Di malam yang tenang, cahaya lampu di kamar Love terasa lebih redup dari biasanya, menciptakan suasana yang aneh. Pansa, dengan handuk kecil di tangannya, berdiri di samping ranjang Love, berusaha tetap profesional meskipun perasaan canggung begitu terasa di udara. Love, yang duduk di atas ranjang, memandang Pansa dengan senyum yang dia coba sembunyikan, tapi tidak berhasil. Wajahnya mulai memerah, dan matanya berkilat penuh godaan, seperti sedang menahan tawa.
Pansa, yang berusaha mengelap lengan Love, tiba-tiba merasa tangannya kaku. Setiap gerakannya terasa kikuk, terutama karena Love terus menatapnya dengan tatapan nakal. Love menggigit bibir bawahnya, mencoba terlihat serius, tapi malah membuat Pansa semakin grogi. Tangannya hampir terlepas dari handuk saat dia mengelap bahu Love, namun Love malah bergumam aneh dan merinding.
Tiba-tiba, Love bergerak sedikit, pura-pura menggeliat dengan suara pelan yang sengaja dibuat dramatis. Pansa langsung melompat mundur, hampir tersandung kaki meja. Mereka berdua saling pandang sejenak, sebelum Love akhirnya tak bisa menahan tawa kecil yang keluar dari bibirnya, sedangkan Pansa hanya bisa menutup wajah dengan tangan, merasa setengah malu setengah kesal. “Nih! Kamu lap sendiri aja lah, Love!” omelnya sambil menyodorkan handuk kepada sahabatnya itu.
“Kok!? Kenapa begitu!?” balas Love tak kalah sengitnya.
“Ya lagian, ngapain kamu liatin aku kayak gitu!? Terus ngapain kamu mendesah kayak gitu!?”
“Geli, Milk! Gimana aku gak mendesah!”
“Kemarin-kemarin kamu gak begitu ya!”
“Itu kan kemarin! Hari ini beda, Milk!”
“Enggak mau tau! Pokoknya kamu lap sendiri aja!”
“Aku pasien, Milk! Masa pasiennya mandi sendiri!?”
“Lah, kemarin kamu ngelap sendiri ya!”
“Udah aku bilang, itu kan kemarin, Milk!”
Pansa kehabisan kata-kata, keduanya saling menatap dengan sengit beberapa lama.
“Ya udah, aku lanjutin. Tapi jangan liatin aku kayak gitu,” ucap Pansa akhirnya.
Love tersenyum penuh kemenangan. “Oke. Ayo dimulai, Suster Pansa,” goda Love sambil mencondongkan dadanya.
Pansa mendengus. “Merem!”
“Oke, nih aku merem.” Love memejamkan matanya, sambil tersenyum tertahan.
Pansa dengan ragu-ragu mendekatkan tangannya ke bagian atas dada Love. Namun, baru tersentuh dan terelus sedikit saja…
“Ahh….” Love mendesah dan sebuah handuk langsung mendarat di wajahnya.
***
“Kamu kejam banget sih, Milk. Udah muka aku kamu tabok pakai handuk, disuruh ngelap sendiri lagi,” keluh Love pura-pura bersedih sebelum menyeruput minuman coklatnya. Dia dan Pansa duduk di sofa, menikmati camilan yang mereka beli sore tadi di supermarket bawah.
“Masih mending aku tabok pakai handuk, ya, Love. Daripada aku siram pakai air!” balas Pansa yang sudah mengenakan baju tidurnya, sambil menyeruput minumannya.
Love terkekeh. “Besok mandiin lagi ya, Milk.”
“Gak mau kalau kamu masih kayak tadi! Lagian kamu udah kuat berdiri agak lama. Mandi sendiri sana di kamar mandi, Love.”
“Gak ah, enakan sama kamu,” goda Love, lalu tertawa lagi.
Pansa hanya bisa mencemberutkan wajahnya. Lalu mereka kembali menikmati minuman coklat hangat masing-masing. Aroma manis coklat berpadu dengan kayu manis dari whipped cream yang bertabur di atasnya, menciptakan suasana hangat yang sempurna. Di layar televisi, suara pelan dari kartun Bluey mengisi ruang itu dengan cerita ringan tentang keluarga dan persahabatan, membuat keduanya sesekali tersenyum. Namun, bukan tayangan itu yang menarik perhatian mereka, melainkan kenyataan bahwa mereka bisa duduk berdua lagi, menikmati momen ini setelah banyaknya jarak dan ketidakpastian di antara mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bunga-Bunga Kecil
Fiksyen PeminatSahabat masa kecil yang terpisah akhirnya bertemu kembali saat remaja. Namun, bukannya menjadi akrab kembali, yang satu malah menjadi pelaku pem-buli-an, sedangkan yang satunya lagi menjadi korbannya. Setelah berpisah lagi selama sepuluh tahun, kedu...
