Eits, tunggu dulu.
Sebelum masuk ke dalam cerita, tinggalin jejak dengan vote dulu yuk, biar gak lupa nantinya hehe.
Hujan turun dengan derasnya, membasahi jalanan dan kedua sahabat yang sedang berlari mencari tempat berteduh. Tak lama, akhirnya mereka sampai di sebuah warung kecil di pinggir jalan dan segera bernaung di bawah atapnya.
"Duh ... baju gue basah. Pasti dimarahin ayah lagi," keluh Janu sambil meremas ujung seragam yang basah kuyup, noda darah ikut memudar terbawa guyuran hujan, walau tak hilang sepenuhnya namun itu udah cukup bagi Janu.
"Apa lo bilang?" tanya Alden, menyadari nada lesuh sahabatnya.
"Hm? ... Oh, enggak. Cuma kedinginan aja," ujar Janu bohong, sembari menggosok kedua telapak tangan yang terasa sangat dingin.
Alden menggeser bokong semok nya lebih dekat dengan Janu, "kalau gini udah hangat kan tangannya?"
Mata kecoklatan itu melirik sekilas bingung, kesambet apa tuh anak, ia tau sahabatnya itu rada-rada kayak saat ini lah, "lu tolol apa gimana sih? Badan Lo dingin gimana tangan gue bisa hangat!" Alden sengaja memasukkan tangan Janu masuk kedalam kaosnya yang basah.
"Gak hangat ya? Kalau gini udah belum?" Alden menekan kedua tangan Janu lalu menggosokkannya ke tubuhnya sendiri, Janu terdiam sejenak, mata anak itu melebar, kenapa ia selalu bertingkah berbeda dengan penampilannya yang normal.
"Lepas bangsat!" Bentak Janu begitu liat seorang ibu-ibu yang ia tau dia adalah pemilik warung, wanita itu tengah mengulum senyum melihat pemandangan dihadapannya.
"Lanjut aja terus ak, temennya Masih kedinginan itu" ia terkekeh kecil sebelum akhirnya meninggalkan kedua remaja berduaan di depan.
"Eh bangsat! Gara-gara Lo ibu itu mikir yang gak enggak tentang kita," Janu berlari lebih dulu masuk ke dalam hujan yang semakin deras.
"Eh, tungguin dong!" Alden berdecak kesal, lalu buru-buru mengejar Janu yang sudah lebih dulu diguyur hujan. "Kan ibunya senyum bukan heran! ... Jadi gak masalah lah!"
Dari dalam mobil hitam mewah yang terparkir di ujung jalan, seseorang memperhatikan mereka dari dalam mobil dengan tatapan tajam, senyuman licik terukir di wajah. Orang itu menyalakan mesin mobilnya lalu jalan perlahan mengikuti kedua remaja yang masih berlarian di bawah derasnya hujan.
••§••
"Dari mana aja kamu jam segini baru pulang?" Suara datar itu bagaikan pisau di telinga yang masuk sambil menyayat pelan kulitnya.
Cowok itu diam sejenak yang kini mulai menaikkan pandangan menatap tak kalah tajam mata pria yang tengah duduk santai di sofa empuk di ruang tamu yang mewah. "Kerja kelompok"
"Alah alesan, paling Brayen main pah ke barr kek dulu lagi," ujar seorang cowok yang merupakan sepupunya, tatapan tajam langsung beralih padanya.
"Shut up bangsat!"
Bam!...
"Shh akh," ringis Brayen, setetes cairan merah mengalir turun dari pelipis, pecahan gelas kaca berserakan memenuhi karpet yang basah akibat tumpahan coklat hangat.
"Berani kamu membentak sepupumu sendiri!" Pria setengah baya itu tersulut emosi.
"Serah kalian" tangkis Brayen, ia langsung masuk kedalam kamar membiarkan berbagai macam makian yang ayahnya lontarkan padanya. "Orang tua, bajingan!" Ia mengumpat begitu membanting pintu dengan keras, tak seperti biasanya, ia langsung melempar tas berat di punggung kekarnya langsung ke tempat tidur.
"Hari bangsat seperti yang lainnya ... Lagi"
••§••
Di ujung jalan, Alden yang masih sedikit terengah-engah, menatap Janu dengan tatapan penuh semangat. "Eh, Nu mampir ke rumah gue dulu, yuk? Kita makan malam bareng!"
Janu menoleh ke belakang, menatap Alden. Namun, pandangannya kemudian malah tertuju pada mobil hitam yang tadi sempat ia lihat Juga, Mobil itu kini berhenti tak jauh dibelakang mereka, dengan mesin yang masih menyala.
Janu merasa ada yang aneh dengan mobil itu, namun ia memilih mengabaikannya dan menepis pikiran kotornya lalu kembali menatap Alden.
"Eh, lo kenapa?" tanya Alden, bingung melihat raut wajah Janu yang tampak sedikit khawatir.
"Nggak ada apa-apa" jawab Janu singkat, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Ia tidak ingin Alden tau keberadaan mobil hitam di belakang mereka berdua, yang ada tu anak samperin orangnya lagi.
"Oh. Jadi, gimana ajakan gue tadi? Lo mau mampir ke rumah gue dulu?"
Janu tersenyum, mencoba mengalihkan pikirannya dari mobil yang terlihat sangat mencurigakan itu "Iya, ayo. Cepetan!"
Tbc.
Thanks yang udah baca ceritanya 🥰🥰
Jangan lupa vote...
KAMU SEDANG MEMBACA
Wings of dreams
Novela JuvenilJanu Pradipta, seorang remaja laki-laki yang hidupnya sih ribet, tapi asal masih bisa ngelawak bareng sahabat sahabatnya, ya ... It's oke, hidupnya tetap jalan. Tapi akhir-akhir ini dia mulai ngerasa aneh, kayak ... Kenapa jantungnya berisik begitu...
