chapter 6

332 38 0
                                        

Hai hai semua, sebelum lanjut baca
Bantu vote dulu yuk ceritanya, hehehe
😊😊😊

••§••

Di lapangan yang luas, Brayen melakukan hobinya seperti biasa yaitu bermain bola bersama teman temannya di jam istirahat.

Awalnya dia sangat fokus bermain, tapi seketika dia tidak bisa kembali fokus pada permainannya begitu makhluk bernama Janu muncul bersama kumpulan sahabatnya, tawa hangat mereka samar-samar terdengar.

Menyadari Brayen sedang berlari sambil memandangi ketujuh junior mereka membuat lawan main memiliki kesempatan merebut bola darinya, tapi
Niatnya mau mengambil alih bola, kakinya malah menendang kaki Brayen yang masih berlari.

Bruk!!...

Brayen tersungkur ke tanah sambil meringis memegang erat luka yang tadi di dapatkan nya saat bertemu Janu. Histeris para siswi memuncak.  "januu!!"

Teman temannya mencoba membantunya tapi Brayen memberontak tak mau dibantu oleh mereka, bibir tipisnya malah berteriak memanggil Janu.

Sampai akhirnya ketujuh remaja itu datang menghampiri, Janu langsung melingkarkan tangan Brayen di pundaknya lalu membawanya ke pinggir lapangan

di bawah pohon yang rindang,Janu kembali membuka perban di kaki Brayen yang sempat dia obati pagi tadi sebelum memasuki ruang kelas.

Dia mengambil tisu dari kantongnya untuk membersihkan sisa darah yang keluar. "Shh aw, eh pelan pelan dong sakit nih!"

"Tahan dikit kek, lebay banget Lo jadi cowok" ketus Janu, baginya kecelakaan barusan tak separah tadi pagi. Tapi Brayen malah meminta bantuannya, bukan pada cegil yang selalu menyorakinya. "siapa suruh main bola ... Awas ya kalau main bola lagi, ga bakal gue tolongin" lanjutnya lagi.

terlalu perhatian ke Brayen membuat Alden sedikit tak suka, pemandangan itu membuat matanya sakit. "sini biar gue aja yang obatin" tangannya merampas tumpukan empat lembar tisu dari tangan Janu.

Alden sedikit membungkukkan badannya disamping janu, berniat meraih kaki kakak kelasnya itu.

Tapi, belum sempat menyentuh luka, sepasang tangan mendorong pundaknya kesamping, hingga keduanya terhuyung.
"Gak usah, biar gue aja" pinta orang itu.

"Upss" orang itu tersenyum sambil menutup mulut menggunakan telapak tangan. Wajah Alden dan Janu bertemu sangat dekat, begitu dekat sampai-sampai semua orang disana tak berkedip sedikitpun. Begitu juga kedua remaja dibawah sana.

Kelima sahabat mereka hanya mengulum senyum melihat adegan itu.

Alden yang sedari tadi terpaku memandangi wajah cantik Janu di bawahnya membuat wajahnya memerah seperti tomat.

"Al ... Wajah Lo kenapa?"
Sedetik kemudian Alden pun kembali ke jiwanya sebab tadi ia sempat melamun  "eh, sorry Nunu ... Jangan dorong bisa gak? Sakit bangsat!" lanjutnya sambil berdiri menatap orang yang mendorongnya tadi.

"Ya sorry ... Sengaja" ucap seorang siswi berparas cantik berkulit putih yang diketahui bernama Luna, murid seangkatannya tersenyum memandangi Alden dan Janu secara bergantian.

"Ngapain liat liat?" Tanya Alden yang masih terlihat kesal dengan Luna.

"Gak ada kalian lucu aja, sini tisunya ... Biar gue aja yang obati pangeran gue" Luna mengangkat tangan meminta tisu yang ada pada Alden.

"Baguslah nih ... Lo rawat pangeran Lo itu, sekalian kandangin biar gak kabur!" Alden memberikan tisu bergelimang cairan merah ke telapak tangan Luna.

Tak betah berlama-lama, Alden merangkul pundak Janu yang lebih pendek darinya, pergi dari sana. tak lupa ia juga mengajak komplotan nya juga buat mengekor dibelakang.

Kepergian Janu dan teman temannya, membuat Brayen kesal dan menatap tajam ke arah Luna, ' untung lu cewek, kalo gak dah gue tikam lu disini '

"Jangan sinis gitu dong, sini lukanya aku bersihin," nadanya sengaja di imut agar Brayen terpikat padanya sama seperti semua cowok di angkatan mereka maupun di atas mereka.

Brayen memberontak tak mau diobati dengan Luna tapi, gadis cantik itu tidak peduli dia terus membersihkan luka itu walau tak sehalus yang dilakukan Janu tadi, kesenangannya malah memperburuk keadaan, luka yang seharusnya berhenti mengeluarkan cairan merah kini malah mengucur semakin deras membasahi pergelangan kaki. "Astaga!"

"Aw sh, eh Lo sebenarnya bisa atau gak sih? Cewek masa gak bisa ngobatin orang sakit," kata sederhana tapi membuat hatinya sakit, diantara semua cowok yang pernah dia temui, cuma Brayen yang menyakiti perasaannya. "Kalau gak bisa belajar sama Janu sana!"

Gadis itu tertunduk diam, tangannya menggenggam erat tisu penuh darah. "iya maaf" lirihnya.

"Bersihin lukanya pelan-pelan aja"

Mendengar suara yang tak asing ditelinga membuat ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman. "Janu" panggilnya dengan mata berbinar memandangi sosok Janu di hadapannya
"Lo kesini mau obatin kaki gue kan?"

"Jangan Geer, gue kesini cuma mau ngasih perban sama beberapa obat doang ... Nih" Janu memberikannya pada Luna lalu pergi meninggalkan mereka berdua sendirian.

"Makasih yaa!!"teriak Luna pada Janu, "sini kakinya, gue janji bakal lebih hati-hati" walau sempat kecewa, tapi ia tak masalah dengan itu, ia amat menyukai Brayen, sekarang adalah kesempatannya buat berduaan bersama Brayen.

"Gak udah makasih" dengan wajah datar Brayen beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Luna

"Lu tuh kenapa sih? Gue udah perhatian, peduli sama Lo. Minimal hargain gue dong!"

"Gue gak minta perhatian dari Lo" cowok itu terus melangkah tanpa menoleh sedikitpun.

Luna kembali berteriak memanggil namanya tapi Brayen tak menghiraukan panggilan itu dan terus berjalan pincang menjauh dari sana.

' gue gak bakal nyerah, Gue bakal terus ngejar Lo Rayan ' batin Luna.

••§••

"Kejar dia ... Cepat!!"

"Woi Janu jangan lari Lo"

"Woi"

Tbc.

Thanks ya yang udah baca ceritanya🥰🥰
Tunggu chapter selanjutnya
Jangan lupa vote

Wings of dreams Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang