Sabtu pagi, Pansa terbangun lebih awal dari biasanya. Matahari baru saja menyentuh langit, sinarnya lembut menembus celah ventilasi di rumahnya. Setelah meregangkan tubuh di tempat tidur, dia mengucek-ngucek matanya, lalu menguap kembali sekali. Merasa kesadaran kembali lagi, dia langsung tersenyum. Hari ini adalah harinya sendiri, tidak ada shift, tidak ada pasien. Me-time.
Pansa bangkit dari tempat tidur, keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur, memutuskan untuk membuat secangkir kopi. Sambil menunggu air mendidih, dia membuka jendela di ruang tamu, membiarkan udara pagi yang sejuk masuk. Dia duduk di sofa dengan cangkir kopi di tangan, menikmati momen tenang sambil mendengarkan musik akustik di layar televisi. Tidak ada suara bising rumah sakit, hanya suara kehidupan kota yang perlahan mulai bergeliat. Sementara June, gadis berbibir indah itu sudah pasti masih tertidur pulas, setelah semalam pulang larut, sehabis pacaran dengan View.
Setelah beberapa waktu bersantai, Pansa mengganti pakaian jogingnya dan keluar dari rumah. Dia menyusuri jalan-jalan yang sepi, merasakan angin yang sejuk menerpa wajahnya saat dia berlari ringan di sepanjang taman kota dan kompleks stadion sepakbola. Sesekali dia berhenti untuk mengatur napas, menikmati pemandangan hijau, dan melanjutkan lagi. Setelah sekitar dua jam berolahraga, Pansa menyelesaikan larinya di sebuah kafe kecil yang tenang, di sebuah kompleks perumahan, dan memesan segelas susu hangat untuk melepas lelah. Dia berbincang sejenak dengan bartender sekaligus pemilik kafe, yang merupakan temannya juga.
Di kafe kecil itu, Pansa menemukan sudut yang tenang di dekat jendela, duduk dengan nyaman sambil menikmati minumannya. Tempatnya tenang, dengan suara pelan musik jazz mengalun di latar belakang. Dia membuka ponselnya, melihat berita terbaru, beberapa memuat tentang Love setelah keluar dari rumah sakit. Ada yang memuat konferensi pers yang dia adakan, ada juga yang memberitakan tentang perjuangan Love melawan depresinya, dan betapa pentingnya kesadaran masyarakat akan kesehatan mental di jaman sekarang. Pansa tertawa kecil membaca sepenggal wawancara Love. Pewawancara menanyakan tips untuk bangkit dari keterpurukannya, dan Love menjawab singkat, “temukan cintamu.”
Puas membaca berita terkini, Pansa memeriksa notifikasi dari rekan-rekan kerjanya, namun tak ada yang mendesak. Sesaat kemudian, Pansa menutup ponselnya, memutuskan untuk benar-benar menikmati waktunya sendiri. Namun baru sebentar saja, ponselnya bergetar beberapa kali, tanda ada yang mengirimkannya pesan. Dia membuka ponselnya kembali, senyumannya mengembang ketika melihat ada beberapa pesan masuk dari Love, yang menanyakan keberadaannya dan mengingatkan kalau malam ini mereka akan makan malam bersama kedua orang tua Love. Pansa segera membalasnya, dan setelah bertukar pesan beberapa menit, Love mengabari kalau dia harus segera ke suatu tempat, dan mengatakan kalau nanti siang dia akan ke rumah Pansa untuk menjemputnya. Pansa mengiyakan pesan tersebut, dan memintanya untuk berhati-hati di jalan.
Seusai menikmati susu hangatnya, dia melihat menu makanan. Setelah mempertimbangkan beberapa opsi, Pansa memutuskan untuk memesan salad quinoa dengan salmon panggang. Saat menunggu makanannya tiba, dia menyibukkan diri dengan buku kecil yang dibawanya dari rumah, sebuah novel yang sudah lama ingin dia baca.
Ketika makanannya tiba, aroma segar dari salmon panggang dan sayuran langsung memenuhi udara. Pansa menyantapnya perlahan, menikmati setiap suapan. Dia merasa bersyukur memiliki waktu untuk dirinya sendiri, jauh dari hiruk-pikuk pekerjaannya di rumah sakit. Setelah menyelesaikan makanannya dan merasa kenyang, dia duduk beberapa menit lagi, menikmati suasana sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumahnya dan June.
***
Di ruang tamu yang hangat namun penuh ketegangan, Pansa, June, dan View duduk mengelilingi meja rendah, di mana menara Jenga berdiri rapuh. Setiap gerakan terasa lambat, dihitung dengan cermat. Suara detak jam di dinding terdengar jelas, ikut menghitung waktu menuju kejatuhan blok berikutnya. Tangan June bergerak hati-hati, memegang napasnya saat dia menarik satu blok dari bagian tengah menara. Blok bergoyang sedikit, membuat View menggigit bibir dan Pansa menahan napas. Ketegangan di antara mereka meningkat saat June perlahan menarik bloknya keluar. Tidak ada yang berani berbicara, bahkan nafas terdengar lebih pelan. Ketika blok akhirnya berhasil keluar dan tersusun di atas tanpa menjatuhkan menara, semua langsung menghela napas lega.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bunga-Bunga Kecil
FanfictionSahabat masa kecil yang terpisah akhirnya bertemu kembali saat remaja. Namun, bukannya menjadi akrab kembali, yang satu malah menjadi pelaku pem-buli-an, sedangkan yang satunya lagi menjadi korbannya. Setelah berpisah lagi selama sepuluh tahun, kedu...
