Sebelum lanjut baca kasih vote dulu yuk biar gak lupa nantinya.
Vote itu gratis loh, hehe
😁😁😁
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, yang tadinya matahari masih memancarkan cahayanya kini berganti sif dengan cahaya rembulan yang indah, ribuan bintang menghiasi kekosongan malam, Setelah makan malam bersama orang tua Alden, Janu membantu Bik Darmi, pembantu di rumah Alden membersihkan meja makan yang sedikit berantakan.
“Duh, Nak Janu, gak usah repot-repot bantuin Bibi. Bibi bisa sendiri kok. Mending Nak Janu temenin Nak Alden aja ya di kamarnya, kasihan dia sendirian,” ucap Bibi Darmi lembut merasa tak enak hati yang seharusnya Janu tak perlu melakukan apapun dirumah itu malah membantu pekerjaan yang harusnya ia lakukan sendiri.
“Gak repot kok, Bik. Di rumah juga Janu sering bantuin bokap bersih-bersih, hehe” jawab Janu dengan senyum. Semenjak kepergian Salma, semua tugas ibunya menjadi tanggung jawabnya termasuk memikirkan bagaimana caranya mencari penghasilan tambahan, karena selama ini ia membeli keperluan rumah dengan uang tabungannya sendiri.
Adi tak pernah memberikannya uang sepeser pun, malahan hanya duduk manis di sofa sambil merokok, minum minuman keras, dan berselingkuh lagi. Hanya itu kesibukan ayahnya. Tidak ada inisiatif sedikit pun bantuin Janu mengerjakan sedikit tugas rumah.
“Wah, Nak Janu baik banget, ya. Udah ganteng, manis, putih, tinggi, suka bantuin orang tua lagi. Pasti orang yang bisa dapetin Nak Janu beruntung banget,” goda Bibi Darmi sambil tersenyum.
Janu hanya terkekeh malu mendengar pujian Bibi Darmi "bibi bisa aja."
“Janu belum pulang?” suara Hersa terdengar dari arah tangga. Ia menuruni anak tangga sambil membawa nampan makanan yang sepertinya belum tersentuh.
“Bentar lagi, Bang. Habis ini juga Janu pulang,” jawab Janu sambil melirik nampan di tangan Hersa, “Kenapa makanannya dibawa turun lagi?”
Helaan nafas Hersa mengudara, “Alden gak mau makan. Udah Abang paksa, tetap gak mau makan” raut wajah cowok itu tampak murung.
“Biar Janu yang coba, Bang. Siapa tahu dia mau kalau Janu yang paksa,” tawarnya sambil mengambil alih nampan makanan dari tangan Hersa dan mulai menaiki anak tangga menuju kamar Alden.
“Semoga saja, ya. Belakangan ini nak Alden susah sekali makan” gumam Bibi Darmi sambil melihat kepergian Janu.
Tak disangka, Bibi Darmi kemudian menyenggol lengan Hersa sambil berbisik, “Nak Hersa suka ya sama Nak Janu?”
Deg!..
Hersa tertegun sejenak, lalu tersenyum tipis. “Gak tau, Bik...” gumamnya sebelum berjalan meninggalkan Bibi Darmi
"Ih, jangan ya nak ya, jangan."
••§••
Di kamar, Janu berusaha keras membujuk Alden untuk makan, namun sahabatnya itu tetap bersikeras menolak.
“woi nyet!, buka mulut Lo, cepet! Mau sembuh gak?”
“Gak mau. Lo aja yang makan, Nu. Gue gak nafsu” remaja itu tampak semakin lemas, dua puluh menit berlalu tapi Alden tak juga ingin membuka mulutnya.
“Walaupun gak nafsu, tetap harus dipaksa makan. Yuk cepet! buka mulutnya, pesawat datang aaaaaa~” Janu menyuapi Alden sambil menirukan pesawat terbang. Namun, Alden malah menutup mulut rapat-rapat.
Kesal dengan sikap sahabatnya, Janu akhirnya mencubit lengan Alden, membuatnya menjerit kaget. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Janu, dengan secepat kilat ia langsung memasukkan sesendok nasi ke mulut Alden.
“Nah, gitu dong. Ayo dikunyah” ujar Janu sambil tersenyum puas.
' galak banget nih anak, untuk cantik, kalau gak!... '
Alden melirik Janu dengan tatapan protes “Gue gak mau makan, Nu” keluhnya.
“Kalau lo buang makanan di mulut lo itu, gue gak akan ngomong sama lo selama sebulan penuh.” ancam Janu dengan nada serius.
Alden diam membisu. Ancaman Janu berhasil membuatnya menyerah. Dengan terpaksa, ia mulai mengunyah meski masih tidak nafsu makan. Namun, ia tahu betul bahwa kehilangan perhatian dari Janu adalah hal yang tak ingin ia alami. Bagi Alden, Janu adalah sosok penyemangat hidupnya.
Janu tersenyum senang melihat Alden akhirnya makan, “Nah, pesawat datang lagi. Aaaaa~,” ujarnya sambil menyuapkan nasi berikutnya.
Alden mengunyah pelan sambil memandangi wajah Janu. Tanpa disadari, tangan Alden terangkat dan menyentuh pipi Janu yang sedikit berisi. Gerakan spontan itu membuat Janu terkejut.
Mata coklat itu membulat, menatap Alden yang masih menempelkan tangannya di pipinya. Detak jantungnya mendadak tak beraturan. “A-Al? Lu kenapa?” tanyanya dengan gugup.
“Hm?” Alden tersenyum tipis, “Gak ada, kok ... Pipi lo lembut kek pantat bayi,” jawabnya pelan sambil terus menatap sayu Janu.
Deg! ... Hati Janu semakin tak karuan. Rasanya jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. ‘ Kenapa gue jadi deg-degan gini kalau Alden nyentuh pipi gue? ’ batin Janu, bingung dengan perasaannya sendiri ' apa gue betulan punya otak babi? ... Ah, gak!, gak!, gak! '
brak! ...
"ALDEN!!..."
Tbc
Thanks yang udah baca ceritanya sampai sini, jangan lupa vote...
KAMU SEDANG MEMBACA
Wings of dreams
Teen FictionJanu Pradipta, seorang remaja laki-laki yang hidupnya sih ribet, tapi asal masih bisa ngelawak bareng sahabat sahabatnya, ya ... It's oke, hidupnya tetap jalan. Tapi akhir-akhir ini dia mulai ngerasa aneh, kayak ... Kenapa jantungnya berisik begitu...
