Eits, tunggu dulu
Sebelum lanjut baca, alangkah baiknya kalian kasih bantuan dengan beri vote pada chapter ini ya, biar gak lupa nantinya.
••§••
Janu berusaha setenang mungkin saat memasuki rumahnya. Di ruang tamu, terlihat ayahnya, Adi, duduk di sofa bersama Gilda, wanita yang akan menjadi ibu tirinya, yang tampak memandangnya dengan senyum sinis yang tak bisa dijelaskan.
"Janu pulang" ujarnya pelan, sambil mencoba segera menuju kamarnya.
Namun, baru saja ia hendak menggenggam gagang pintu, suara keras adi menghentikan langkahnya.
"Dari mana aja kamu? Hah! Terus, ini baju siapa?" Adi mendekat dengan langkah berat hingga menciptakan suara keras di lantai, matanya penuh amarah. Ia mencengkeram baju yang dikenakan Janu. "Mana seragam sekolah kamu?"
"Tadi ... aku—" Janu belum sempat menyelesaikan kata-katanya saat satu pukulan keras berhasil mendarat tepat di kepalanya, membuat pandangannya langsung berkunang-kunang seketika.
"Kamu pergi main, kan? Jam segini baru pulang!" bentak Adi tanpa ampun
Kepalanya yang kembali terasa sakit membuat Janu susah berpikir, namun ia mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi "Janu gak pergi main, Yah... tadi Janu dikejar Akbar sampai ke hutan, makanya pulang telat"
Plak!...
Adi memukul Janu sekali lagi, lebih keras, nyeri hebat menjalar di kepala. "Alah, bohong kamu!" suaranya bergetar penuh emosi.
Janu menggeleng pelan, mencoba menahan tangis, tapi nihil. "Janu gak bohong, Yah... hiks... hiks..."
"Kalau gak bohong, ini apa?" Adi menunjuk layar ponsel yang dipegang Gilda.
Di ponsel itu, tampak video Janu berlarian di tengah derasnya hujan, bersama dengan Alden, bahkan kejadian di warung tadi ikut terekam juga yang membuat Adi semakin murka. Janu tersentak kaget dan langsung tau. Ternyata, mobil hitam yang tadi mengikuti mereka adalah mobil milik Gilda.
Selama ini Janu tidak pernah tahu kalau gilda memiliki mobil.
"Siapa anak itu? HAH! Kamu homo? Suka sesama jenis? NGAKU!!"
Bam!... Entah yang keberapa kalinya Adi udah melayangkan pelukan kerasnya di kepala Janu. "Dasar, otak haram!"
Gilda menatap Janu dengan senyum penuh kepuasan, rupanya itu maksud dari senyum sinisnya tadi, wanita itu begitu kejam. Ia tampak senang melihat konflik antara Janu dan ayahnya. Kalau dia terus melakukan itu hubungan keluarga kecil dihadapannya akan hancur.
"Ayah, bukan gitu ... Tadi Janu cuma—" Janu berusaha menjelaskan, tapi kata-katanya terpotong.
"Alah!" Adi mengangkat kepalan tangannya, hendak memukul Janu lagi.
"Sudah, sayang ... " Gilda mendekati Janu yang udah sengsara, berpura-pura menunjukkan rasa kasihan layaknya peduli. "Kasihan Janu. Dia kan baru pulang, pasti capek ... "
"Alah! Anak senakal ini gak perlu dikasihani" bentak Adi, marah. "Sini kamu!" Dengan kasar, ia menarik tangan Janu kasar ke suatu tempat.
Kedua ujung bibir Gilda tertarik membentuk senyuman licik, merasa sangat senang melihat rencananya untuk menyingkirkan Janu dari rumah ini mulai berhasil. Dengan sikap pura-pura peduli, ia berhasil membuat Adi semakin marah pada anaknya sendiri. Begitu Adi dan Janu beranjak pergi, Gilda tak bisa menahan tawa kecilnya, menikmati kekacauan yang ia ciptakan.
••§••
"Ayah, jangan kurung Janu di sana lagi, Janu mohon ... hiks ... hiks ... " Janu memohon, suaranya terdengar penuh kepanikan, rasa ketakutannya terhadap ruangan itu muncul lagi.
"Diam kamu!" Adi tak memperdulikan rintihan anak semata wayangnya. Dengan tega, ia mendorong kuat Janu masuk ke kamar mandi kecil yang pengap, membuat tubuh remaja itu terhantam sangat kuat dinding keramik itu lalu menguncinya dari luar.
"Yah ... Ayah, buka pintunya! Janu gak mau di sini ... Janu takut ..." Janu menggedor pintu kamar mandi, mencoba menarik simpati adi, dan berharap Adi akan berubah pikiran.
Namun, nihil...
Tangisan Janu semakin melemah. Setelah beberapa saat, ia menyerah sama keadaan, berhenti mengetuk pintu. Tubuhnya mulai lelah, dan rasa dingin dari lantai keramik yang basah semakin menusuk tulangnya. Janu duduk bersandar di tepi dinding, menahan sakit yang berdenyut di kepalanya Lagi hingga ia lupa sama rasa sakit di pinggang.
Saat ia mencoba mengatur napas, tiba-tiba ia merasakan cairan hangat mengalir dari hidungnya. Janu meraba wajahnya, melihat darah yang mengalir di tangannya. Ia tidak panik melihat cairan kental berwarna merah mengalir di tangan dan hidungnya, karena sudah biasa baginya hal itu terjadi.
"Ayah ... buka pintunya ... Janu, dingin..." katanya pelan, suaranya hampir tidak terdengar lagi.
Tak lama setelah itu, tubuhnya ambruk di lantai kamar mandi yang dingin dan gelap. Seketika Janu tak sadarkan diri, terkapar dengan napas lemah di tengah keheningan malam.
.
.
.
Tbc
Thanks yang udah baca ceritanya 🥰🥰
Maaf kalo ceritanya belum rapi, jangan lupa vote...
KAMU SEDANG MEMBACA
Wings of dreams
Teen FictionJanu Pradipta, seorang remaja laki-laki yang hidupnya sih ribet, tapi asal masih bisa ngelawak bareng sahabat sahabatnya, ya ... It's oke, hidupnya tetap jalan. Tapi akhir-akhir ini dia mulai ngerasa aneh, kayak ... Kenapa jantungnya berisik begitu...
