Halo semuanya, saya mau mengucapkan terima kasih banyak kepada kalian yang sudah baca, vote dan bahkan komen sampai saat ini.
Akhirnya, kita sampai di bagian 16, dan ini adalah bagian yang, bagi saya, paling susah buat diketik. Entah sudah berapa kali saya hapus ketik, hapus ketik, baca ulang, edit dan edit lagi. Dan, yahhh, saya memutuskan bahwa ini hasil yang terbaik.
Jadi, tolong bantu vote bagi yang belum, dan saya tunggu komen kalian mengenai bagian ini. See ya!
________________________________________________
*
*
*
*
*
Di dalam ruang perawatan yang sunyi, alunan musik klasik di atas sebuah gramofon mengalir dengan indah, lembut dan penuh perasaan, menyelimuti ruangan dengan melodi yang sendu. Suara piano yang perlahan-lahan mengiringi biola menciptakan harmoni yang mendalam, dan suara penyanyi dari lagu yang ingin didengar Madam Lee terdengar menyesakkan dada, menjadi pengiring bagi detik-detik terakhir wanita tua itu. Cahaya lampu yang temaram mempertegas suasana, menghadirkan keheningan yang berat. Di tengah suasana ini, alat-alat penunjang hidup Madam Lee telah dilepas, meninggalkan ruangan dengan hanya suara mesin monitor jantung yang menunjukkan garis lurus.
Bright berdiri di dekat tempat tidur, tubuhnya tegap, namun rahangnya terlihat mengeras menahan segala emosi yang bergejolak di dalam dirinya. Dia menatap wajah neneknya dengan mata yang penuh kegetiran, berharap ada sedikit keajaiban yang mengubah segalanya, meski dia tahu harapan itu telah sirna.
Sebagai perawat Madam Lee, Pansa dan June juga ada di dalam ruangan. Pansa duduk di samping Bright, tubuhnya kaku dan tangannya menggenggam erat lututnya. Dia mencoba tetap kuat, namun matanya berkaca-kaca saat menatap Madam Lee yang begitu tenang di tempat tidurnya. Hatinya penuh dengan kesedihan yang tak terbendung, namun dia berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh. Setiap nada yang dimainkan oleh pemutar musik piringan hitam semakin menekankan perasaan perpisahan ini. Pansa ingin berdiri, ingin menguatkan Bright yang tampak begitu sendirian dalam kepedihan ini, namun kakinya terasa berat, seperti tertancap di lantai.
June, yang berdiri di sudut ruangan, tidak mampu lagi menahan tangis. Dia melangkah pelan mendekati Pansa, sebelum akhirnya runtuh, memeluk bahu temannya dengan air mata yang tak tertahankan lagi. Isakan tangis June terdengar lirih, namun begitu menyayat hati. Pansa tidak punya kata-kata untuk menenangkannya, dia hanya bisa mengulurkan tangan, merangkul June erat-erat sambil menatap kosong ke arah tempat tidur. Suara tangisan June bercampur dengan melodi yang terus mengalun, menciptakan atmosfer yang begitu emosional. Pansa menutup matanya sejenak, mencoba mengendalikan dirinya, tapi perasaan kehilangan itu semakin menghantam.
Ketika monitor jantung akhirnya menunjukkan garis lurus tanpa suara, waktu seakan berhenti sejenak. Ruangan terasa semakin sunyi, hanya menyisakan suara musik klasik yang masih terus mengalir. Pansa, dengan June yang masih menangis di pundaknya, menoleh ke arah Bright, melihat bagaimana pria itu hanya berdiri diam, mematung, meskipun matanya penuh dengan kepedihan. Ruangan itu kini hanya dipenuhi kesedihan mendalam, di mana setiap orang di sana tahu, bahwa ini adalah akhir dari segalanya bagi Madam Lee, seseorang yang begitu berarti dalam hidup mereka.
***
Keesokan harinya, Love, Tu dan Ren mengunjungi Bright di rumah duka yang masih terletak di dalam kawasan rumah sakit. Love sebenarnya tidak terlalu dekat dengan Bright, dan tujuan sebenarnya dia datang hanya karena ingin melihat Pansa, yang sudah tidak berkomunikasi dengannya selama beberapa hari. Meskipun masih kecewa karena kebohongan Pansa, dan kepada dirinya sendiri, tetap saja hatinya tidak bisa bohong. Dia merindukan sahabat masa kecilnya itu.
Setelah melewati parkiran, koridor dan lorong yang panjang, ketiganya sampai di ruangan persemayaman Madam Lee. Ruangan itu dipenuhi dengan kesunyian yang khidmat, meski tidak terlalu ramai oleh pelayat. Beberapa meja disediakan untuk pelayat berkumpul sambil menikmati minuman dan camilan. Dan beberapa kursi disusun rapi menghadap ke peti yang diletakkan di belakang ruangan, dihiasi bunga lili putih yang harum lembut namun tenang. Cahayanya terang, menciptakan suasana cerah. Hanya ada suara langkah pelan dari beberapa tamu yang datang dan pergi, dengan wajah-wajah yang menyimpan duka yang tidak terlalu kentara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bunga-Bunga Kecil
Fiksi PenggemarSahabat masa kecil yang terpisah akhirnya bertemu kembali saat remaja. Namun, bukannya menjadi akrab kembali, yang satu malah menjadi pelaku pem-buli-an, sedangkan yang satunya lagi menjadi korbannya. Setelah berpisah lagi selama sepuluh tahun, kedu...
