Delapan Belas

90 14 8
                                    



Jihyo bodoh!

Sudah berkali-kali gadis itu mengutuk dirinya sendiri. Disaksikan oleh ketiga teman perempuannya yang menganggapnya agak tidak waras. Mina bahkan beranggapan bahwa gadis itu ketempelan hantu.

Rambutnya sudah awut-awutan. Gadis itu hampir menghabiskan satu jam di dalam kamar mandi. Ia sudah selesai, akan tetapi terlalu malu untuk keluar karena semua temannya sudah berkumpul.

Pun saat melihat ponselnya, Jihyo mendapati banyak sekali pesan.

Mingyu: lo gapapa?

Jungkook: r u okay?

Alih-alih membalas pesan Mingyu, ia memilih untuk membuka pesan dari Jungkook untuk membalasnya.

Sorry, gue mules banget dan kayaknya masih lama. Tinggal aja, Jung

Emang udah ditinggalin
Yang lain gue suruh berangkat dulu
Gue tunggu kalau udah selesai

Jihyo meringis. Ia suka pantai. Dan sepanjang perjalan kesini tadi, ia sudah bisa membayangkan menikmati keindahan pantai sepanjang hari. Akan sangat disayangkan jika ia tidak ikut.

Maka dengan setengah hati, ia melangkah keluar dari kamarnya. Menemukan Jungkook yang sedang duduk di sofa seorang diri. Sedang mengetik sesuatu di ponsel, entah untuk siapa.

"Jungkook," panggilnya pelan. Lelaki itu menoleh ketika mendapati Jihyo berdiri kaku di depan kamar sembari mengedarkan pandangan. "Yang lain udah pada berangkat?"

Lelaki itu mengangguk. Lantas berdiri dan meneliti pakaian Jihyo dari atas sampai bawah, "Udah baikan? Lo yakin pakai baju gitu? Ga takut tambah sakit?"

Celetukan lelaki itu membuat Jihyo terkekeh, "Ya engga lah. Lagian gue cuma mules pengen buang air besar. Bukan masuk angin!"

Jungkook terkekeh, ia menyuruh Jihyo untuk memakai jaket terlebih dahulu. Setidaknya gadis itu membawa jaket untuk menutupi lengan dan bahunya yang terbuka. Gadis-gadis memanglah aneh. Udara malam di pantai itu dingin dan berangin, tapi mereka malah memakai baju bertali tipis.

"Mau berangkat sekarang?" tanya Jihyo setelah berada di samping sofa.

Pertanyaannya itu dijawab anggukan oleh Jungkook. Lelaki itu memasukkan ponsel ke dalam saku, mengambil jaket untuk disampirkan ke lengan, lantas merangkul bahu Jihyo untuk berjalan keluar, "Ayo berangkat, Mingyu udah nunggu di mobil."

Apaaa??? Jihyo tidak salah dengar kan?!


**


Demi bintang di langit yang malam ini bertaburan begitu indah, Jihyo ingin menghilang dari muka bumi melihat Mingyu sudah duduk di balik kemudi. Lelaki itu tersenyum dan melambai kepada Jihyo. Gadis itu memilih acuh sembari menutupi wajahnya dengan rambut pendek yang mulai memanjang. Lantas masuk ke bagian belakang pintu penumpang. Disusul oleh Jungkook.

"Lo pikir gue supir?!" ujarnya tak terima ketika melihat Jungkook di belakang.

Jungkook tertawa kencang, "Kali aja Jihyo butuh pundak untuk bersandar. Gue akan siap sedia." sejurus kemudian lelaki itu berpindah untuk duduk di depan. Sebelum Mingyu mengamuk lebih parah lagi. Dibecandain begitu saja wajahnya sudah ditekuk. Apalagi kalau ia benar menyenderkan kepala Jihyo ke dadanya. Duhh...

"Udah nggak mules lagi, Ji?" Mingyu bertanya untuk mencairkan suasana. Tapi yang dirasakan Jihyo bukan hanya suasananya saja yang cair. Seluruh badan rasanya akan mencair.

From Sidekick to Significant OtherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang