersenyum dan menganggukkan kepala.
Dari ekor matanya, ia bisa menangkap pergerakan dari arah tangga. Terdapat dua sosok perempuan yang dikenalnya. Rose dan Mina. keduanya tampak asik mengobrol dan berpamitan pada Bunda Jihyo.
"Lo disini juga, Gyu?" Mina menyapa dengan ramah.
Keduanya bersalaman dengan Ayah Jihyo sebelum lelaki itu meninggalkan ruang tamu menuju ke arah dapur. Menyusul istrinya yang sibuk memotong buah.

KAMU SEDANG MEMBACA
From Sidekick to Significant Other
Roman pour AdolescentsSebelumnya, Jihyo tak pernah membayangkan jika Mingyu mampu membuat jantungnya berdebar tak normal. Mereka teman sedari kecil. Bahkan pernah mandi bersama saat berusia lima tahun. Maka untuk meyakinkan perasaannya sendiri, Jihyo mulai melakukan aksi...