Seperti biasa, sebelum lanjut di vote dulu yuk dengan tekan tombol bintangnya
😭😭😭
Disini ada yang senasib sama Janu gak?
••§••
Di langit biru dengan kabut yang tipis menghiasi langit. Semilir angin berhembus menggoyangkan dahan pepohonan membuat embun menetes satu persatu membasahi tanah yang kering. Kicauan burung yang hinggap di dahan pohon memecahkan keheningan pagi hari yang sejuk.
Janu mengerang pelan, matanya perlahan terbuka. Ia mencoba mengubah posisi tidurnya yang semalaman cuma terlentang, tapi rasa sakit yang menjalar dari bagian bawah sana membuatnya mendesah frustasi.
"A-aw ... Sial! ..." gumamnya dengan wajah meringis.
Alden, yang masih setengah sadar itu segera bangun begitu mendengar rintihan Janu. Ia menoleh sebelum akhirnya bangkit dan duduk tepat disebelah Janu. "Nu? Lo kenapa?" Alden melingkarkan tangannya di tengkuk Janu.
Bam!...
Satu pukulan keras berhasil mendarat di pipi tirusnya, kini ia puas karena semalam Alden berhasil menangkis pukulannya. "Aw!, shh! Sakit NU, lu gak kasian sama gue yang masih sakit ini" protes Alden kesal, suaranya lirih tak berdaya.
"Dasar mesum! Tunggu sange aja semangat lu!" Janu melirik tajam sambil menggerutu. Ia berusaha berdiri, tapi rasa perih luar biasa kembali menyerang, membuatnya jatuh terduduk lagi di atas ranjang.
Alden menahan tawa, meskipun ia merasa sedikit bersalah. "Hahaha, maaf, Nu. Kayaknya gue terlalu semangat semalam, ya?"
"Bacot! Sekali lagi lu begitu masuk rumah sakit lu gue buat!"
Alden mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah. "Iya-iya, tapi nikmat kan? Mau lagi?" Ia menyeringai menggoda, mendekatkan wajahnya pada Janu.
Bam! ... Sebuah bantal mendarat di wajahnya.
Janu memutar matanya malas, bohong kalau ia bilang tak candu karena selama semalaman ia menikmati setiap sentuhan Alden. di sela kesal, ujung bibirnya terukir membentuk senyuman tipis. "Jangan deket-deket, bangsat!"
Alden terkekeh, lalu mengusap lembut punggung Janu. "Mau gue gendong ke kamar mandi? Atau perlu gue mandikan juga? Gue tahu lubang lo pasti lagi protes gara-gara gue."
Sumpah, gara-gara Alden kini wajah Janu memerah padam, namun ia tak marah, melainkan malu dengan kata yang diucapkan sahabatnya itu. "ALDEN!" Ia menepuk bahu Alden membuat anak itu terhuyung kesamping, tapi justru membuat Alden semakin tertawa.
"Yaudah-yaudah, gue serius nih" ujar Alden sambil bangkit berdiri. Sedikit membungkuk, mengulurkan tangannya ke arah Janu. "Ayo, gue bantu jalan. Jangan maksa, nanti tambah sakit."
Setelah berhasil memapah Janu hingga duduk di kursi, Alden menepuk bahunya. "Lo istirahat dulu di sini, gue mandi dulu, ya. Nanti baru lo" Ia berjalan masuk ke kamar mandi, meninggalkan Janu yang menghembuskan napas panjang.
Bosan menunggu, Janu membuka tas sekolah yang ia letakkan di meja. Dari dalam, ia mengeluarkan sebuah buku kecil dengan sampul lucu berwarna kuning. Itu adalah buku diary miliknya. Janu menulis sesuatu dengan wajah serius, kadang-kadang tersenyum sendiri mengingat kejadian semalam. Tapi senyuman itu tak bertahan lama, karena rasa sakit kembali menyerang saat ia tak sengaja mengubah posisi duduknya.
' bangsat! Alden berhasil merebut keperawanan gue, apa sekarang gue ini gay? '
"Aaaahhh" gumamnya frustasi sambil menggerutu. Ia kembali fokus menulis, mencurahkan isi hati tentang perasaannya pada Alden dan momen mereka semalam.
Tak lama, pintu kamar mandi terbuka. Alden keluar dengan mengenakan kimono mandinya. "Nu, giliran lo mandi. Gue bantu kalau lo gak kuat jalan"
' cepat banget ni anak mandi, udah kayak bapak-bapak aja yang mandi aja airnya pake digebukin '
Janu menatapnya tajam. "Gue bisa sendiri"
"Tuh kan. Jangan sok kuat. Biar suami mu ini bantu" balas Alden sambil mendekati Janu, mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Janu terpaksa menerima, dan dengan bantuan Alden, ia berjalan ke kamar mandi.
20 menit berlalu, rasa bosan menyelimuti diri, matanya kini tertuju pada sebuah buku diary kecil yang terletak di atas meja belajarnya. "Nunu nulis apa tadi?" Tanyanya pada diri sendiri, lembar demi lembar ia baca, terkejut dengan apa yang ditulis remaja itu. "Kok Nunu ga pernah cerita kalau ada masalah?"
Namun, senyumnya kembali lagi saat melihat halaman terakhir kali dibuka Janu. Ia bergidik geli sembari terkekeh.
"WOI! LO NGAPAIN BACA BUKU GUE?!" Alden menoleh ke sumber suara lantang itu, tampak Janu yang selesai mandi, kimono mandi itu terpasang rapi di tubuhnya.
Alden langsung terkekeh, berusaha menyembunyikan buku diary itu di belakang punggungnya. "Eh, gue cuma mau tahu lo nulis apa tentang gue. Seru juga, ternyata"
"BALIKIN, ALDEN!" Janu langsung menghampiri Alden, meski langkahnya agak tertatih karena rasa sakit di tubuhnya. Ia berusaha merebut buku itu, tapi Alden dengan mudah menghindar.
"Sayang, lo nulis ini beneran, ya? ' Gue gak nyangka dia ternyata bisa selembut itu ... tapi kadang juga segila itu.' " Alden membacakan salah satu kalimat dengan nada menggoda.
Wajah Janu memerah hebat. "LO BENER-BENER NYARI MATI, YA!"
Dalam usahanya untuk merebut buku itu, Janu tak sengaja tersandung. Alden yang panik mencoba menangkapnya, tapi keduanya justru terjatuh ke ranjang lembab bersama. Janu meringis saat punggungnya menyentuh kasur, rasa sakit di bagian bawah tubuhnya kembali terasa kesekian kalinya.
"Agh, bangke! ... Lo tuh bikin gue tambah sakit, tahu gak?!" gerutu Janu, tapi nada suaranya melemah karena tubuh kekar Alden begitu dekat dengannya, pundaknya yang lebar membekap Janu lagi.
Alden menatap wajah indah yang memerah, dan tanpa berpikir panjang, ia mengecup bibirnya lembut.
Cup!
Kecupan itu berubah menjadi ciuman dalam, membuat Janu yang awalnya ingin marah justru tenggelam dalam rasa hangat itu. Namun, rasa sakit yang menusuk membuatnya mendorong Alden pelan.
"Al ... Ngapain Lo cium gue bangsat!! ..." ucap Janu dengan wajah yang setengah kesal, setengah malu.
"Ya sorry, gue gak sengaja. Tapi ... enak kan? Semalam aja Lo ketagihan gue perhatiin" Alden tersenyum, mencium hidung mancung Janu sebelum bergeser dan berbaring di sampingnya. "Oke, oke. Gue berhenti. Tapi diary-nya gue simpan ya, buat referensi kalau gue lupa gimana rasanya bikin lo luluh"
"ALDEN!"
Plak!...
"Diam bangsat! Ntar ketauan~"
Janu mengernyit heran, tiba-tiba aja jantungnya kembali merasa deg degan. "Al, Lo dengar gak?" tanya Janu sambil menunjuk ke pintu.
Alden mengangguk, suasana hening seketika.
"HAH! Ketauan lo semua!" seru Alden.
Bruk!...
Tbc.
Thanks yang udah baca ceritanya, jangan lupa vote yaa, hehe, makasih 🙏🙏
KAMU SEDANG MEMBACA
Wings of dreams
Teen FictionJanu Pradipta, seorang remaja laki-laki yang hidupnya sih ribet, tapi asal masih bisa ngelawak bareng sahabat sahabatnya, ya ... It's oke, hidupnya tetap jalan. Tapi akhir-akhir ini dia mulai ngerasa aneh, kayak ... Kenapa jantungnya berisik begitu...
