Sebelum lanjut ke cerita
Di vote dulu yuk bab nya
Biar gak lupa nantinya ya kan, hehe
••§••
"Eh, lo kenapa?" tanya Alden, melihat ekspresi Janu yang tampak sedikit khawatir
"Gak ada" jawab Janu cepat
"Oh, jadi gimana ajakan gue tadi? Lo mau kan mampir ke rumah gue dulu?"
Janu tampak berpikir sejenak. Haruskah ia mampir ke rumah Alden? Atau langsung pulang saja? Jika pulang terlalu lama, ia khawatir ayahnya akan marah lagi padanya. Namun, sebelum sempat memutuskan, dari sudut matanya Janu melihat pantulan mobil hitam yang tadi masih mengikuti mereka dari cermin toko di depan.
"Oh ya, ayo cepat!" ujar Janu sambil mempercepat langkahnya
Alden semakin bingung dengan tingkah sahabatnya sekarang ini, tapi di sisi lain ia sangat senang karena Janu akhirnya mau datang ke rumahnya
••§••
Di rumah ia mengizinkan Janu memilih pakaian bersih dari lemari besar miliknya. "Pilih aja sesuka hati. Lo bebas mau pilih yang mana aja," ujar Alden lalu langsung pergi turun ke bawah.
Serius? Serius seorang Janu di tinggalin gitu aja? ... Ya dia emang bukan orang kaya kayak Alden apa lagi orang terpandang, tapi kenapa Alden harus ninggalin dia gitu aja sedangkan Janu yang canggung masih planga plongo liat seisi lemari panjang dari ujung tembok ke tembok lainnya.
"Ni anak selain aneh juga gak becus beresin kamar, semua pakaiannya aja berantakan mana gak sesuai warna lagi"
Emang betul Alden tak pandai membereskan apapun, biasanya kalau mereka lagi ngumpul yang beresin sampah makanan mereka itu cuma Ratan, shankara, naradipta, dan dirinya aja, sedangkan Alden malah ikut menggambar bareng Villas.
"Nunu, sini cepat, kita makan malam bareng!" panggil Alden antusias begitu melihat Janu menuruni tangga sembari planga plongo liat desain rumah megahnya. Kedua orang tua Alden memandangi Janu dengan senyuman yang terlihat tulus.
"I- iya," responnya gugup, masih merasa asing dengan lingkungan sekitar. Ia takjub dengan rumah sahabat itu yang begitu bersih, setiap hari vibes nya kayak lebaran, beda dari kamar anaknya yang kek kapal ancur.
"Gilak! Padahal orang di rumah ini nggak banyak, tapi meja makannya panjang bener dah!" Maklum norak, soalnya rumahnya gak se gedek dan sebesar itu.
"Eh, Janu, ayo duduk di samping Alden" ucap ibunya Alden yang bernama Nina, dengan ramah.
Biasanya ia selalu tersenyum, tapi kini mulutnya terasa kaku, "Iya Tante," jawab Janu berusaha sesopan mungkin.
"Tante ambilin nasi, ya" Nina menawarkan.
"Oh, iya, Tante. Maaf ya janu ngerepotin" ucap Janu, merasa tak enak hati.
"Gak ngerepotin kok, justru Tante senang Janu mau main ke sini. Alden udah cerita banyak tentang kamu loh" ujar Nina sambil tersenyum.
Hah? Cerita banyak tentangnya? Janu harap sahabatnya itu tak cerita yang bukan-bukan tentangnya.
Ia hanya bisa tersenyum kecil sebagai jawaban, dia tak tahu harus merespon dan berkata apa lagi.
"Santai aja, Janu, gak usah terlalu tegang. Kamu Sering-sering main ke sini ya, kasian Alden gak punya teman di rumah" ucap Braham, ayah Alden ramah.
"Iya, Om, hehe." Janu berhasil tersenyum manis lagi, berusaha tetap tenang.
"Alden, sering-sering ajak Janu main ke sini, ya. Kalau perlu, ajak semua teman-teman kamu ke rumah"
"Siap, Papa!" Alden antusias memberi hormat pada ayahnya. Kehangatan keluarga kecil ini membuat hatinya menghangat, kapan ia dan Adi bisa seperti itu?
Tiba-tiba, kursi di sebelah Janu tertarik mundul. Seorang pria tampan dengan kulit yang putih duduk di sampingnya. Cowok itu lebih tampan dari Alden, sahabatnya itu aja udah putih tapi cowok di sebelahnya ini lebih putih lagi hingga buat anak cowok itu pangling, warna kulit keduanya tak berbeda jauh.
"Siapa wanita cantik ini? Pacarmu ya?" godanya pada Alden.
Alden melirik sekilas, "iya bang, gimana, cantik kan? ... Aaw, shh"
"Mang enak?" Janu melotot tajam setelah mencubit paha anak itu. "Eh, bukan, Bang. Gue cuma temen nya Alden," jawab Janu tersenyum.
Mendengar kata teman, Alden merasa hatinya sedikit perih, seperti tertusuk sesuatu, ia mau lebih dari itu. "Iya, Bang, dia itu bukan cewek, tapi cowok,"
Abang Alden melonjak kaget, "Kamu cowok? Kok cantik banget sih kamu? Udah putih, bersih, wangi lagi. Pacar Abang aja kalah cantiknya" godanya lagi, ia tak rasakan kalau ada sesuatu yang memanas disana.
"Hehe, makasih, Bang," jawab Janu malu-malu.
' Tumben Janu dipuji cantik gak marah? '
"Oh iya, kenalin, nama Abang Hersa" ujar cowok itu sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Nama aku Janu Pradipta, Bang. Panggil aja Janu," balas Janu sambil menjabat tangan Hersa, walau canggung tapi pantang baginya kalau tak membalas jabatan tangan orang lain.
Namun, Hersa tampak enggan melepaskan tangan Janu, sampai akhirnya...
"Bang!," tatapan tajam tertuju pada Hersa, tangan abangnya enggan lepasin tautan mereka.
Menyadari maksud tatapan Alden, Hersa dengan cepat langsung melepaskan tangan Janu dan tersenyum kecil, sedikit menggoda. Orang tua Alden hanya tersenyum melihat kelakuan kedua anak-anak mereka.
"Sudah, sekarang ayo kita makan malam bersama." ajak Nina dengan hangat.
"Siap, Ma," ucap Alden dan Hersa serentak.
"Iya, Tante," sahut Janu sambil tersenyum untuk kesekian kalinya.
••§••
"KEMANA LAGI TU ANAK! JAM SEGINI BELUM PULANG! ... GAK TAU APA AYAHNYA KELAPARAN DI RUMAH?" Adi mengamuk, uratnya jelas terlihat di kening juga leher, kedua tangannya tak henti-hentinya bersedekap dada.
"Awas kamu pulang nanti, habis kamu!"
••§••
Hati kecilnya sangat gelisah. Jika ia pulang sekarang, adi mungkin akan memarahinya habis-habisan, tapi jika ia tidak pulang, adi malah bisa saja jadi semakin murka. Apa yang harus ia lakukan?
Kalau boleh jujur, Janu tak ingin dimarahi lagi, tapi ia juga tak ingin membebani Alden sekedar menampung anak kampung seperti dirinya.
Dengan berat hati, akhirnya Janu memutuskan untuk pulang. Ia tak ingin berlalu lama berada di sana.
"Lo pulang sekarang?" tanya Alden, melihat Janu yang sedang memasukkan pakaian basah tadi ke dalam tas.
"Iya. Gue pulang aja, sorry ya udah ngerepotin."
"Kenapa gak nginep aja di sini? Ini kan udah malam. Nanti kalau lo kenapa-napa gimana? Terus kalau anak anak berandal tadi ngejar lo lagi, gimana?" Alden terlihat sangat mengkhawatirkan sahabatnya.
"Enggak lah, Al. Gue harus pulang. Bokap gue pasti nyariin lagi ... Oh ya, baju lo besok gue balikin, ya," ia berjalan menuju pintu.
Alden mengangguk dengan berat hati. "Ya udah ... gue anterin, ya," jawabnya tak bersemangat.
Janu menghembuskan nafas kasar sebelum akhirnya berbalik menatap Alden, "gak perlu, thanks ... Semoga mimpi indah!" Ujar Janu sebelum akhirnya benar-benar pergi dari hadapan Alden.
Remaja itu cuma bisa menatap punggung Janu yang semakin menjauh hingga hilang di balik pintu kamar yang perlahan menutup dengan sendirinya.
Tbc.
Thanks yang udah baca ceritanya 🥰🥰
Semua suka sama ceritanya, jangan lupa di vote...
KAMU SEDANG MEMBACA
Wings of dreams
Ficção AdolescenteJanu Pradipta, seorang remaja laki-laki yang hidupnya sih ribet, tapi asal masih bisa ngelawak bareng sahabat sahabatnya, ya ... It's oke, hidupnya tetap jalan. Tapi akhir-akhir ini dia mulai ngerasa aneh, kayak ... Kenapa jantungnya berisik begitu...
