Sebelum masuk ke cerita, bantu cerita ini berkembang dengan vote kalian yuk,
Biar gak lupa nantinya, hehe.
••§••
Sepulang sekolah Janu ingin langsung pulang, dari pada singa dalam kandang itu murka, bisa-bisa ia habis tercabik-cabik oleh pria ringan tangan di Rumah.
' Lagian yang lain juga udah pulang kan ' pikirnya.
Langkah demi langkah ia lalui, jalan setapak yang tampak sepi tak membuat dirinya takut, setiap hari jalan pintas itu selalu ia lalui agar tak terlambat pulang sebelum jam makan malam dimulai. Earphone menyumbat telinga, lagu bervolume sedang itu membuat tubuhnya sedikit menari.
Namum, sontak Janu menghentikan langkah, kedua mata coklat itu menangkap sekumpulan remaja yang sangat dikenalnya tengah jalan santai kearahnya. "Mereka lagi" gumamnya lelah.
Tak sempat kabur, sekelompok remaja itu lebih dulu memanggil amanya dengan nada lantang, ia tak ingin berurusan lagi sama geng berandal, tapi kalau udah diposisi saat ini ia terpaksa harus menghadapi mereka sendiri. Setelah sekian lama mereka tak bertemu, kini rasa takut cowok itu berkurang pada mereka. Namun, Janu tau ia masih tak bisa menang.
"Eh Janu, udah lama kita gak jumpa nih!" Orang itu mendekat masih dengan wajah songongnya dulu.
"Eh, laper nih minta duit dong" ucap orang itu to the point seorang ketua dari geng itu yang terdapat nametag tertulis Akbar di seragam SMK miliknya.
"Sorry bar, gue gak ada duit" jawab Janu mencoba untuk pergi tapi lagi lagi dicegat oleh mereka.
"Ets, mau kemana? ... Sini aja, kita kan udah lama gak main bareng" sahut remaja dibelakang Akbar.
"Akhh"
Bruk!!
Janu terhuyung kebelakang, cairan merah mengucur keluar, mengotori seragam khusus yang masih baru. Sebuah paku berkarat berukuran sedang tertancap pada bagian pinggang sebelah kiri. "Ups! ... Sorry NU, gue sengaja, ahahaha" kompak semua terkekeh melihat raut wajah Janu menahan rasa sakit.
"Bangsat lu bar!"
Tawanya terhenti, ia memperhatikan setiap inci tubuh Janu dengan tatapan penasaran. Sebab, lengan cowok manis itu mulai terbentuk badannya juga lebih berisi dari sebelumnya, "Pegang dia," semua remaja dibelakang langsung menuruti permintaan Akbar.
Satu persatu dari mereka mulai memegang erat tangan juga kaki Janu sembari mendirikan kembali tumbuhnya.
"Lepas bangsat ... Gue gak mau berurusan sama kalian lagi!"bentak Janu penuh penekanan.
"Wih, dah mulai berani ya sekarang," Akbar bergerak ingin menancapkan satu paku berkarat sekali lagi tapi, Janu dengan cepat menarik salah satu remaja di samping yang lalai ke hadapannya.
"Aw shh"ringis orang itu.
Tak ingin buang kesempatan, Janu sentak menarik tangannya kasar, ada sedikit kemajuan dari dirinya. Terlepas, Janu mendaratkan siku sekuat tenaga tepat ke wajah remaja tadi.
Kesal, Akbar mengeluarkan sebuah pisau dari saku celana, perintah yang ia lontarkan masih sama. Tak ingin berdebat dengan mereka, Janu berlari meninggalkan sekelompok remaja itu begitu pegangan mereka melemah. "Woi miskin!, jangan lari lu!"
Pinggang yang masih tertancap paku memberikan rasa nyeri hebat, ia khawatir lukanya akan terinfeksi paku berkarat tadi. Ia terus berlari tanpa tau arah tujuan.
••§••
Di atas balkon, tampak seorang remaja laki-laki tengah bersantai menikmati pemandangan sore yang cerah, kaos merahnya menyala, sunset yang sedari tadi ia liat perlahan terbenam, membawa cahaya yang tersisa.
Terdengar suara riuh dari ujung taman belakang rumah mewahnya, begitu menoleh tampak sangat jelas sekumpulan remaja diselimuti emosi mengejar seseorang sebaya dengannya. Mata orang itu menyipit, memperhatikan lebih jelas sosok anak itu, postur tubuh yang tak asing dimatanya berlari begitu kencang. Seketika matanya membulat mengetahui siapa remaja tertimpa masalah tersebut. "Lu di crushin masalah apa gimana? Gak habis-habis masalah lu"
••§••
Janu terus berlari sampai ke sebuah hutan, tempat itu sama sekali tak dikenalinya. ia berhenti di sebuah pohon besar untuk istirahat sejenak, tarikan nafas cepat mulai mengirup udara dengan rakusnya, helaian rambut menempel di dahi, keringat mengucur deras membasahi tengkuk, bibirnya sedikit terbuka sembari menatap dedaunan diatasnya, puluhan daun tertempel pada ranting, angin kencang menerpa.
Nafas masih tak beraturan, Janu melihat sekeliling otak setengah matinya berfikir keras, bagaimana caranya bisa lolos dari kejaran Akbar?Kalau berdiam diri disana itu sama saja membiarkan nyawanya sendiri melayang dalam beberapa saat, situasi sekarang tak memungkinkan Janu buat berfikir.
"Kalian berpencar, cari dia sampai dapat!!"
Janu membulatkan matanya mendengar itu, dengan cepat dia kembali berlari memasuki hutan lebih jauh lagi. pikiran yang kacau, Janu melihat ada jurang didepannya.
Entah kenapa, saat ingin pergi ke arah kiri supaya menghindari jurang, kakinya tak sejalan dengan pikiran, Janu tak sengaja terpeleset masuk ke dalam jurang, dedaunan kering beterbangan kemana-mana.
Tubuhnya terus menggelinding di tanah hingga ke dasar jurang, untungnya jurang itu tidak terlalu jauh kebawah, tapi tetap aja, akibat ia terjatuh ke jurang menciptakan suara yang lumayan keras.
Samar tapi pasti, telinganya menangkap gelombang suara seseorang terjatuh tapi tak tau pasti tata letaknya dimana, salah satu remaja berlari mencari sumber suara yang kita tak terdengar lagi.
"Di mana lu!"
••§••
Perlahan ia tersadar, ia mengedipkan mata beberapa kali hingga menyadari langit yang tadinya menyisakan sedikit cahaya kini gelap gulita rupanya ia pingsan cukup lama, tubuh yang hampir terbentuk sempurna berusaha keras bangkit. Satu tangan menempel memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.
Apa otak itu bakal mati sepenuhnya?
Teringat Akbar masih mengincar, Janu pergi menelusuri semak semak karena mustahil bagi seorang Janu kembali naik keatas tanpa alat bantu. Tanpa disadarinya ada satu siluet yang terus memperhatikannya dari atas.
••§••
"Hari sudah gelap, kemana gue harus pergi?" pertanyaan itu selalu menguasai pikiran, mau minta bantuan aja gak bisa, layar ponsel retak tak bisa dihidupkan. Ia begitu benci sekaligus takut pada kegelapan, tapi kini ia berjalan didalamnya.
Di sela sela lamunan terdengar suara ranting patah di dekatnya.
Remaja itu kembali berlari, sesekali menolehkan kepala kebelakang dan melihat apa ada yang mengejar atau tidak.
Bruk!!
"waaahhh!! ... Hah, hah, hah," pekikan Janu terhenti begitu seseorang yang ditabraknya barusan membekap cepat mulutnya, nafas cowok itu berbunyi, dadanya naik turun, tangan itu merasakan tarikan nafas yang begitu susah dari anak manis ini.
"Nu? Janu tenang ege! ... Ini gue" umpatnya.
Janu tertoleh mengejapkan mata berulang kali, "Al ... Alden! hiks hiks hiks" Janu memeluk tubuh kekar Alden erat hingga cowok itu agak sulit bernafas.
Pelukan itu terbalaskan, dia mengerti bahwa Janu sangat takut saat ini,
Terlihat jelas dari tangannya yang bergetar hebat.
"Udah, tenang jangan takut ... Ada gue di sini. Mereka gak bakal bisa nyakitin lu lagi"
"Gue takut gelap bangke! Bukan anak berandal itu!" Umpatnya.
Alden? ... Kalo jadi lu gue bakal diam membisu, malu banget Gilak, udah pede datang kayak penyelamat tapi malah malu sama ucapan sendiri, hadehh...
Tidak butuh waktu lama, pelukan hangat Alden membuat Janu merasa aman, wangi parfum khas milik Alden membuatnya jauh lebih tenang. Barulah Janu bisa melepaskan pelukannya.
Dari kejauhan Alden melihat cahaya yang mengarah ke arah mereka berdua
"Gawat! Ayo lari!"
Tbc.
Thanks yang udah baca ceritanya 🥰🥰
Jangan lupa vote...
KAMU SEDANG MEMBACA
Wings of dreams
Teen FictionJanu Pradipta, seorang remaja laki-laki yang hidupnya sih ribet, tapi asal masih bisa ngelawak bareng sahabat sahabatnya, ya ... It's oke, hidupnya tetap jalan. Tapi akhir-akhir ini dia mulai ngerasa aneh, kayak ... Kenapa jantungnya berisik begitu...
