chapter 14 🔞

389 47 2
                                        

Sebelum lanjut, kasih vote dulu yuk
Biar sama-sama enak, 😁

••§••

Hersa menaiki anak tangga tergesa-gesa menuju kamar adiknya, yang tadi terdengar berteriak. Sampai di depan pintu kamar yang sedikit terbuka, Hersa berhenti. Dia tidak langsung masuk, melainkan berdiri diam, memperhatikan kedua remaja di dalam. Janu dan Alden duduk berhadapan, saling menatap satu sama lain. Hersa memandang mereka bingung, terlebih saat melihat tangan Alden menyentuh pipi Janu. Apa hubungan keduanya?

"ALDEN!" panggilnya tiba-tiba

Alden melonjak kaget mendengar suara keras kakaknya, "Kenapa, Bang?"

"Oh ... Nggak ada. Udah selesai makannya?" tanya Hersa dengan nada tegas, seolah olah tak melihat pemandangan barusan.

"Belum, Bang. Alden nih susah kali disuruh makan doang!" jawab Janu ketus sambil mengarahkan sendok ke mulut Alden lagi, "Buka mulut lo, cepat!"

meskipun Alden sedikit kesal, tapi akhirnya dia menurut juga. Sesaat kemudian, Hersa melihat ke arah Janu, menyadari sesuatu yang mengganggu pikirannya.

"Tadi Lo kenapa teriak, Al?" Hersa, penasaran.

"Gue di cubit sama nunu. Sakit banget tau gak!" jawab Alden dengan ekspresi kesal, kedua alis tebalnya menyatu. Namun diselipkan senyum tipis.

"Siapa suruh nggak mau makan," jawab Janu ketus sambil memutar bola matanya malas.

Hersa tertawa kecil, menggelengkan kepala melihat tingkah kedua remaja itu. Namun, saat memperhatikan wajah Janu lebih dengan seksama, ia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Senyum di wajahnya perlahan menghilang, berganti menjadi khawatir. "Nu, bibir kamu pucat banget ... Kamu sakit?"

Janu meraba tubuhnya sendiri yang tak terasa panas, suhu tubuhnya tampak norma-normal aja. "Enggak, Bang. Gue nggak sakit" mulutnya berkata begitu, Padahal sejak tadi Janu udah menahan sakit kepala yang kian menjadi-jadi. Ia sengaja diam, tak ingin membuat Alden jadi khawatir, itu sebabnya ia memilih menahan diri.

Hersa tak yakin dengan jawaban itu. Ia mendekati Janu dan menempelkan punggung tangannya ke dahi sahabat adiknya untuk lebih memastikan lagi. "Kamu yakin? Tapi badan kamu panas. Kita ke dokter, yuk"

"gak!" kilah Janu, kedua tangannya menggenggam erat pinggiran piring kaca itu, "Al, gue boleh pinjam toilet kamar lo, gak?"

Alden mengangguk, "Pake aja."

Sebelum pergi, Janu mengambilkan obat dan segelas air untuk Alden dari atas lemari kecil samping ranjangnya. "Jangan lupa minum obat lo, biar cepat sembuh." Kedua saudara itu bingung sama Sifa Janu, mendadak nada bicara berubah ketus. Apa mereka buat kesalahan?

"Janu tuh orangnya pengertian juga, ya"

"Diem lu! ... Urus cewek Lo sana!"

••§••

Di dalam toilet, Janu merasakan nyeri hebat menghantam kuat kepalanya. Rasa mual tiba-tiba menyerang, membuatnya terpaksa mengeluarkan semua isi perut di wastafel. Tak lupa ia menyalakan keran agar suaranya tak terdengar.

Usai sama masalah mual, Janu mencuci tangan dan wajahnya di wastafel. Pantulan cermin menampilkan bibirnya tak lagi merah. Tubuhnya melemah, terduduk di lantai samping wastafel, berusaha menahan rasa sakit di kepala yang terus berdenyut.

"Buk ... kepala Janu sakit banget, Buk" gumamnya lirih.

••§••

Malam semakin larut, rencananya untuk pulang jadi tanda tanya lagi. Ruangan itu udah sepi dan gelap begitu ia keluar hanya diterangi sedikit cahaya bulan, dari balik tirai gorden berwarna biru menciptakan suasana yang tenang. Janu berjalan perlahan mendekati ranjang Alden yang sudah tertidur lelap.

Janu duduk memandangi wajah sahabatnya yang terlihat sangat damai "Diliat-liat, lo cakep juga, Al" celetuknya, hampir tanpa suara. Jantungnya mulai deg degan saat menyadari apa yang baru saja ia katakan. ' pengen gue tonjok ni orang, suka banget bikin orang deg degan '

Tak disangka, Alden langsung membuka mata dengar ucapan itu, "Lo juga cantik, Nu" balasnya sambil tersenyum tipis, membuat Janu tersentak kaget.

Deg!...

Perasaan deg degan dan panik muncul di benaknya. Janu berusaha menyangkalnya "Apasih Lo, Ya enggak lah."

Alden bangkit menyamakan posisinya sama janu, "gimana perasaan Lo tentang gue?"

Janu terdiam sejenak, hatinya berdebar tak karuan, "biasa aja ... Lu pikir gue homo?"

Cup!...

Bibir keduanya bertemu dalam ciuman yang lembut dan penuh kehangatan. Janu merasa jantungnya berdetak sangat kencang, pikiran Janu menyuruhnya untuk berhenti, tapi tidak dengan tubuhnya. Ia membiarkan Alden melakukan apa yang dia inginkan "Anghh ... " Satu desahan berhasil lolos di sela sela ciuman mereka.

Ujung bibirnya tertarik menyeringai, ia merasa Janu ikut terhanyut dalam ciuman lembutnya, semangat dia mengangkat tubuh yang lebih kecil darinya naik ke atas ranjang.

Cup! ... Cup! ... Cup!...

Tautan keduanya semakin memanas, "Anghh ... Al~" desahan Janu bagaikan alunan musik ditelinga nya.

Tbc.

Lanjut apa gak nih, adegannya?
Atau sampai sini aja adegannya?
Jangan lupa vote dan komen ya...

Wings of dreams Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang