05. Go home

14.2K 695 30
                                        

Mata Kanagra kini berkaca-kaca, menatap Jonson. Jonson panik. “Tuan Kecil… jangan menangis dulu. Saya… saya di sini. Bi Anna juga. Kami akan selalu ada untukmu…” Namun Kanagra sudah terlalu tersentuh, campuran antara penasaran, kecewa, dan kesedihan membuat dadanya sesak.

________________________________________

Entah mengapa, setelah mendengar penjelasan Jonson, air mata Kanagra mengalir deras tanpa bisa ditahan. Hatinya terasa sesak, seakan seluruh luka masa lalu kembali menekannya. Betapa kejamnya perlakuan keluarga Rexalio terhadap Kanagra yang masih bayi—betapa kecil dan tak berdayanya ia saat itu, namun sudah menerima kebencian yang begitu membekas.

[ Loh… Tuan? Ada apa? Kenapa menangis? ( '・・) ]

Kanagra mendengar pertanyaan itu dari Sistemnya, namun malah membuatnya semakin bingung akan perasaannya sendiri. Kenapa tiba-tiba ia menangis? Ia merasa aneh—bukan dirinya yang biasanya mudah cengeng.

Gue… gue juga ga ngerti… hikss…” batin Kanagra, suaranya tertahan di kerongkongan.

Air… hikss mata gue… tiba-tiba… turun sendiri… hikss…”

[ Ah… sepertinya saya mengerti penyebabnya, Tuan. ('・`) ]

Hikss… apa? Hic...” Tanya Kanagra, penasaran. Hatinya selalu kuat di dunia asli. Alex hanya menangis untuk hal-hal yang benar-benar berharga. Tapi kini, kenapa ia menjadi begitu cengeng di raga Kanagra ini?

[ Anda menangis karena perasaan Kanagra asli, Tuan. Sebab Anda berada di raganya, maka Anda merasakan emosi yang ia rasakan. ]

Hikss… perasaan Kanagra… asli?” Batin Kanagra heran. Hanya karena berada di tubuh Kanagra asli, ia dapat merasakan emosinya? Bagi Kanagra—atau Alex—hal ini bukan masalah, kecuali satu hal: menangis. Sungguh tak pantas baginya menangis hanya karena rasa sakit yang seharusnya bukan miliknya.

[ Benar, Tuan. (^▽^) ]

Hikss… jadi gue… hikss… menangis karena perasaan Kanagra asli…

[ Yap. Jika Tuan merasakan emosi yang bukan milik Tuan sendiri, maka itu adalah emosi milik Kanagra asli, Tuan. ]

Kini Kanagra mengerti. Tangisnya, dada yang sesak, semua rasa pilu itu berasal dari pengalaman Kanagra asli—merasakan perlakuan dingin keluarga Rexalio yang menyiksanya sejak lahir. Alex tak habis pikir; Kanagra adalah titipan terakhir Mommy Caroline, seharusnya dijaga bak permata, namun malah disakiti dan diabaikan.

Sementara itu, lamunan Kanagra melayang jauh, memikirkan nasibnya setelah keluar dari rumah sakit. Haruskah ia kembali ke mansion, tempat yang selalu menyiksa dan membuatnya menderita? Hatinya kacau; takut, sedih, dan gelisah bercampur dalam satu rasa yang tak terlukiskan.

Namun lamunannya terhenti ketika suara Jonson yang khawatir memanggilnya.

“Tuan Kecil?”

Suara itu lembut, tapi sarat kekhawatiran, membuat Kanagra tersentak. Ia menatap Jonson sejenak, tatapan yang membuat pria itu terdiam dan gemetar. Mengapa Tuan Kecil menatapnya begitu intens? Apakah ia telah melakukan kesalahan? Namun Jonson yakin, tak ada sedikit pun kesalahan dari Kanagra.

“A-ada apa, Tuan Kecil?” tanya Jonson, suaranya bergetar sedikit.

“Ungg… ndak,” jawab Kanagra sambil menggeleng lemah, kemudian menelusupkan wajahnya ke leher Jonson, menyembunyikan poninya di sana. Ia menggesekkan wajah dan rambut lembutnya ke dada bidang pria itu, membuat Jonson menahan senyum dan getaran kegelian yang mengalir melalui tubuhnya.

A LIFE UNVEILEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang