Sebelum masuk ke cerita, di vote dulu yuk chapter nya, biar gak lupa nantinya.
😁😁
••§••
Cahaya matahari pagi terpancar pasuk dari sela-sela gorden, cicitan burung terdengar merdu di telinga. Meski tubuhnya masih lemah dan lelah, ia tetap menyelesaikan rutinitasnya paginya, termasuk menyiapkan sarapan untuk orang yang seharusnya menjadi kepala rumah tangga, namun ia tak merasa Adi seperti itu. Setelah semua beres, Janu pun berangkat menuju SMA. Bolos sekolah adalah pantangan bagi anak rajin sepertinya.
Di tengah rasa sakit dan dingin yang masih terasa, hati kecil Janu akan tetap menyimpan cinta untuk ayahnya. Bagaimanapun kejamnya perlakuan ayahnya, Janu tak pernah bisa membenci pria itu.
Sekarang ini hanya Adi lah satu-satunya keluarga yang ia miliki, dan satu-satunya sosok yang membuatnya merasa punya tempat pulang. Walaupun rumah itu menjadi rumah yang sangat dingin. Janu berharap suatu hari, ayahnya akan berubah dan bisa menerimanya dengan lebih hangat dan lembut.
••§••
Selama pelajaran berlangsung, pikiran Janu benar-benar melayang. Nama Alden terus terngiang-ngiang dalam benaknya. Teman yang biasanya duduk di sampingnya itu tak kunjung datang.
"Apa Alden sakit karena kehujanan semalam?" Janu menggigit bibirnya, merasa bersalah. Andai saja ia bisa mencegah Alden untuk tak ikut bersamanya dalam hujan deras malam tadi. ' hah Janu kenapa sih,Lo tu bego banget! ... Lu kan sahabatnya dan lu juga tau kalo tu anak rentan sakit kalau kena rintik hujan '
Merasa semakin cemas, Janu akhirnya mengeluarkan diam-diam ponsel. Ia mengotak Atik kontaknya mencari sesuatu.
Saat sudah menemukan apa yang dia cari, ia langsung mengirim pesan ke orang itu.
"Lo kenapa gak sekolah?"
"Lo sakit?"
Pesan itu sudah terkirim, namun tidak segera mendapatkan balasan. Janu hanya bisa menghela napasnya kasar, mencoba kembali fokus pada pelajaran. namun, nihil....
••§••
Saat istirahat mereka berada di kantin sekolah, Janu tetap merasa gelisah. Ia duduk bersama kelima sahabatnya yang sedang menikmati makan siang mereka seperti biasa. Namun, pandangan Janu terus tertuju pada layar ponselnya.
"Bang, kenapa sih?" tanya Villas yang menyadari kegelisahan Janu.
"Gak apa-apa kok vill" jawab Janu, berusaha tersenyum, namun itu malah membuat yang lain merasa curiga, senyum remaja itu tak setulus biasanya.
Matanya mengernyit, "Jangan bohong, Bang. Lo nunggu balasan dari Alden, kan?" Ratan tersenyum tipis. "Gue liat lo ngechat dia di kelas tadi"
"Alden kenapa, ya?" Tangkas Shankara.
"Paling si Alden cuma demam. Besok juga mungkin udah masuk lagi." jawab Yogi santai.
Janu hanya bisa menghela napas, mencoba meyakinkan diri kalau Alden baik-baik saja. Tapi entah kenapa, perasaan cemas itu tak kunjung hilang
"Sabar, Ntar juga dia bales," ucap naradipta sambil menepuk pelan pundak Janu. "Btw, tumben lu khawatir sama dia?" Lanjut Dipta sembari menaik turunkan alisnya.
"Dih ... Ngapain khawatir sama si beban!"
••§••
Malam pun tiba, Janu berniat akan melakukan rutinitasnya, yaitu menulis di buku diary miliknya sebelum melanjutkan sebuah lukisan yang sejak lama iya kerjakan. Setiap hari, Janu akan selalu mencatat kejadian yang ia alami, baik yang menyedihkan maupun yang menyenangkan. Buku itu adalah tempat ia menumpahkan segalanya, harapan, keinginan, dan mimpi yang belum pernah ia sampaikan kepada siapapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wings of dreams
Teen FictionJanu Pradipta, seorang remaja laki-laki yang hidupnya sih ribet, tapi asal masih bisa ngelawak bareng sahabat sahabatnya, ya ... It's oke, hidupnya tetap jalan. Tapi akhir-akhir ini dia mulai ngerasa aneh, kayak ... Kenapa jantungnya berisik begitu...
