chapter 5

313 36 2
                                        

Etss, tunggu dulu.

Sebelum masuk ke ceritanya, di vote dulu yuk chapter ini, hehe...

••§••

"Awas!!"

Bruk!!

Janu hampir tertabrak karena gegabah. Akibatnya dia membuat orang lain terluka.

"Shh duh! ... Kaki gue!"

"Eh, sorry gue gak liat kanan kiri tadi pas nyebrang," Janu membulatkan matanya melihat nametag di baju orang itu tertulis Brayen Prayoga.

Mendengar itu sontak orang itu membuka helm hitamnya yang terlihat mahal sambil menyisir rambut menggunakan tangan dan ternyata yang hampir menabrak Janu adalah kakak kelasnya yang sangat populer.

' Duh, mampus gue ... Gimana nanti kalau para fansnya disekolah tau karena gue kaki ni orang bisa luka kek gini?
Pasti mereka semua akan marah besar atau bahkan akan membalas gue juga? ... Ceh, lagian kenapa sih pagi-pagi udah ketemu ni orang ' batinnya.

"Emangnya dengan minta maaf doang Lo bisa nyembuhin kaki gue?" ucapnya dengan tatapan tajam seraya menunjukkan luka di kakinya karena jatuh mencoba menghindari Janu.

"Enggak sih." Jawab Janu singkat.

Brayan bergidik bingung, tu anak gak ada tampang rasa bersalah sedikitpun gitu? "Sekarang Lo harus ganti rugi karena Lo udah buat kaki gue kek gini"

"Berapa?"

Sumpah, rasanya Brayen ingin membejek cowok di sampingnya ini, "lima ratus juta"

Janu tertegun mendengar nominal ganti rugi yang harus dibayar nya. "Tapi gue gak ada duit segitu."

"Ya mintalah sama ortu Lo sono"

Janu menggeleng cepat, "ah, ribet. Gue ada uang kok ... " Ia merogoh saku seragam sekolahnya, "nih sepuluh ribu."

Brayan mengerutkan dahi, apa anak itu bercanda?

"Eh bangsat! Lu kira gue ni murahan apa? ... Minta duit sama bokap lu sana."

Janu terlihat berfikir sejenak, tidak mungkin dia meminta uang kepada ayahnya yang kejam itu
Apa lagi 500 juta bisa bisa Janu di hajar habis habisan. Janu selalu berpikir kalau dia meminta sama ayahnya itu hanya akan membuat umurnya semakin singkat.

"Yauda gini aja ... sebagai gantinya, Lo harus ngerawat gue sampai kaki gue sembuh aja gimana?"

Janu menaikkan satu alisnya. "Dih, ogah gue sibuk" tolaknya mentah.

Aduh Nunu, padahal itu kesempatan buat lu, mungkin bisa juga dimanfaatin, ehh.

"Yauda kalau gak mau,Lo ganti rugi kaki gue, cepet!"

"Ihh ... yauda iya, gue rawat Lo sampai semmmbuhhh total"ucap Janu penuh penekanan, dipikir-pikir tugasnya juga gak terlalu sulit dari pada harus minta uang. Lagian lukanya juga gak terlalu parah pikirnya juga.

"Dah minggir"suruh nya dan langsung naik ke motor mahal milik Brayen

"Siapa yang nyuruh Lo naik motor gue?"

"Ah udah ayok, kita udah telat ini" Janu menarik tangan Brayen untuk duduk di belakangnya

Merekapun pergi ke sekolah bersama, dan untungnya juga mereka masih dibolehkan masuk ke kelas oleh satpam penjaga gerbang sekolah

.

Di jam istirahat, tampak keenam remaja sedang makan di kantin. Banyak suara terdengar disana, ada yang asik gosip, bahkan ada juga yang rosting guru yang mereka benci. Di antara kalian ada gitu juga gak?

"Dimana Janu?"tanya Alden pada Yogi yang masih mengunyah makanannya.

"Oh, Janu pergi sebentar ada urusan katanya"

Alden melontarkan tatapan bingung, sejak kapan sahabat mereka satu itu sibuk. Selama bersekolah dia selalu santai dan damai. "Urusan apa?"

"Gak tau tapi katanya nanti dia juga kesini"

"Oh"Alden mengangguk mengerti.

Dari kejauhan terlihat Janu berlari menghampiri mereka, wajah penuh keringat, ditambah cahaya matahari yang terik membuat kulitnya bersinar. "sorry ya gue telat"

"Iya, Abang dari mana?"kali ini vilas yang bertanya, rasa penasaran anak ini beda dari yang lain, hal sekecil apapun pasti dia tanyakan.

"Adadeh"Janu tak mau memberitahu.

"Bang Janu ah gak asik" bibir cemberutnya tampak lucu, abang-abangnya selalu dibuat gemas sama tingkah adek Villas ini, ia selalu memanggil keenam sahabatnya dengan sebutan Abang walau dia cuma lebih muda dua tahun dari yang lain.

Janu terkekeh geli melihat vilas yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri itu ngambek padanya, "jangan ngambek dong, nih pesawat datang aaaaa" Janu menyuapi permen lolipop ke mulut villas menirukan pesawat terbang.

"Makasih bang Januu"dengan sekejap Vilas tersenyum bahagia lagi dengan lollipop yang dia beli sebelum memasuki kelas tadi pagi, mood anak ini rentan berubah tergantung situasi.

Usia mereka hanya beda beberapa bulan saja tapi vilas selalu bersikap manja padanya.

"Gampang banget buat nyulik vilas, tinggal kasih permen aja udah ngikut dia" celetuk Ratan bercanda yang berhasil membuat teman temannya tertawa.

"Biarin, yang penting dapat permen lollipop" jawaban itu mendapat gelengan dari abang-abangnya.

"Oh ya nu, kamu gak mesan makanan?"tanya dipta menghentikan tawa mereka.

"Gak dip,"Janu menggeleng kecil.

"Kenapa gak makan bang?" Ratan ikut bertanya, anak dengan bau khas minyak telon itu mengerutkan dahinya.

"Lagi gak lapar aja tan" Janu cuma menjawab seadanya.

Sebenarnya dia pun sangat lapar,karena tadi pagi dia tidak sempat untuk sarapan Dan tidak diberi uang jajan juga. Bahkan hampir setiap hari Janu tidak diberikan uang untuk jajan. Dia hanya bisa menahan rasa laparnya, yang lebih parahnya tadi pagi ia berbohong sama Brayen kalau dia cuma ada uang sepuluh ribu. Padahal nihill ...

••§••

Ketujuh sahabat itu berjalan disekitar lapangan sambil melontarkan canda tawa mereka, sebagaimana anak remaja pada umumnya yang tengah menikmati masa-masa SMA.

§

"Janu!!"

Teriakan itu berhasil menarik perhatian Janu, ia langsung berlari ke sumber suara, meninggalkan sahabat-sahabat yang menatapnya bingung.

Tbc.


Thanks yang udah baca ceritanya 🥰🥰 semoga kalian suka sama ceritanya...
Jangan lupa vote

Wings of dreams Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang