chapter 3

357 45 4
                                        

Sebelum masuk ke ceritanya, alangkah baiknya kalian beri vote untuk bab ini, yaa...

••§••

Di Lapangan yang panas terik, kakak kelas Janu mendengar gelak tawa mereka yang hampir senada dengan suara sorakan para fansnya, penasaran apa yang mereka tertawa kan.

Tak sengaja dia menendang bola cukup keras, niatnya cuma mau mengoper ke teman satu tim, tapi malah meleset ke arah ketujuh junior nya.

Untungnya Alden sadar anak hal itu, langsung menarik Janu ke dalam dekapannya. Dia tidak tau kalo tindakan nya barusan itu membuat Janu tersentak kaget.

Ya gimana gak kaget coba, orang tiba-tiba ... Hadehh. Tapi, beruntung juga si Janu baru masuk aja udah dipeluk cowok ganteng, hehehe.

Lega rasanya melihat bola tidak mengenai siapa pun, senior itu menghampiri mereka untuk mengambil balik barang milik sekolah, "sorry ya gue gak sengaja tadi, ada yang luka gak?" Tanyanya memastikan.

Sontak cowok manis mendorong kuat, melepaskan dekapan keduanya. "Gak ada kok, kak," jawab Janu dengan sopan seraya menampakkan seringainya yang buat wajahnya terlihat imut.

"Aduh!!... Lain kali hati-hati lah kak, hampir aja bolanya kena teman kami" Shankara menasehati kakak kelasnya itu. Tapi, tak didengar. Fokusnya masih tertuju pada cowok asing dihadapannya.

"Tauh tuh..." Yogi menambahkan

Mendengar perkataan itu membuat Janu merasa sedikit bingung. 'teman?...'

"Tapikan ada untungnya juga gua nendang bola kesini"

Jelaslah kalimat tadi tertuju sama siapa ya kan, hehe.

"Woi bray, cepatlah!!"panggil temannya dari lapangan

"Iya tunggu!"dengan cepat dia mengambil kembali bolanya. "Sekali lagi sorry," walau nada bicara ketus, tangannya bergerak mengelus poni Janu yang terlihat lucu lalu kembali ke lapangan.

Tanpa disadarinya, Alden terus melemparkan tatapan tajam ke arahnya. Kesambet setan apa senior satu ini?

Janu ikut bingung dengan sikap kakak kelas mereka tadi.

Pikirannya kembali di penuhi banyak pertanyaan, apa yang dimaksud shankara teman tadi adalah dirinya?, atau bilang ke lima remaja lainnya?
karena penasaran janu memutuskan untuk menanyakan langsung padanya.

"Eh ... Siapa yang kau maksud "teman kami" tadi?"

"Ya ... Si bayi gue Lah, tadi kan dia hampir kena bola juga,"Shankara menarik Villas berdiri samping-sampingan.

"Oh, gitu ya," Mendengar penjelasan itu membuat Janu kecewa, ekspektasinya terlalu tinggi untuk ingin mendapatkan teman. Dia tau kok kalau tidak ada yang mau jadi teman dekatnya, walau dia sangat ingin dan nyoba melawan rasa takut.

Ekspresi kecewa itu terpancar jelas, membuatnya terkekeh "hahaha ... canda, ya lu lah siapa lagi."

"Hah!! ... Kalian serius mau temenan sama aku?" Tanyanya lagi meyakinkan.

"Iya, mulai sekarang kami adalah teman lu bocah, kita kan sekelas,"sahut Naradipta yang sedari tadi pohon besar aturannya jadi peneduh, jadi tempat sandaran nya, walau kasar tetap nyaman buat Dipta.

Di hari itu ... Di detik itu juga, mereka sudah resmi menjadi teman. Rasa bahagia meningkat drastis, Janu berharap keenam teman barunya ini tidak pergi meninggalkannya seperti dulu.

Ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman yang betul-betul tulus, satu persatu tatapan sayu ia lontarkan pada mereka semua. "Thanks"

Anak manis tersebut tak tau kalau ada orang yang semakin penasaran akan dirinya.

••§••

Janu tak sabar ingin cepat pulang menemui malaikat tak bersayap yang pastinya menunggu di Rumah, ia ingin menceritakan semua kejadian di hari pertamanya masuk kalau sekarang dia sudah memiliki banyak teman.

Namun....

Setelah pulang sekolah ia diarahkan ke suatu tempat oleh para tetangga, isakan pelan terdengar di telinga janu. Perlahan, senyum manis di wajahnya hilang begitu lihat gundukan tanah merah yang masih basah

Tubuhnya bergetar bagaikan tersambar petir sore itu, gimana tidak?
nama "Salma", tertulis jelas ada di ukuran batu nisan. Ia tercekat, mengatakan satu kata pun begitu sulit baginya.

"I ... I-ibuk?"

Menurut tetangga-tetangganya salma meninggal karena saat ingin pulang dari pasar hari itu, dia mengalami kecelakaan yang sangat parah saat Janu masih sekolah, itu membuat ibunya tak sadarkan diri, mereka juga mengatakan kalau, Salma sempat menyebutkan namanya sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas terakhir sebelum sempat dibawa ke Rumah Sakit.

Dengan terus memandangi gundukan tanah itu, tak terasa cairan bening sudah mengalir deras membasahi pipinya.

Sayup-sayup mulai terdengar isakan tangis yang sangat menyedihkan keluar dari mulutnya.

Dari yang awalnya sangat antusias ingin menceritakan semuanya pada sang ibu, kini semangatnya buyar. Tubuhnya lemas dan lelah, ia berguling memeluk gundukan tanah sembari terus menangis.

"Kenapa ... Kenapa ibuk ninggalin Janu secepat ini hiks hiks"
"Kalau gak ada ibuk, sama siapa Janu bercerita? sama siapa Janu curhat? ... Gak ada lagi tempat untuk Janu mengeluh buk hiks hiks ... Gak ada lagi tempat untuk ngeluarin semua keluh kesah Janu hiks hiks"

Janu sangat terpukul dengan kepergian sang ibu yang sangat disayanginya, dari dulu kalau Janu lagi sedih karena di bully atau apapun, Salma lah yang menjadi tempatnya untuk bercerita.

salma adalah pendengar yang baik untuknya.

Biasanya kalau Janu ada masalah, Salma juga lah yang akan memberi solusi dan ngasih semangat.

Berbeda dengan ayahnya, dia tidak pernah memperhatikan bahkan tidak memperdulikan Janu, mau Janu sedih, sakit, dia tak peduli. Dia hanya bisa menyiksa dan menyiksa Janu terus terusan. Salma yang selalu melindungi Janu dari kekejaman pria tua sebiji itu.

Sekarang tidak ada lagi sosok malaikat pelindung dan penyemangat untuk setiap masalahnya.

Setiap Janu merasa bahagia walaupun itu hanya sebentar, pasti ada aja masalah yang akan terjadi, itu juga salah satu penyebab Janu selalu murung.

Emosi memuncak dalam dirinya, satu orang memenuhi pikiran."ayah!!"

Tbc

Thanks yang udah baca ceritanya🥰🥰
Jangan lupa vote...

Wings of dreams Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang